Kesayangan imodeul 889line, Alika Putri Natakesuma 😘 titip cium sudah dilaksanakan~ #baby #putri #thenatakesuma #889line #family
seen from Singapore

seen from Singapore

seen from Malaysia

seen from Pakistan

seen from Malaysia
seen from Hong Kong SAR China
seen from Belarus
seen from Netherlands
seen from China

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from China
seen from China

seen from Japan
seen from Netherlands
seen from United Kingdom
seen from South Korea

seen from Netherlands
Kesayangan imodeul 889line, Alika Putri Natakesuma 😘 titip cium sudah dilaksanakan~ #baby #putri #thenatakesuma #889line #family
Life is like a movie and you're take a part in my life. Barakallah fii umrik eon @mtnisaaa many happy returns~ 😄 #friendship #family #889Line
We're crazy (without) crab 😂 #Seafood #SingaporeSauce #crazycrabid #889Line (at Crazy Crab Palembang Icon)
Alhamdulillah tercapai meet up #889Line 😘😘😘 Barakallah semua langgeng sehat wal afiat sampai ketemu lagi~ 😄 #friendship #family #889Line @nuningabe @mtnisa @anjani_rizky @ghyuphi @dasihitaraa
@ghyuphi #Happypeweday #내사랑하는언니 #행복합니다 #펩니외카루리타생일축하해 #889Line @anjani_rizky @dasihitaraa @mtnisa @nuningabe #우리행복하자용원하고 ㅋㅋㅋ
Temperamental Cinderalla
Temperamental Cinderella
Author : 815Soo Main Cast : Cho Eunjae, Lee Junho (2PM) Supported Cast : Han Taera, Lee Mirae, Lee Haeju, Cho Eomma Genre : General; Romance, Comedy, Fluff Type : Oneshot a/n : Hello~ ㅋㅋㅋ EunHo hot headed couple is here~ enjoy~ ㅋㅋㅋ
***
"Eunjae? Aku sudah bawa buku yang kau pesan. Kita bertemu di The Min’s saja, OK?" Taera berkata jelas dari pengeras suara ponsel milik Eunjae.
"Eh, OK!" Eunjae membalasnya.
Taera yang datang ke Korea untuk mengurus kelulusannya atas gelar ganda di Italy menyempatkan diri menemui sahabatnya, well, sebenarnya karena buku yang Eunjae pesan. Temannya itu mungkin tidak tahu, tapi The Min’s milik 2AM Changmin ini adalah salah satu tempat yang paling sering Eunjae kunjungi. Eunjae melangkah ringan dari ruang kerjanya. Ia menyapa beberapa rekan kerjanya yang masih berkutat dengan render dan modelling. Jarak The Min’s dan kantornya hanya berbatas jalan raya. Karena itu tidak butuh waktu lama baginya untuk sampai ke Cafe sehat itu.
"Eunjae? Kau datang bersama klien lagi? Waah, poyekmu lancar ya." Sapa Changmin yang kebetulan sedang ikut membantu di cafenya sendiri.
"Eh, iya~ Tidak, kali ini bersama teman. Hehehe, terima kasih. Semoga cafe juga semakin laris." Jawab gadis dengan senyum malu- malu itu.
"Sama- sama. Ah, aku ke pelanggan dulu. Sedikit sibuk, ada dua pelayan yang tidak masuk. Jadi, sedikit kekurangan tenaga. Haha, selamat datang." Kemudian Changmin sudah berlalu menuju meja pelanggan.
Eunjae melangkah menuju meja kosong di bagian agak sudut ke belakang. Ada ruang yang dekat dengan taman dan hanya terdapat tiga meja saja. Satu meja untuk empat orang dan dua meja untuk dua orang. Eunjae melewati meja untuk empat orang yang sudah berisi dua orang. Kedua pelanggan itu tampak seperti seorang ibu dan anak perempuannya. Tapi wajah keduanya tidak terlihat oleh eunjae dan ia meneruskah langkahnya ke meja yang di dekat taman. Bagian ini hanya diperuntukkan bagi pelanggan yang ingin duduk lebih nyaman tanpa alas kaki.
Setelah lima belas menit menunggu, Eunjae mulai mendengar kedua pelanggan di dekaynya berbisik- bisik dan itu membuatnya sedikit terganggu sehingga akhirnya ia menoleh.
"Benarkan, Cho Eunjae?" Ibu itu menyapanya lebih dulu dan Eunjae melihat wajah terkejut gadis disamping ibu itu.
"Ya, maaf. Tapi apa saya mengenal anda?" Jawab Eunjae sedikit bingung.
"Maaf, Ibuku terlalu bersemangat. Perkenalkan aku Lee Haeju. Aku tidak sempat datang ke pesta yang lalu. Apa kau masih ingat ibuku?" Gadis bernama Lee Haeju ini tampak seperti model. Wajahnya cantik dan senyumnya ramah. Ia juga tinggi dan sopan.
"Maaf, aku tidak pandai mengingat wajah. Tapi jika aku diberikan sebuah nama, aku pasti bisa mengingatnya. Sekali lagi maafkan aku." Jawab Eunjae malu- malu.
"Sayang sekali, pasti karena ulah adikmu gadis itu jadi tidak mengingat ibu." Bisik ibu itu pada Haeju, sayangnya dengan jelas dapat di dengar oleh Eunjae.
"Maaf, Eunjae. Ibu dan adikku pernah bertemu denganmu dan ibumu di acara pernikahan Han Tara dan Kim Junsu. Nama ibuku adalah Lee Mirae." Jelas Haeju pada Eunjae dan saat itu pula Eunjae mengingat kejadian satu bulan yang lalu di acara pernikahan Han Tara, sahabatnya dan juga Taera.
- flash back -
"Perkenalkan, dia anak laki- lakiku. Namanya Lee Junho." Ibu Lee menunjuk seorang pemuda ber tuxedo tanpa dasi yang kemudian berjalan ke arah ibunya, Eunjae dan Ibu Eunjae.
"Selamat malam. Aku Lee Junho. Senang bertemu dengan anda." Pemuda itu membungkuk ramah pada ibu Eunjae dan mengangguk pelan saat menatap Eunjae.
Melihat tingkah Junho, Eunjae segera saja merasa tidak senang dan tanpa membalas salam Junho, Eunjae meminta ijin ke kamar kecil pada ibunya dan meminta diri pada Ibu Lee. Keduanya mengijinkan Eunjae, hanya Junho yang melirik tajam ke arah Eunjae. Eunjae yang semakin kesal hanya bisa terburu- buru pergi ke toilet dan menumpahkan kekesalannya pada cermin yang tak bersalah.
"Dasar pendek!" - Sebenarnya Lee Junho termasuk tinggi, hanya saja bagi Eunjae, ia termasuk pendek. “Matanya sampai hilang saat ia menyapa, Ha ha ha.” - Eunjae sama seperti Junho, hanya saja ia sedang kesal. “Sombong sekali!” - Ini akibat Junho yang hanya mengangguk saat menyapanya. “Aku tidak akan pernah mau dijodohkan dengan orang seperti dia.” - Ini, sebenarnya rahasia, karena Ibunya bilang ingin memperkenalkan anak temannya yang mungkin bisa menjadi jodohnya.
Eunjae yang sudah cukup tenang merapikan penampilannya dan keluar dari toilet hanya untuk tidak sengaja mendengar percakapan yang menarik perhatiannya.
"Namanya Eunjae, tidak, dia tidak lebih cantik dari Noona. Aku tidak mau." Punggung yang dilihat Eunjae adalah punggung milik Lee Junho. Entah siapa yang diajak laki- laki yang baru sesaat lalu membuat darahnya naik itu berbicara, tapi pembicaraan itu membuatnya tersinggung.
Eunjae meninggalkan lelaki itu dan menunggu agak jauh dari koridor di dekat meja minuman. Saat Eunjae melihat ia keluar dari koridor, gadis itu meraih dua gelas minuman dan bermaksud mengerjai lelaki itu. Sayang, takdir tidak berpihak padanya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak malu memeluk lelaki yang baru sekali kau temui?" Junho menatap wajahnya sangat dekat.
Eunjae tersandung karpet, kedua gelas yang dipegangnya terlepas dan tepat saat Junho berbalik, ia menangkap Eunjae di dalam pelukannya. Eunjae yang baru sadar saat Junho menanyainya segera saja melepaskan diri dari lelaki itu.
"Aku tidak bermaksud memelukmu! Bodoh!" Saat itu Eunjae begitu saja meninggalkan Junho dan menuju ke Ibunya.
Junho hanya memandang gadis itu dengan santai dan melihatnya pergi bersama ibunya. Saat ia melangkah ada sesuatu yang membuatnya menunduk ke lantai. Sebelah sepatu pesta wanita tergeletak di dekatnya. Junho mengambilnya dan seorang pelayan mendekatinya.
"Sepatu ini adalah milik nona yang barusan, tuan." Kemudian membungkuk dan meninggalkannya.
Junho membawanya dan berjalan mendekati ibunya. Saat keduanya sampai di lobby hotel, ibunya memukul Junho dengan tas tangannya.
"Apa yang kau lakukan pada gadis itu?" Ibunya menatap kesal pada Junho.
"Apa maksud ibu? Aku baru akan mengembalikan sepatunya pada resepsionis hotel." Jawab Junho ringan dengan sedikit meringis akibat pukulan ibunya.
"Tidak. Kau harus mengembalikannya sendiri. Ibu tidak mau tahu. Atau ibu tidak akan makan sampai kau mengembalikannya." Jawab ibunya.
Junho tidak dapat menolak ancaman ibunya tapi ia juga malas mengembalikan sepatu itu pada gadis yang tidak menganggapnya dan juga tidak berterima kasih padanya. Pada akhirnya Junho membawa sebelah sepatu pesta itu bersamanya dan ibunya.
- end of flash back -
Ring.
Eunjae mengerjap dan akhirnya mengingat wajah ibu Lee dan anak gadisnya yang terlambat ia sadari sangat mirip dengan lelaki menyebalkan bernama Lee Junho. Saat kedua perempuan di hadapannya saling pandang dan hendak bertanya. Dering ponsel Eunjae bersuara lagi.
Ring.
Eunjae membungkuk dan meminta diri untuk mengangkat ponselnya.
"Ya, halo? Tidak, aku masih di Cafe. Kau terlambat? Ban-mu pecah? Biar aku saja yang menemuimu, sebutkan posisimu sekarang." Eunjae mencatat posisi yang disebut Taera dan menutup teleponnya.
"Ah, maaf sekali. Ibu Lee dan Haeju-ssi, aku harus pamit lebih dulu. Semoga kita bisa bertemu lagi lain waktu. Permisi." Eunjae berkata terburu- buru dan berdiri serta membungkuk pamit.
Eunjae berjalan dan memakai sepatunya tanpa melihat lagi sepatu siapa yang ia kenakan. Sambil berjalan dan merapikan kait sepatunya, Eunjae melihat Changmin yang sedang mengobrol di depan kasir di dekat pintu keluar. Ia ingin menyapanya, tapi ada yang aneh dengan sepatunya dan sebelum ia sadari apa yang akan terjadi, ada tangan yang menahan tubuhnya dengan melingkarkan tangan di perutnya. Eunjae bisa melihat Changmin yang menoleh dan terkejut menatapnya. Tapi, ia kemudian tersenyum dan sedikit mengangguk. Eunjae menoleh ke belakang untuk mengetahui siapa yang menahan tubuhnya yang hampir terjatuh.
"Apa kau tidak bosan untuk jatuh ke depan?" Sapaan tidak enak itu didapatnya dari pemuda menyebalkan yang tidak ingin ditemuinya lagi di manapun, bahkan di neraka sekalipun
"Lepaskan aku." Bisik Eunjae yang menahan geramannya.
"Apa kau tidak bisa mengucapkan terima kasih?" Tanya Junho dengan ketus sambil membantu Eunjae berdiri tegap dan melepaskannya.
"Terima kasih." Jawab Eunjae ketus dan nyaris tak dapat di dengar.
"Aku anggap kau sudah mengatakannya." Junho membalasnya. Eunjae hanya memutar bola matanya dan berjalan ke arah pintu keluar.
Saat sudah di depan cafe, Eunjae melipat tangannya di depan dadanya dan mengeluh kesal. Tapi lebih dari itu, tampaknya sepatu yang dikenakannya jadi lebih longgar dari sebelumnya. Sebelum sempat memeriksa sepatunya, Eunjae melihat Junho berjalan ke arah pintu keluar sambil melihatnya. Saat itu juga, Eunjae berlari dan meninggalkan teras cafe. Eunjae menghentikan sebuah taksi dan masuk kedalamnya meninggalkan Junho yang berlari mengejarnya.
Ring.
"Kau sudah di mana?" Taera bertanya cemas.
"Di taksi, daerah hongdae. Aku tadi hampir dikejar psikopat. Nanti kuceritakan." Eunjae menjawab sambil menoleh untuk melihat Junho yang berhenti berlari kemudian memegangi lututnya dan diakhiri dengan bertolak pinggang.
***
Junho berjalan kembali ke The Min’s untuk menemui ibu dan kakak perempuannya. Berjalan terengah karena mengejar Eunjae tapi terlambat karena gadis itu sudah menaiki taksi.
"Bagaimana? Apa kau berhasil menemuinya?" Ibu Junho bertanya mendahului Haeju yang baru membuka mulutnya.
"Tidak. Gadis itu cepat sekali. Bahkan untuk gadis yang mengenakan sepatu yang longgar." Junho menerangkan.
"Junho, kau lihat ini?" Haeju menunjukkan sepasang sepatu yang di pegangnya.
"Apa ibu dan Noona mengerjaiku? Jika sepatu noona ada di sini, untuk apa aku mengejar gadis itu?!" Junho mengomel pada kakak perempuannya. Tetapi Haeju hanya tertawa kecil dan Ibunya tersenyum.
"Kau masih mengenali sepatu yang kau berikan padaku, kan? Jadi, ini bukan sepatuku Junho. Sepatu ini milik Eunjae. Aku mengenakan satu nomor yang lebih besar darinya." Haeju menjelaskan sepatu itu pada Junho.
"Benarkah?" Junho masih menatap kesal, tapi ia tetap memeriksa ukuran sepatu itu. Benar saja, sepatu mereka sama persis. Tetapi Eunjae mengenakan nomor yang lebih kecil dari kakaknya.
"Junho, apa sebelah sepatu Eunjae sudah kau kembalikan?" Ibunya bertanya dengan tiba- tiba. Sehingga membuat Junho kehilangan pertahanan dan tampak gugup.
"Su- sudah. Tentu saja sudah. Apa ibu tidak percaya padaku? Aku sudah mengantarkannya ke rumah gadis itu." Jawab Junho terpaksa berbohong.
"Tapi aku melihat se-" Haeju baru akan mengungkapkan keberadaan sebelah sepatu Eunjae dan Junho buru- buru menutup mulut kakaknya.
"Sepatu yang baru? Aku akan membelikannya untuk noona." Sambung Junho yang mendapat anggukan paksa dari Haeju.
"Kau tahu, Junho. Ibu dan Ibu gadis itu berencana menjodohkan kalian. Ibu tidak ingin kau menolaknya lagi. Jadi, perbaiki hubunganmu dengan gadis itu." Ibu Junho manatapnya sungguh- sungguh dan berjalan ke mobil. Sementara Haeju dipinjamkan sendal oleh Changmin dan Junho menjinjing sepasang sepatu milik Eunjae.
***
Eunjae sedang menikmati kopi favorit nya saat ia teringat perkataan Taera tadi sore.
'Eunjae, mengapa kau bisa sampai tertukar sepatu? Mengapa kau jadi ceroboh? Apa saat itu kau sedang melihat Yesung berjalan di luar cafe?'
Tidak, bukan Yesung yang bersuara indah yang membuatnya tidak memperhatikan sepatu yang ia kenakan, tapi sebuah nama lain. Eunjae berjalan ke pintu depan dan mengambil sepasang sepatu yang mirip dengan sepatunya, hanya saja sepatu itu lebih besar satu nomor dari miliknya. Eunjae membawa sepatu itu ke kamarnya dan mengambil sebuah kotak sepatu kosong dengan beberapa guntingan kertas yang menggumpal sebagai penahan.
"Ini yang kedua kalinya, ya?" Gumam Eunjae yang bertanya pada dirinya sendiri.
Eunjae kemudian meraih kotak sepatu lain yang berwarna perak dan membuka tutupnya. Di dalamnya terdapat sebelah sepatu pesta yang sudah satu bulan tidak pernah dipakainya lagi. Pasangannya terlepas saat di pesta pernikahan Tara dan ia tidak berminat untuk mengambilmya kembali. Terutama karena mata yang memandangnya dan juga karena pemuda bodoh bernama Lee Junho. Eunjae memandangi kedua kotak yang terbuka itu dan tanpa sadar ia tersenyum tipis.
Dalam kasus kedua sepatu tersebut, sebenarnya Lee Junho tidak bersalah. Bahkan seharusnya Eunjae tetap berterima kasih karena sudah dua kali Junho menangkapnya hampir terjatuh di lantai dan membuat dirinya lebih malu lagi. Sayangnya ego Eunjae bergerak lebih cepat dari pada ketulusan hatinya dan membuat dirinya semakin kesal terhadap Junho.
"Sepatu ini milik kakak perempuannya. Haruskah aku mengembalikannya dan meminta maaf pada Haeju atas kecerobohanku?"
"Junho, bukankah seharusnya ia mengembalikan sepatuku juga? Itu sepatu pesta pertama yang kubeli dari hasil keringatku sendiri."
"Haeju pasti kesulitan karena sepatuku yang kekecilan di kakinya. Ah, aku merasa bersalah sekali."
"Itu karena Junho, maka Haeju terpaksa menerima sepatuku yang kekecilan itu."
"Pssst, kau sedang apa?" Taera memasuki kamar dengan handuk menyelimuti rambut dan kepalanya.
"Taera-ya. Aku pasti sudah gila." Rengek Eunjae dan membenamkan wajahnya ke teddy bear di sebelahnya.
"Mungkin saja. Terutama jika kau terus- menerus berbicara sendiri seperti tadi." Balas Taera acuh tak acuh dan mendapat tatapan tajam dari Eunjae.
"Aah, aku mengantuk. Selamat tidur." Taera menghindari Eunjae dan pergi untuk tidur lebih dulu.
***
Hari minggu pagi memang menyenangkan. Eunjae tidak perlu bangun pagi- pagi untuk mempersiapkan diri dan berangkat ke kantor. Ia akan bangun lebih siang dan turun saat ibunya sedang memasak untuk makan siang. Tapi hari ini Eunjae sudah beberapa kali mengabaikan panggilan ibunya dan dua kali panggilan Taera untuk membangunkannya.
"Apa kau benar- benar tidak mau turun? Kalau begitu aku saja yang akan menemaninya." Itu adalah kata- kata yang berhasil Eunjae ingat saat ia berhasil membuka matanya dengan kepala sedikit pusing.
Eunjae akhirnya berhasil mengumpulkan kesadarannya dan turun dari tempat tidur. Ia keluar dari kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Tanpa membuka matanya atau menoleh ke sekitarnya, Eunjae berjalan perlahan dan masuk ke kamar mandi. Sementara dua orang di ruang tamu yang dapat melihat ke ruang keluarga yang baru saja di lalui Eunjae terdiam. Sementara ibu Eunjae mengetuk perlahan kamar mandi yang di dalamnya Eunjae masih menatap lesu kaca washtafel.
"Eunjae, Junho dan Taera menunggumu di ruang tamu. Jangan terlalu lama di kamar mandi." Ibunya kemudian kembali ke dapur dan menyiapkan snack pagi serta sarapan khusus untuk Eunjae.
"Junho? Junho siapa? Lee JUNHO!" Saat Eunjae sadar, tangannya menyenggol gelas sikat dan pasta gigi hingga membuatnya jatuh ke lantai kamar mandi.
Ibunya menoleh kaget sambil memegang tutup panci sup dari dapur tanpa bergerak. Taera dan Junho menoleh ke arah ruang keluarga dan sebelum Taera menoleh ke arah Junho, pemuda itu sudah berdiri dan melangkah ragu.
"Apa dia baik- baik saja?" Junho akhirnya berhenti dan bertanya pada Taera.
"Aku rasa ia hanya menjatuhkan barang. Hahaha." Taera tertawa canggung dan akhirnya berhasil membuat Junho duduk kembali.
Setelah 45 menit berlalu, Eunjae keluar dari kamar mandi dengan piyama yang basah. Eunja sempat berjalan mondar mandir sebelum melalui ruang keluarga menuju kamarnya. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk berjinjit agar langkahnya tidak menarik perhatian Junho dari ruang tamu. Sayangnya Junho sudah dari tadi berada di meja makan bersama Taera dan Ibunya. Ibunya dan Taera berhenti mengunyah karena melihat Eunjae yang tidak menyadari mereka. Sementara Junho dengan sopan terus melahap makanan yang disajikan oleh Ibu Eunjae. Eunjae hampir saja terpeleset jatuh saat ia menyadari Junho sedang makan di meja makan dengan posisi membelakanginya. Dengan sangat perlahan Eunjae melangkah maju dan saat tinggal satu meter lagi di depan pintu kamarnya, Junho tanpa sengaja menjatuhkan sumpitnya. Saat itu pula Eunjae berlari membuka pintu kamarnya dan segera memasuki kamarnya dengan membanting pintu dibelakangnya. Junho yang menyadari Ibu Eunjae dan Taera sudah hampir pucat karena kejadian barusan berusaha memecahkan keheningan.
"Boleh aku minta tambah, masakan ibu sangat enak." Ia mengatakannya dengan senyum yang membuat matanya tampak memejam.
"Ya, ya, tentu saja. Kau boleh membawanya pulang untuk ibumu dan Haeju. Terakhir kali aku melihat gadis itu, ia masih di bangku SD." Ibu Eunjae kemudian berdiri dan mengisi kembali piring makanan Junho.
"Terima Kasih, Bu Cho." Jawab Junho dengan senyum khasnya.
***
Eunjae sudah rapi dengan pakaiannya tapi ia tidak mau keluar dari kamarnya. Sampai akhirnya Taera mengetuk pintu kamarnya dan masuk. Ia membawakan Eunjae dua buah bingkisan dari Junho. Temannya itu bilang, Junho akan datang lagi untuk berkunjung. Junho bermaksud memberikan bingkisan itu langsung pada Eunjae. Sayangnya Eunjae mungkin tidak ingin menemuinya.
"Dia manis sekali, Eunjae-ya. Dia bahkan sangat sopan dan ramah. Dan lihat itu, ia membawakannya untukmu." Taera mengomeli Eunjae yang tidak menemui Junho.
"Apa itu?" Eunjae menanyai Taera.
"Junho bilang salah satunya adalah sepatumu dan satunya lagi sebelah sepatumu." Jawab Taera dengan tangan besedekap di dada.
"Apa dia sudah pulang?" Eunjae segera turun dari tempat tidur dan berdiri di dekat bingkisan itu.
"Entahlah, Ibu yang menemaninya di depan. Mungkin saja sekarang ia sudah berpamitan. Kalau aku jadi dia, aku tidak akan kembali lagi ke sini. Apa kau tidak merasa bersalah sedikitpun?" Taera terus mengomeli Eunjae hingga akhirnya Eunjae mengambil dua kotak dari kamarnya dan membawa juga dua bingkisan dari Junho menuju ruang tamu.
Sampai di ruang tamu, Eunjae tidak melihat siapapun ada di sana dan segera saja ia melangkah keluar pintu. Ia melihat Junho sedang membungkuk memberi salam pada ibunya di depan pagar.
"Lee Junho!" Teriak Eunjae yang berlari dengan sendal tidurnya menuju ibunya dan Junho.
"Eunjae-ya, aigoo~ Junho baru saja akan pulang. Mengapa kau baru keluar?" Ibu Eunjae menepuk perlahan bahu mungil Eunjae dan meninggalkan mereka berdua di depan pagar.
"Kau baik- baik saja? Kau tampak pucat dan tidak sehat." Junho tampak sedikit cemas saat memperhatikan Eunjae.
"Pegang ini." Eunjae memberikan semua barang yang dipegangnya pada Junho yang sedikit terhuyung menerimanya.
"Yah! Bukan karena aku merendahkan suaraku, kau bisa senaknya padaku." Balas Junho menekan nada bicaranya sebisa mungkin.
"Apa maksudmu memberikan kedua bingkisan ini?" Eunjae tidak mendengarkan Junho dan terus fokus pada hal yang ingin dicapainya.
"Bukankah Taera sudah memberitahumu? Keduanya adalah sepatumu." Jawab Junho sedikit ketus.
"Jika itu benar sepatuku, bukankah kau harus memastikan sepatu itu pas di kakiku?" Eunjae bertanya dengan tidak kalah ketus.
"Apa? Kau ingin aku apa? Aku yakin 100% sepatu itu milikmu." Junho menolak maksud Eunjae yang sebenarnya.
"Kalau begitu aku tidak akan menerimanya dan kau bisa membawa semuanya kembali. Termasuk yang mungkin adalah pasangan sepatu yang kau bawa itu." Balas Eunjae dan berbalik meninggalkan Junho bersama tiga pasang sepatu di dekatnya.
Tapi junho meraih pergelangan tangan Eunjae dengan cepat. Tanpa ada kata, ia membuka kotak yang berisi sebelah sepatu milik Eunjae dan mengangkatnya bersama salah satu bingkisan Junho.
"Pegang ini." Junho meletakkan bingkisan itu di pelukan Eunjae dan membukanya. Didalamnya terdapat sebelah sepatu Eunjae dan Junho membawanya keluar dan setengah berjongkok di hadapan Eunjae.
"Apa yang kau lakukan?" Eunjae mundur selangkah dari hadapan Junho dengan muka memerah.
"Aku harus memastikan sepatu ini ada pasangannya dan memang milikmu." Kemudian ia memengang pelan kaki Eunjae dan seperti tersihir Eunjae membiarkan Junho memakaikan sepatu itu di kakinya. Sepasang sepatu itu masih tampak cantik di kaki Eunjae.
"Jadi, kau benar- benar telah mengembalikan sepatuku. Terima kasih Junho." Eunjae memalingkan wajahnya saat Junho mendongak menatapnya.
"Hanya itu saja?" Kini Junho berdiri sangat dekat dengannya dan membuat Eunja menatapnya kembali.
"Y-ya." Jawab Eunjae gugup.
"Sekarang lepaskan sepatunya." Junho mengambil bingkisan lain dan karena bingung, kini Eunjae menuruti perkataan Junho.
"Kau tidak mungkin pergi makan siang denganku dengan mengenakan sepatu pesta di malam hari. Kau harus mengenakan sepatu yang pas." Junho mengeluarkan sepatu sandal yang sangat bagus, terlebih sangat pas di kaki Eunjae dan juga cocok dengan pakaiannya saat itu.
"Bukankah seharusnya kau mengembalikan sepatu yang ada pada kakak perempuanmu?" Tanya Eunjae hati- hati.
"Ia ingin mengembalikannya sendiri, jadi ikutlah makan siang bersamaku jika kau ingin menemuinya." Jawab Junho dengan senyum yang tidak pernah Eunjae lihat.
Sekali lagi Eunjae hampir terjatuh saat melangkah karena kepalanya sedikit pusing dan Junho menangkapnya lagi.
"Aigoo~ sepertinya hanya aku yang akan menangkapmu selamanya." Junho tidak hanya menangkapnya tetapi juga menggendongnya hingga ke depan mobil dan hal itu membuat Eunjae semakin tersipu.
Sementara Ibu dan Taera mengabadikan momen- momen Junho dan Eunjae dari balkon kamar Eunjae. Dengan sepatu baru yang diberikan Junho, Eunjae melangkah ke dalam mobil dan menutup pintunya. Di samping Eunjae, Junho tersenyum dan membawa keduanya pergi dari rumah Eunjae. Di bangku belakang bersandar sepasang sepatu milik kakak Junho dan sebuah kartu yang tergeletak dari bungkusan sepatu Eunjae yang sekarang:
"Dear my temperamental Cinderella, Will you be my date?"
***
END
Someone Nextdoor #2 [SBS Part 9]
Someone Nextdoor #2 [SBS Part 9]
Shappire Blue Shop Part 9
Someone Next Door #2 [Go Areum’s story]
One-Side-Love
Main Cast:
Go Areum / @nuningabe
Hwang Chansung [2PM]
Lee Dongwook
889Line Members:
Kwon Jiah (as narator) / @GHyuphi
Han Taera / @zky_line
Han Tara / @dasihitaraa
Cho Eunjae / @MountNs2647
Song Hyemin / @Pipot34
Jung Hyeosoo / @815Soo
Shappire Blue Shop’s Flower Boys:
Kim Minjun [2PM]
Lee Sungmin [Super…
View On WordPress
A Friend Confession [SBS part 8]
Shappire Blue Shop Part 8
A Friend Confession [Jung Hyeosoo’s Story]
Main Cast: Park Shinhye as Jung Hyeosoo / @815Soo Jun.K as Kim Minjun
889Line Members: Kwon Jiah (as narator) / @GHyuphi Han Tara / @ dasihitaraa Han Taera / @zky_line Cho Eunjae / @MountNs2647 Go Areum / @nuningabe Song Hyemin / @pipot34
Shappire Blue Shop’s Flower Boys: Kim Minjun [2PM] Lee Sungmin [Super Junior] Yong Junhyung…
View On WordPress