Gelisah
#monologhati ku yang tengah gelisah
Mungkin seperti menjalani rutinitas biasa, sekalipun cara dan kondisinya yang tak lagi sama. Sesekali ku senang, karena hikmahnya menghabiskan banyak waktu bersama keluarga, juga terbebas dari penat rutinitas kota.
Tapi rasanya seperti kesenangan semu yang tak diharapkan sebab dan caranya. Ada rasa yang lebih mendominasi, akan rindu rutinitas dulu juga rasa takut bersamaan.
Aku tau, semesta usiamu tak lagi muda Banjir, pandemi, erupsi, sampai fenomena alam yang belum terjawab pun hadir. Ditambah potret masalah sosial ekonomi dan hak asasi yang semakin membuat bergidik sesak. Seolah bumi dna langit sedang bekerjasama memberi rambu-rambunya.
Peringatan tentang batas waktu semesta, agar tak ada kata terlena. Tentang seringnya kemaksiatan, kerusakan, dan keburukan lainnya yang masih asyik dilakukan hingga membuatku melenceng jauh dari tujuan penciptaan.
Ada Allah, tak perlu khawatir berlebih. Semua akan kembali membaik dan normal! Begitu suara hatiku menenangkan Wahai diri yang sedang berkamuflase untuk tetap menjadi baik-baik saja, sadarlah sebatas bergantung tanpa usaha yang lengkap itu sia-sia.
Aku tau saat ini dunia hingga unit terkecil masing-masing individu pun berusaha membantunya semuanya kembali pulih. Tapi lelah rasanya jika hanya duniamu yang berusaha. Libatkan Allah, libatkan Allah, libatkan Allah dengan menjadi lebih baik dalam ibadah juga muamalah. Begitu kata hatiku menolak pembenaran yang ku lakukan.
Harapan itu selalu ada, itu janji Nya. Tapi janganlah usaha dunia dan percaya diri berlebih membuat kesadaran luput membaca celah esensi dari tujuan yang Allah hadirkan. Sesungguhnya bukan sekedar untuk kembali pulih, tapi resapilah pesan cinta yang ingin Pencipta beri.
Kesadaran tentang batas kehidupa yang memang nyata, kesadaran untuk menukar letak dunia dari hati ke genggaman yang sering salah penempatan hingga ego dan nafsu menjadi kompas hidup yang mencipta kerusakan.
Wahai diri yang gelisah, coba berhenti sejenak Pikirkan pertanyaan simpel ini Sudahkah aku paham tujuan penciptaanku? Seberapa jauh diri bergerak menjau? Jika kesadaran kembali menyapa, bergegaslah.
Selalu ada Allah yang tak pernah berhenti menunggu sampai batas waktumu. Kembalilah diriku, semuanya akan benar baik-baik saja! Sekalipun jika waktumu selesai lebih dulu sebelum semesta. Karena kali ini tidak sekedar ada Allah, tapi juga bersama Allah.















