Ahok-Djarot Bagus. Kenapa sih Segitunya Dukung Anies-Sandi?
Dari tulisan ini, izinkan saya menyampaikan pendapat sebagai orang tak dikenal yang juga dijamin kebebasan berpendapatnya. Sejujurnya agak segen sih ngebahas masalah pilkada rasa pilpres ini di publik, selain sensitif dan juga sebenernya udah mau selesai, saya juga tipe orang yang lebih suka menyalurkan pendapat lewat diskusi sama orang-orang terdekat, sama orang yang memang sengaja saya ajak diskusi, atau teman yang memang bertanya pendapat saya secara langsung. Karena satu hal yang disadari bahwa setiap orang memiliki pendapatnya masing-masing, jika memang sudah condong pada satu hal, ya pasti sulit menerima hal lain dan bisa jadi memicu gesekan-gesekan banyak pihak tak terkecuali orang-orang terdekat (saling mengharagai pendapat dan sikap yang dipilih aja). Tapi semakin kesini, semakin sedih rasanya jika terus memendam pikiran dan pendapat saya. Lagi-lagi ini hanya sekedar pendapat, untuk sekedar meluruskan sesuatu dan menggambarkan sebuah sikap, dengan harapan dapat dipahami meskipun tidak sampai pada tahap penerimaan untuk pihak tertentu.
Banyak program-progam yang baik untuk Jakarta dari kepemimpinan Ahok
Saya setuju, karena itu juga pernyataan yang saya tulis sendiri. Jika ada orang yang tidak mendukung Ahok karena beralasan program-programnya tidak baik, saya rasa itu irasional. Buat pihak yang bukan pendukung Ahok, bukan berarti bisa menutup mata dengan beberapa program yang memang baik. Ah tidak adil rasanya, menghilangkan kebaikan orang lain. Saya sendiri setuju sama program KJP, sistem smart city, pasukan oranye, sama reformasi birokrasi yang kata saudara-saudara saya di Jakarta mah pelayanan kelurahan lebih baik. Itu program siapa? Program Ahok yang tidak bisa kita tampikan kebaikannya. Tapi kembali lagi ini adalah pilihan, dan saya memilih untuk tidak memilih Ahok. Kenapa? Pertama karena saya warga bekasi jadi tidak punya hak pilih untuk paslon manapun, kedua saya memilih untuk hanya bisa berdoa dan mendukung Anies-Sandi. Saya setuju jika banyak yang menganggap pilihan saya kontradiksi dengan pernyataan sebelumnya.
Terus kalo kinerjanya bagus kenapa ga didukung?
Mungkin banyak orang yang berpendapat saya sih lebih baik memilih pemimpin non muslim selama dia jujur, kinerjanya bagus, programnya oke dibandingkan pemimpin muslim tapi kinerjanya ga bagus. Tapi biarlah itu menjadi pendapat mereka. Bagi saya itu salah satu bentuk kesalahan berpikir (fallacy of misplaced concretness) yang muncul karena mengkonkretkan sesuatu yang abstrak. Ini bukan persoalan non muslim dan muslim, tapi membandingkan sesuatu yang bukan apple to apple dan tidak berdasar. Pertama tidak sebanding jika jujur, kinerja bagus dibandingkan dengan kotor, kinerja buruk. Kedua, apa cukup adil jika pemimpin muslim selalu dinilai dengan kecakapan kepemimpinan yang rendah?
Disini saya tidak akan membahas keburukan selama kepemimpinan Ahok walaupun hal yang wajar jika dalam keberjalanannya ada kesalahan atau sesuatu yang cukup kontradiksi. Buat apa jika sekedar untuk saling menjatuhkan? Jauh lebih cerdas jika saling membahas keunggulan satu sama lain. Beberapa program Pak Ahok bagus, ya saya sepakat. Tapi saya tidak sepakat stereotype yang membandingkan pemimpin non muslim bersih, bagus dengan pemimpin muslim yang korup, dan tidak mumpuni. Saya ambil contoh. Mungkin sebagian, banyak yang sudah mengenal nama Ali Sadikin? Beliau Gubernur DKI Jakarta era Soekarno (1966). Puncak keberhasilan kepemimpinannya, saat mampu menangani kekumuhan Jakarta khususnya MH Thamrin melalui KIP (Kampung Improvement Program) sampai sempat mendapat penghargaan Internasional dan menjadi best practice bagi negara-negara Internasional. Kepiawaiannya juga terlihat saat beliau berhasil mengatasi keterbatasan dana APBD yang hanya 66 juta untuk berbagai pembangunan dan masalah Jakarta saat itu, bayangkan hanya 66 juta! Era beliau juga yang mulai konsen dengan masalah pembangunan sampai akhirnya berdiri Badan Perencanaan Pembangunan di Indonesia. Masih banyak lagi keberhasilan yang dilahirkan dari kepemimpinan beliau, lengkapnya bisa baca sendiri di buku Membenahi Jakarta Menjadi Kota yang Manusiawi. Siapa sosok beliau? Beliau adalah pemimpin muslim. Jadi jelas disini stereotype perbandingan yang menurut saya cukup tidak adil tersebut terpatahkan. Banyak pemimpin muslim yang jujur dan berkinerja baik.
Tapi tetep aja program petahana lebih bagus dan konkret dibandingkan paslon lain yang cenderung theoretical bgtt. DP Rp 0 itu duit darimana? Ga salah rumah tapak? Kalo gitu lahannya dimana?
Sebelumnya saya berharap lontaran pernyataan-pernyataan itu sudah didasari dengan pengetahuan atau pencarian informasi yang lengkap, tidak berdasarkan atas ketidak sukaan terhadap satu pihak atau chauvinisme semata (mendukung siapapun sah-sah saja asal jangan saling menjatuhkan dan tetap terbuka dengan nilai2 kebenaran). Well, sebagai anak bawang dalam ilmu PWK, izinkan saya berbicara dari apa yang sudah pernah saya dapatkan di bangku perkuliahan buat sedikit ngebahas program masing-masing paslon. Udah jadi rahasia umum kalo lahan di Jakarta semakin terbatas sedangkan penduduk Jakarta yang terus meningkat pasti menuntut kebutuhan untuk tempat tinggal, solusi yang dinilai paling tepat saat ini ya memang vertical housing dan Ahok menggalakan program itu saat kepemimpinannya. Lagi-lagi saya sepakat dengan prinsip intensifikasi lahan, pembangunan yang mulai di arahkan ke bentuk vertical building. Saya mendukung langkah Pak Ahok yang menggencarkan program itu, tinggal sasarannya saja yang lebih diperhatikan. Sekarang gimana sama program DP Rp 0? Pasti banyak orang yang bertanya-tanya darimana sumber uangnya Pemprov buat nalangin dulu? Jawabannya dengan menggandeng berbagai pihak, khususnya swasta. Disini saya sadar dengan kapasitas saya yang bukan anak ekonomi, tapi saya berusaha menyampaikan apa yang sempat menjadi bahan diskusi saya dengan dosbing saat itu, kebetulan skripsi saya pun nyerempet-nyerempet masalah pembiayaan. Intinya bukan hal yang tidak mungkin melibatkan sektor swasta dalam pembiayaan pembangunan selama skema dan payung hukumnya jelas. Bagi saya keterbatasan dana bukan suatu hal yang bisa menghentikan program untuk kesejahteraan masyarakat banyak, bagi saya keterbatasan itu suatu tantangan untuk pemimpinnya memutar otak mencari inovasi atau skema-skema pembiayaan baru. Dalam memimpin, hal yang biasa bukan, bertemu dengan masalah-masalah dan kesulitan? Sewajarnya jika pemimpin yang baik rela mengalami kepayahan demi kebaikan hidup warganya. Memang tidak bisa dipungkiri keterbatasan dana bisa menghambat keberjalanan program tapi bukan berarti selalu membuat program itu tidak terealisasi, disitulah letak tantangannya bagi pemimpin. Jika banyak yang bertanya-tanya tentang keberhasilan program tersebut, saya sendiri tidak bisa menjaminnya karena saya bukan cenayang yang bisa menerawang masa depan :). Tapi bukan suatu hal yang tidak mungkin, jika kita melihat langkah Ali Sadikin yang berhasil membawa wajah Jakarta lebih baik dengan extra keterbatasan dana. Menurut saya itulah tugasnya pemimpin.
Sebagai mahasiswa yang pernah mendapat mata kuliah pengembangan lahan, perumahan dan permukiman, saya juga memiliki pikiran sama tentang persoalan bentuk rumah tapak yang sebagian besar digiring sebagai bentuk rumah dari realisasi program DP Rp 0. Jika memang benar seperti itu, rasanya aneh dengan konsep rumah tapak untuk KDB ibu kota yang sudah padat, mungkin realisasinya bisa menjadi bahan lelucon di meme dagelan kemudian hari, Inilah kemajuan teknologi informasi yang sayangnya tidak dilengkapi dengan filter untuk menyaring informasi terlebih dahulu dan menelususrinya secara lengkap. Saya pun sempat terbawa dengan program yang rasanya kurang masuk akal diterapkan di Jakarta jika memang berbentuk rumah tapak. Akhirnya rasa penasaran saya mengajak untuk mencari informasinya secara lengkap, tidak sebatas membaca dari tulisan orang atau situs tertentu yang agaknya sebatas kepingan-kepingan informasi. Berdasarkan hasil meluncur di dunia maya dari berbagai situs berita saya bertemu pada satu titik kesimpulan bahwa program ini bukan persoalan penyediaan rumah yang bentuknya saklek ditentukan Pemprov Jakarta tapi ini persoalan skema pembiayaan, ingat pembiayaan rumah bukan penyediaan rumah. Jadi selama memungkinkan lokasi rumahnya terserah dari warga Jakarta. Beda halnya dengan properti yang emang ditawarkan sendiri oleh Pemprov DKI Jakarta melalui program DP Rp 0, propertinya berbentuk hunian vertikal dengan harga sekitar Rp. 350 juta. Meningkatkan investasi rumah susun juga merupakan program lain yang diusung, jadi jelas bagi saya kesimpulan bahwa program DP Rp 0 Anies-Sandi dengan menyediakan rumah berbentuk rumah tapak tidak bisa dipertanggung jawabkan lagi kebenarannya.
Saya juga tertarik masalah penanganan permukiman kumuh yang ditawarkan masing-masing paslon saat itu. Kebetulan atau tidak, skripsi saya menyangkut pembiayaan untuk penanganan permukiman kumuh setidaknya saya akan menjelaskan sesuatu yang bukan hanya berasal dari pemikiran saya, tapi juga referensi yang pernah saya baca untuk keperluan skripsi. Secara garis besar permukiman kumuh ditangani dengan cara peremajaan lingkungan kumuh (menggusur/memindahkan permukiman ke daerah lainà terjadi perubahan fungsi peruntukan dari kawasan sebelumnya), pembangunan kembali permukiman kumuh, pemugaran/perbaikan lingkungan (salah satu programnya kaya KIP, PLPBK, dan NUSP). Kalo Ahok terkenal dengan program menggusurnya, Anies menawarkan program urban renewalnya atau perbaikan lingkungan. Mana yang lebih baik? Bisa jadi versi kebaikan saya di antara 2 opsi penanganan tersebut berbeda menurut versi yang lain. Jadi bukan kapasitas saya untuk berbicara mana yang lebih baik dari 2 program tersebut.
Penggusuran pastinya banyak menyisakan kesakitan tersendiri untuk pihak yang digusur apalagi kalo ditambah dengan ketidaksiapan pemerintah menyediakan tempat tinggal dan sistem yang bisa dipahami warga bisa jadi malah menciptakan kantung kekumuhan baru karena ketidaksiapan warga dan tekanan yang dirasakan untuk pindah dalam situasi baru. Untungnya sejauh yang saya tahu, selama kepemimpinan Ahok, pemerintah memang menyiapkan hunian pengganti (relokasi ke rusun) yang umumnya dengan sistem sewa. Jujur dari segi fasilitas, bagi saya rusun punya fasilitas yang cukup layak untuk masyarakat kumuh. Saya sempat berpikir kenapa masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh enggan pindah ke tempat yang lebih baik? Semakin kesini, dari pengalaman sendiri saat berinteraksi langsung dengan masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh dan coba belajar memahami dari perspektif lain banyak hal yang saya sadari. Ini adalah masalah hidup seseorang, bukan hidup kita yang sekedar memberikan penilaian dari luar tanpa merasakan. Berbagai sebab yang menjadi alasan keengganan sebagian besar masyarakat untuk direlokasi dari mulai alasan mata pencaharian, ketidak nyamanan mereka tinggal di hunian baru yang bersusun-susun, keberatan untuk membayar sewa rusun, sampai alasan emosional karena dari dulu sejak lahir udah tinggal dan dibesarkan di lingkungannya. Menggusur memang tidak selalu buruk menurut saya, jika memang sudah tidak memungkinkan dengan cara lain dan pemerintah pun sudah menjamin kehidupan korban penggusur tidak terlunta-lunta. Tapi satu hal yang sering dilupakan, yang digusur itu manusia. Ya manusia yang tidak cuma terdiri dari jasadnya aja tapi juga ada hati yang bisa merasakan sesuatu. Jauh lebih baik jika mereka diajak untuk sama-sama ikut berdiskusi, karena yang sedang diputuskan adalah kehidupan mereka bukan kehidupan kita. Gimana sama urban renewal? Saya ambil menurut Pimentel Walker (2016) penanganan kekumuhan dengan cara penggusuran udah banyak ditinggalkan karena berbagai dampak dan perbaikan lingkungan dinilai langkah yang lebih baik untuk penanganan permukiman kumuh. Saya setuju dengan ungkapan obat yang sama belum tentu berhasil untuk penyakit yang sama di pasien yang berbeda (ingat belum tentu ya, bukan berarti tidak berhasil :) ). Tapi dalam kasus ini bukankah pasiennya masih sama? Sama-sama kawasan kumuh di Jakarta, yang dulu pernah dapet obat serupa (perbaikan lingkungan) dan terbukti berhasil.
Kenapa sih segitunya dukung Anies-Sandi? Dari pernyataan sebelumnya udah mengakui program petahana bagus, dia juga berpengalaman. Apa karena dia Cina dan non muslim? Hari gini masih rasis dan intoleran.
Sebenernya saya bukan pihak secara langsung yang diuntungkan atau dirugikan mau siapapun kepilih, dah saya mah bukan orang Jakarta juga. Tapi dorongan hati dan logika yang membuat saya untuk memilih sikap. Kalo berbicara rasis, banyak temen saya dari SD sampe kuliah non muslim atapun keturunan cina dan selama pertemanan mereka baik, bahkan ada yang sangat baik, asyik, saya nyaman berteman dengan mereka. Lagi pula bukannya kita diciptakan dalam keberagaman? Tidak ada alasan bagi saya untuk rasis. Mungkin banyak yang mempertanyakan kepuasan masyarakat terhadap kinerja Ahok yang mencapai 74,3% (Populi Center, 2016) tapi kenapa yang milih sekitar 40%? Lagi-lagi ini soal pilihan. Ada batas yang sebagai muslim tidak bisa kita langgar. Jika ada yang berpikir saya kolot masih bawa agama, silahkan saya tidak terganggu dengan penilaian manusia. Saya belum jadi muslim yang sepenuhnya baik, tapi disini saya cuma berusaha menjalankan apa yang emang udah jadi aturanNya. Sesederhana itu. Lagipula sangat aneh jika memisahkan agama dengan kehidupan kita. Bukannya Allah juga memberikan kebaikan dan asupan oksigen tidak hanya saat kita sholat atau di masjid aja? Tapi diberikan setiap saat tak luput satu detikpun dalam gerak kehidupan kita. Sah-sah aja bagi saya mendasarkan pilihan atas agama. Begitu juga pihak non muslim. Jika alasan yang tidak setuju soal potensi, program, dan stereotype antara pemimpin muslim dan non muslim silahkan baca kembali di atas. Kalaupun tetap tidak sepakat kembali lagi itu adalah pilihan masing-masing.
Itulah gambaran apa yang saya pikirkan, rasakan, dan yakini. Awalnya tidak berniat untuk mencurahkan semuanya tapi saya hanya ingin kita bisa menghargai pilihan masing-masing, berjuang untuk yang didukung secara sehat tanpa harus saling menjatuhkan atau bahkan menganggap cara pandang kebanyakan orang Indonesia yang lebih menghargai orang dengan perkataan ramah, santun, bijak, dan pandai mengambil hati orang lain dibanding orang yang benar-benar bisa menyelesaikan masalah. Saya rasa seperti tuduhan yang maaf tidak berdasar dan membuat sedikit kecewa. Jika masih ada yang ngerasa tidak adil dan aneh, bukankah paslon itu sama-sama melalui pesta demokrasi dan Ahok sebagai kaum minoritas di tengah mayoritas warga Jakarta yang muslim juga masih bisa merasakan kesempatan yang sama bukan untuk berjuang selama sekitar 18 bulan ini? Saya tidak berniat rasis, tapi ingin menggambarkan warga Jakarta ataupun kaum mayoritas yang sering dianggap rasis tidak serta merta melarang Ahok buat mencalonkan diri jadi Gubernur bukan? Artinya entah minoritas ataupun mayoritas dalam kasus ini tetap mendapatkan kesempatan yang sama.
Bagi teman-teman saya yang non muslim ataupun keturunan cina yang merasa tersinggung dengan curahan hati dan pikiran ini, saya meminta maaf. Tidak ada maksud menyinggung siapapun apalagi menebar kebencian. Tidak ada embel-embel lain selama saya berteman dengan kalian, saya merasa senang bisa mengenal kalian sebagai teman dan pastinya ada nilai positif yang bisa saya ambil dari kalian selama berteman. Tapi ini soal pilihan dan aturan untuk hamba Nya. Saya rasa agama manapun juga memerintahkan untuk taat dengan Tuhannya bukan? Mari kita sama-sama menghargai pilihan masing-masing tanpa berprasangka buruk satu sama lain. Saya masih tetap ingin berjalan bersama dalam kebaikan sama teman-teman semua.
Bagi teman-teman saya yang muslim dan tidak sepakat dengan pernyataan saya, seperti yang saya bilang di awal bahwa tulisan ini tidak untuk pada tahapan penerimaan bagi siapapun hanya sekedar dorongan bagi saya untuk meluruskan prasangka selama ini dan memberitahukan apa yang seharusnya memang tersampaikan (sampaikanlah walau satu ayat). Bagaimanapun penerimaannya, mangga itu hak teman-teman. Saya hanya meminta untuk saling menghargai tanpa berprasangka yang secara sadar atau engga bisa menggiring pembentukan pikiran yang bisa jadi salah. Semoga kita bisa terus saling belajar dan mengingatkan. Semoga Allah senantiasa memberikan petunjuk Nya buat kita dan mengistiqomahkan dalam kebaikan.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan memberikan pemahaman (tidak menuntut penerimaan) baru yang baik untuk semuanya. Aamiin