[FF] Thrill Love (Chapter 2)
Chapter 2: Blind Date (1)
Hwang Chansung meraba mencari ponselnya yang berdering dengan mata masih setengah terpejam. Sambil mendesah dia menjawab teleponnya.
"Halo?” Napas Chansung naik turun teratur sementara telinganya berusaha fokus mendengar.
“Singkirkan tangan perempuan itu dari atas dadamu!” teriak suara wanita di seberang telepon.
Nyawa Chansung seperti dikumpulkan paksa. Suara itu adalah suara ibunya, wanita super galak, satu-satunya wanita di dunia yang Chansung takuti. Chansung melirik perempuan di sampingnya, gadis muda dengan dada setengah terbuka – kalau saja tidak tertutup bad cover – itu tampak tertidur pulas. Chansung bisa merasakan tangan lembut perempuan itu kulitnya, bahkan rambutnya yang berantakan menggelitik dagu Chansung, membuatnya bergeser dari posisi tidurnya.
“Bangun dari ranjangmu HWANG CHANSUNG!!!” Suara ibu Chansung menggelegar, menyadarkan Changsung yang langsung bangun dan berdiri panik.
Mengumpulkan sisa-sisa tenaganya Chansung menjawab, “A-apa maksud eomma? Perempuan apa? Haah.. Aku, aku sedang akan… mau mencuci muka kok,” Gagap yang kentara, itu artinya kebohongan. Chansung mencari celananya dan buru-buru keluar kamar.
“Kau pikir jam berapa sekarang?! Bawa keluar perempuan itu dari apartemenmu, atau Ibu akan mematahkan tangan dan kakinya!”
Hwang Chansung menelan ludahnya, ini bukan pertama kali ibunya mengancam yang tidak-tidak, dan bukan pertama kalinya Chansung ketahuan membawa perempuan ke dalam apartemennya. Hwang Chansung, si playboy kaya yang hanya takluk pada ibunya itu sedang berjalan hilir mudik mencari seribu alasan yang masuk akal untuk mengelak tuduhan ibunya. Namun lagi-lagi dia gagal.
“Pukul 10, temui aku di Daewoo Hotel! Kalau kau berani mangkir, akan kulaporkan ayahmu.” Tuuutttt… sambungan diputus begitu saja sebelum Chansung sempat menjawab.
Selesai membicarakan proyek kerjasama mereka, Lee Dong Wook terlebih dulu meninggalkan ruangan. Go Areum yang merasa harus meminta maaf atas perkataannya tentang Dong Wook saat di lift tadi mohon diri pada Presdir Lee untuk pamit. Saat di koridor dilihatnya Dong Wook barjalan menuju ruangannya, Areum pun mengejarnya sambil berteriak...
“Direktur Lee..!!!” panggil Areum.
Dong Wook menoleh dia menghentikan langkahnya, Go Areum menghampirinya sambil masih mengatur nafas karena berlari.
“Direktur Lee, sa, saya benar-benar minta maaf!” kata Areum sambil membungkuk berkali-kali.
“Untuk apa?” tanya Dong Wook pura-pura tidak paham. Lee Dong Wook enggan lama-lama di dekat Areum dia seperti orang yang tersiksa dan itu tampak jelas dari ekspresinya.
“Soal kejadian di lift tadi saya benar-benar tidak tahu, jadi maafkan saya.” Areum kembali membungkuk.
“Aah...itu, lupakan saja. Lagipula saya tidak tertarik mendengar komentar orang tentang saya. Apa ada lagi yang ingin anda bicarakan?” tanya Dong Wook terdengar tidak sabar.
“Eh... Ti..dak.” kata Areum terbata, dia masih bingung mendengar perkataan Dong Wook yang tidak menyalahkannya dan justru terkesan cuek.
“Kalau begitu...saya duluan.” Dong Wook pergi meninggalkan Areum.
“Woaaa...pria itu! Apa? Tidak tertarik mendengar komentar orang? Yaa!! Ternyata benar dia orang seperti itu.” kata Areum kesal ketika dilihatnya Dong Wook telah menghilang di balik pintu ruangannya. “Tapi, ekspresi macam apa itu? Seperti dia memiliki dendam pribadi saja padaku. Memang salahku apa, hah?! Aku kan tidak tahu kalau dia direkturnya, jadi, ya aku memang salah sih, tapi, aaa...dasar pria sombong!!” Areum melakukan monolog dengan mimik wajah kesal yang lucu.
Sementara di ruangannya, Dong Wook terlihat gusar dan tersinggung, prinsipnya seperti akan goyah. Entah mengapa pikirannya melayang pada kejadian di lift saat ia menahan Go Areum. Hanya dengan memikirkan itu seperti ada naga yang menggeliat di dalam perutnya yang entah sudah ada sejak kapan di sana.
Go Areum di studionya bersama beberapa tim designnya, dia sedang membahas lebih lanjut konsep proyek mereka yang diminta oleh D.G Group saat sebuah telepon masuk berdering di ponselnya.
“Ya, oh kakek. Ya, baik aku akan kesana.”
Go Areum pergi memenuhi undangan makan siang kakeknya di sebuah hotel. Areum sangat menghormati kakeknya sehingga dia akan mematuhi semua apa yang diperintahkan kakek kepadanya – kecuali satu hal. Go Areum duduk bersama kakeknya, mereka belum mulai makan siang. Ternyata kakeknya sedang menunggu seseorang. Saat seorang pria mendekati meja mereka dan memperkenalkan dirinya. Kakek Areum tampak senang dan menyuruhnya duduk. Pria yang bernama Choi Seunghyun itu adalah seorang akuntan bank, dia sengaja diperkenalkan kakek pada Areum untuk dijodohkan. Ya, satu hal yang tidak bisa dipatuhi Areum dari kakeknya adalah perjodohan. Go Areum hanya berpikir bahwa pernikahan bukanlah hal yang bisa dipaksakan. Jadi ketika tahu kakeknya mengenalkannya pada Choi Seunghyun semata untuk kencan buta, jelas saja dia jengkel. Kakek yang sudah paham watak kaku cucunya saat bertemu pria-pria yang dikenalkan padanya hanya tersenyum geli.
Kakek mendekatkan kepalanya ke arah Areum dan berbisik, “Bagaimana apa kau suka yang ini? Dia cukup tampan dan mapan.”
“Kakek...sudah kubilang kan? Aku tidak suka perjodohan!” bisik Areum menahan kesal. “Apa kau tahu aku sudah punya pacar.” lanjut Areum bohong.
“Benarkah? Kenapa kau tidak memperkenalkannya padaku? Atau jangan-jangan kau hanya bohong...” tanya kakek tidak percaya.
“Hoo...bohong? Apa aku ini terlihat seperti tukang bohong kek? Kalau tidak percaya akan kubawa dia ke hadapanmu.” Kali ini Areum tidak lagi berbisik, hal ini membuat Seunghyun bertanya,
Areum hanya mendelik galak ke arah Seunghyun dan kakeknya bergantian.
“Hahaha...tampaknya cucuku sedang dalam mood yang buruk. Mari kita pesan makan saja.” Kakek mengalihkan suasana.
Lee Dong Wook dan Asisten Kim pergi untuk bertemu klien di hotel yang sama dan mereka mengadakan janji di restoran dimana Go Areum berada.
“Apa Tuan Park sudah tiba?” tanya Dong Wook pada Asisten Kim.
“Sepertinya 15 menit lagi beliau baru tiba.” jawab Asisten Kim sambil melihat jam tangannya.
Mereka pun berjalan masuk ke restoran dan dikejutkan oleh suara seorang wanita yang memanggil Lee Dong Wook.
“Lee Dong Wook-ssi!!!” seru wanita itu.
Ternyata yang memanggil Dong Wook adalah Go Areum, dia berlari ke arah Dong Wook lalu begitu saja menggamit lengannya.
“Maafkan aku...” bisiknya.
Areum pun menggeret Dong Wook ke hadapan kakeknya dan memperkenalkannya.
“Kakek, Choi Seunghyun-ssi perkenalkan dia, dia pacarku” kata Areum, dia mempererat genggamannya pada lengan Dong Wook.
“Apa?!” respon Dong Wook, Asisten Kim dan Tuan Go bersamaan.
Dong Wook menatap tajam pada Areum seperti ingin meminta penjelasan. Areum yang tahu dia telah melibatkan Dong Wook dalam kebohongannya tidak berani melihat matanya.
“Apa yang kau... Apa itu benar anak muda?” Kakek masih kaget dan dia bertanya pada Dong Wook seolah menuduh.
“Ti...” Dong Wook membantah, namun keburu dipotong oleh Areum yang menginjak kakinya.
“Kumohon bantu aku...” bisik Areum memelas. Kali ini dia menatap Dong Wook yang menahan sakit dengan ekspresi memohon.
“Direktur?” Asisten Kim yang kaget pun akhirnya bereaksi.
Mendengar kata direktur Tuan Go tampak tertarik, “Anak muda duduklah...” pinta Tuan Go.
“Heh??” Dong Wook bingung.
“Oo...ayo sayang duduklah. Kakek memintamu bergabung.” Areum memaksa Dong Wook duduk.
“Choi Seunghyun-ssi, mianhaeyo.” Areum memasang wajah menyesal pura-pranya pada Seunghyun, dan tersenyum ke arah kakeknya.
“Siapa namamu?” Kakek bertanya pada Dong Wook.
“Heh..” Dong Wook masih bingung. “Saya Lee Dong Wook.” Dong Wook akhirnya memperkenalkan diri sambil menundukkan kepalanya pada Tuan Go.
“Bagaimana kau mengenal cucuku?” kakek langsung menginterogasi Dong Wook.
Seunghyun yang diacuhkan hanya menyeruput kopinya dengan sebal lalu angkat bicara, “Presdir Go, maaf saya mohon diri karena masih ada pekerjaan yang harus saya lakukan.” katanya pada Tuan Go.
“Silahkan.” jawab Tuan Go singkat, matanya masih terpaku pada Dong Wook.
Seunghyun yang diacuhkan pergi dengan kesal tanpa mengatakan apa-apa lagi. Go Areum tersenyum tipis melihat kepergian Seunghyun yang diikuti oleh pandangan menyalahkan Dong Wook kepadanya.
“Ehhmm, apa kau mendengarku anak muda?” Kakek mengagetkan Dong Wook dan Areum.
“Oh..ya, maafkan saya. Saya mengenal cucu anda di lift.” jawab Dong Wook spontan.
“Maaf, direktur. Tapi kita harus segera pergi.” Asisten Kim yang mulai cemas karena melihat Tuan Park telah tiba, berbisik pada atasannya.
Dong Wook teringat janji dengan kliennya. Lalu dia mengambil tindakan dengan merangkul Areum dan mendekatkan wajahnya ke telinga Areum. “Kau harus menjelaskan semuanya nanti!” bisik Dong Wook dengan nada sedikit mengancam.
Areum menelan ludah, dia hanya bisa mengangguk. Mata besarnya menatap Dong Wook seolah ingin berkata, aku mengerti-maafkan aku.
Dong Wook minta izin pada Tuan Go, “Maaf, tapi saya harus pergi sekarang, ada janji yang harus saya penuhi.” Dong Wook bangkit dan membungkuk pada Tuan Go lalu pergi untuk bertemu kliennya.
Go Areum datang terburu-buru ke kantor D.G Group, dia akan melakukan presentasi perdana konsep rancangan real estate yang akan dikembangkan oleh D.G Group dimana dia bertindak selaku arsiteknya. Bersama Jung Hyeosoo asistennya, mereka berjalan cepat menuju lift. Tiba-tiba Hyeosoo izin untuk ke toilet, jadilah Areum naik lebih dulu ke ruang rapat. Tangannya mencegah pintu lift tertutup, tepat ketika Dong Wook menekan tombol tutup. Mata mereka bertemu. Dong Wook menatap dingin pada Areum, sementara yang dipandangi tertunduk malu ketika tahu bahwa Dong Wook ada di dalam lift. Mau tidak mau Areum pun masuk dengan kecanggungan luar biasa.
Bagaimana ini? rintihnya dalam hati.
Karena tidak mau merusak citranya di depan Dong Wook, Areum membulatkan tekad untuk meminta maaf. “Direktur Lee...hari yang cerah, ya...?
Apa!!! Kenapa berbicara cuaca?! Matilah aku! Dia pasti akan menerkamku hidup-hidup. Lihat pandangannya! Kenapa dia tiba-tiba terlihat seperti Zombie?Areum berbicara dalam hati sambil melirik Dong Wook, dan tanpa sadar menelan ludahnya dengan bunyi “GLEKK” yang cukup keras.
“Begitukah? Tapi kulihat wajahmu tidak tampak cerah hari ini?” sindir Dong Wook sambil tetap menatap ke depan ke pantulan bayangan dirinya yang sempurna lewat pintu lift yang berlapis kaca.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu? Atau, apa kau telah melakukan kesalahan Go Areum-ssi?” tuntut Dong Wook tanpa ampun.
Areum menjauh beberapa langkah, dia tampak mengkeret di pojokan lift, matanya hanya terpaku pada sepatunya yang lupa disemir sehingga tampak debu-debu kecil yang masih menempel, sementara jemari tangannya yang kurus saling bertaut satu sama lain. Sikapnya seperti anak kecil yang tertangkap basah telah mencuri buah milik paman tetangga. Hilang sudah citranya sebagai si seksi yang menarik. Di hadapan Lee Dong Wook, Go Areum hanya terlihat sebagai wanita yang punya banyak kesalahan.
“Hemmm??” Dong Wook menekankan intonasinya meminta pertanggungjawaban.
“Ma, maafkan aku!” Areum membungkuk sangat rendah di hadapan Dong Wook, bahkan hidungnya nyaris mencium lutut saking gugupnya. “Soal kejadian kemarin aku benar-benar menyesal. Aku minta maaf...” Areum terdengar seperti memohon. Dong Wook yang mendengarnya berusaha sebisa mungkin tak memperlihatkan ekspresi apapun.
Wanita ini, dia memang unik. Bagaimana jika kuberi dia pelajaran. Pikir Dong Wook.
“Baiklah...” kata Dong Wook. “Karena aku pacarmu, jadi untuk hari ini turuti kata-kataku.” jelas Dong Wook tenang, dia seolah tidak terpengaruh dengan respon Areum yang sangat kaget.
“Pa...pacar??” Areum melongo.
“Bukankah aku diperkenalkan sebagai pacarmu?” Dong Wook menatap Areum dan berjalan mendekatinya, menahan dinding lift dengan kedua tangannya, mengurung Areum, lalu menunduk - mendekatkan wajahnya ke wajah Areum seakan hendak menciumnya. Areum yang terpojok tampak ketakutan.
“Tunggu! Apa yang mau kaulakukan?” Areum mengumpulkan semua tenaganya untuk mendorong Dong Wook.
Dong Wook tetap tak bergeming, kini wajahnya dan wajah Areum hanya beberapa centi jaraknya. “Lakukan itu sekali lagi!” perintah Dong Wook.
“Heh...?” Lucunya respon bingung Areum terdengar sama persis seperti Dong Wook saat diminta memperkenalkan diri oleh Kakek Areum.
“Kudengar kakekmu sedang mencarikan jodoh untukmu. Tapi kau selalu menolaknya, ehhmm...tapi kenapa tiba-tiba aku yang kau libatkan. Apa kau punya maksud tertentu Go Areum-ssi?” tanya Dong Wook.
“Jadi, lakukan lagi. Kau harus memperkenalkan aku sebagai pacarmu saat presentasi di hadapan dewan direksi nanti.” potong Dong Wook.
“Atau kau akan kubuat tidak betah kerja di sini.” ancam Dong Wook yang tidak mempedulikan protes Areum.
“K-kau...” Areum berkata lemah.
Anehnya mereka tetap pada posisi yang sama selama pembicaraan itu berlangsung. Ketika pintu lift terbuka Asisten Kim yang sedang menunggu Dong Wook terpekik tertahan melihat keduanya dalam posisi seperti itu.
“Direktur!!” seru Asisten Kim.
Karyawan lain yang sedang menunggu lift pun sempat dibuat terkejut hingga mereka pun berbisik-bisik berspekulasi tentang apa yang sebenarnya terjadi di antara keduanya.
Dong Wook segera membenarkan posisinya dan keluar lift sambil membenarkan jas dan dasinya, seakan ingin menutupi kegugupannya karena dipergoki oleh karyawannya sendiri. Areum yang tertinggal dengan tatapan menyelidik para karyawan pun akhirnya keluar dengan gundah.
Presentasi pun selesai dan Go Areum mendapat banyak pujian dari para dewan direksi. Lucunya saat presentasi, Areum tak sedikit pun melihat ke arah Dong Wook padahal Dong Wook jelas-jelas mengamatinya sambil tersenyum. Saat hendak menutup presentasinya, Dong Wook berdiri dan menghampiri Areum, lalu kepada seluruh direksi dia berkata, “Go Areum-ssi akan menyampaikan sesuatu yang penting pada kita semua. Ini menyangkut masa depan perusahaan.” Dong Wook berkata dengan senyum manis yang menyungging di wajahnya. Go Areum terperanjat, wajahnya seperti dihantam lonceng besar yang ada di katedral Vatikan.
Ternyata pria ini tidak bercanda.pikir Areum panik, Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus mengatakannya...?!” Go Areum meringis.
“Apa kau serius Direktur Lee? Apa kau benar-benar tidak bisa memaafkanku? Kumohon...” Areum berkata pelan pada Dong Wook dengan tampang memelas.
“Silahkan Go Areum-ssi...” Dong Wook mengacuhkan Areum dan tetap tersenyum kepada dewan direksi.
Aaarrghh!! Pria ini, benar-benar! ekspresi Areum berubah geram dan dia melotot ke arah Dong Wook.
“Silahkan Go Areum-ssi.” ulang Dong Wook sambil tersenyum manis menggodanya.
Areum menatap ke seluruh dewan direksi, dia menelan ludahnya dan membulatkan tekad untuk mengatakannya, “Itu, sebenarnya, saya dan Direktur Lee...kami...maksud saya, saya meminta Direktur Lee sebagai...” kata-kata Areum terpotong.
“Partner! Kami memutuskan akan menjadi partner dalam proyek ini.” tiba-tiba Dong Wook mengambil alih pembicaraan.
“Ooo...”; “Ya memang seharusnya, tapi kenapa nona Go Areum tampak gugup?”; “Hemmm...”; “Kami kira apa..” itulah komentar-komentar yang terdengar dalam ruangan tersebut. Untungnya tak satupun dari dewan direksi kecuali Presdir yang curiga dengan tingkah Areum dan Dong Wook. Presdir yang mendapat berita dari Asisten Kim tentang kejadian di hotel merasa ada sesuatu di antara mereka berdua dan dia hanya tersenyum menyaksikan keduanya.
“Direktur Lee...!” panggil Areum yang berusaha mengejar Dong Wook seusai rapat.
Dong Wook menghentikan langkahnya dan menyuruh Asisten Kim untuk meninggalkannya. Dengan tatapan curiga Asisten Kim pun pergi, dia hanya geleng-geleng kepala heran.
“Kenapa kau melakukan itu padaku?” tuntut Areum yang masih kesal.
“Awalnya kau menyuruhku mengaku sebagai pacarmu lalu kau...kau...” lanjut Areum, dia seolah kehabisan kata-kata seiring napasnya yang tersengal-sengal.
“Kenapa? Apa kau kecewa?” tanya Dong Wook pura-pura bingung tapi tak mampu menyembunyikan rasa puasnya.
“Apa? Kenapa aku harus kecewa. Maksudku...kau sengaja ya mau mempermainkanku?” Areum memandang Dong Wook sebal.
“Ya,” kata Dong Wook singkat. Dia pun berjalan meninggalkan Areum.
“Yaa!! Lee Dong Wook-ssi!!” seru Areum geram.
Teriakan Areum membuat orang-orang di sekitarnya menoleh dan mulai berbisik-bisik. Lee Dong Wook menghentikan langkahnya, Areum tidak membuang kesempatan dan menghampirinya dia pun berkata, “Dengar ya Lee Dong Wook-ssi, aku, aku akan bilang ke kakek kalau kita tidak ada hubungan apa-apa. Jadi kau tenang saja.”
“Apanya yang tidak ada apa-apa?” suara kakek Areum mengagetkan mereka. Go Areum dan Lee Dong Wook menoleh ke asal suara tersebut.
“Ayah??” lanjut Dong Wook.
Di sana berdiri Tuan Go dan Presdir Lee yang menatap ingin tahu.
“Kau? Anak muda, kau bekerja di sini?” tanya kakek Areum senang.
“Kakek, dia...” Areum akan menjelaskan namun dipotong oleh Presdir Lee.
“Maaf Tuan Go, Anda mengenal putra saya?” tanya Presdir Lee ingin tahu.
“Putramu?” Tuan Go kaget sekaligus senang.
“Jadi pemuda ini putramu? Oh, seharusnya aku bisa menduganya.” Tuan Go mendekati Dong Wook dan memeluknya sambil melempar senyum pada Areum.