Sebagai salah satu institusi pendidikan yang memiliki nama besar di negeri ini,
adalah suatu ironi yang menggelitik bahwa kampus ITB tergolong paling mungil dibanding kampus institusi lain yang sepantaran
(Atau minimal mendekati lah, mengingat bisa dibilang juga bahwa ITB itu sudah mentok di atas dan tiada ada yang sepantaran dengannya)
Perbandingan ukuran Kampus Ganesha dengan kampus-kampus yang lain dulu sudah pernah Mimin bahas di sini
Anyway, sebentar lagi kenangan akan Aa’ Ganes yang compact dan pint-sized powerhouse kemungkinan besar akan berubah,
karena, lo and behold, setelah berjuang sekian lama akhirnya perjuangan si Aa’ untuk dapat kampus baru menemukan titik terang~
Akhirnya pemerintah memberi lampu hijau buat Aa’ bikin kampus baru di Walini
Sebenernya wacana Kampus Walini ini sudah lumayan lama bergaung lho,
kalau engga salah sudah sejak tahun 2012-an kemarin si Aa’ mewacanakan kampus barunya itu.
Pinginnya sih tahun 2020 sudah bisa punya kampus baru, bertepatan dengan ultah satu abad si Aa’ ini.
Dan syukurlah, tahun ini sudah ada sinyal-sinyal positif kalau masalah tanah untuk kampus baru si Aa’ diusahakan segera kelar.
Omong-omong, kampus baru yang di Walini itu luasnya 400 hektar.
FYI, itu luasnya kira-kira sepertiga luas kota Jogja (*≧▽≦)
UI sehutan-hutannya aja luasnya baru sekitar 300 hektar.
Tapi ya, sampai kampus Walini jadi selesai dan well established masih bakal panjang perjalanannya.
Selain butuh duit yang ga sedikit, proyek sebesar ini rawan terganggu hal-hal nonteknis.
Birokrasi misalnya, atau ganti menteri ganti proyekan (/ω\)
Kalau Mimin bilang sih,
paling cepet sekitar 4-5 tahun lagi sampai kampus Walini bener-bener terealisasi.
Dan butuh waktu lebih lama lagi sampai kampus itu bener-bener established sesuai rencana dengan fasilitas yang terbangun lengkap semua tanpa plafon ambruk atau drainase yang belum matang kayak seseterminal yang ultimate itu *uhuk*
So, although ITB won’t grow overnight,
But eventually, dia nanti akan tumbuh lebih besar dibanding rekan-rekannya yang lain.
(Setelah sejak dari jaman Belanda ukurannya segitu-segitu aja o(≧∇≦o) )
Semoga saat itu tiba PAF masih rajin diupdate sama Mimin ya (*´∀`*)
Wah, memasuki tahun baru berarti memasuki masa-masa tingkat galau jurusan meningkat (ノ^∇^)
Terutama buat yang kelas tiga~
Apa kabar rencana kuliah?
Sudahkah kakak-kakak univ menyambangi sekolah kalian untuk tebar pesona promosi? (*´▽`*)
Omong-omong soal promosi universitas,
salah satu hal menarik dari kegiatan ini adalah bagaimana tiap universitas meng-highlight keunikan masing-masing.
Misalnya, dengan mengangkat jurusan yang mbedani dewe dibanding jurusan-jurusan lain yang lebih mainstream.
Aa’ misalnya,
well... Aa’ sebenarnya punya banyak jurusan yang bener-bener unik dan cuma ada satu di Indonesia,
tapi yang sering dia singgung dan dibangga-banggakan jelas Teknik Dirgantaranya (*≧▽≦)
Sebagai ilmu mutakhir nan sophisticated, studi ilmu Dirgantara di Indonesia hanya ada di beberapa tempat saja.
Dan satu-satunya PTN yang menawarkan studi cara bikin pesawat ya cuma si Aa’ ini ー( ´ ▽ ` )ノ
(Well, iya sih ada juga di Politeknik Bandung, tapi di sana levelnya diploma,
not to mention that dia sendiri merupakan bagian dari ITB sampai tahun 90-an)
Anyway, kalau Aa’ punya studi tentang pesawat,
Tees punya studi perkapalan ー( ´ ▽ ` )ノ
Teknik Perkapalan ini bisa dibilang kebanggaannya ITS.
Walaupun di Indonesia, teknik Perkapalan tidak selangka Teknik Dirgantara,
(UI, Undip dan beberapa PTN-PTS lain juga punya teknik perkapalan)
Tapi perkapalannya Tees itu spesial, karena selain salah satu yang terbaik di Indonesia,
Kemarin ITS juga ditunjuk jadi pusat rekayasa kapal perang nasional.
How cool is that (*^▽^)/
.
.
Kemudian selain mereka berdua,
ada juga nuklirnya Mas Gama (゜▽゜;)
Meskipun teknik nuklir merupakan salah satu ilmu eksotis di antara beragam ilmu yang ada di Indonesia
(Cuma ada dua tempat di Indonesia untuk belajar ini, Mas Gama dan STTN Batan. Dua-duanya di Jogja)
Somehow, Mas Gama sangat low profile dengan prodinya yang satu ini.
Di kalangan masyarakat awam, jarang sekali rasanya yang bilang kalau UGM terkenal karena punya teknik nuklir ( ´∀`)
It’s almost like he’s conducting a secret nuclear project,
But then again, nuklir sendiri di Indonesia memang belum memasyarakat sih ya o(´∀`*)
Yoooosh~ ( ´ ▽ ` )ノ
kembali lagi di PAF bersama dengan tokoh minggu ini, Pebe dan Unpad.
Berhubung September ini mereka ulang tahun,
jadi Mimin memutuskan mengeluarkan post ini sekarang ( ゚▽゚)/
(Well, It’s been drafted for almost 6 months anyway, dan mumpung momennya pas, jadi Mimin keluarin sekarang)
Oh iya,
komik minggu ini spesial, karena ini pertama kalinya PAF muncul dalam bahasa asing ( ^∇^)
Yes, Sunda is a foreign language for me.
Terima kasih kepada rekan Mimin yang bersedia kasih translasi Sunda untuk script komik ini (ノ^∇^)
Mungkin kedepan Mimin akan coba memunculkan PAF dengan bahasa lain lagi,
as long as it’s appropriate, character and setting wise.
Anyway, kembali ke isi komiknya (^▽^)
Bagi kebanyakan orang yang asing dengan IPB,
rata-rata banyak yang mengira bahwa lulusan IPB nantinya bakal bekerja sebagai petani.
Atau berkecimpung dalam usaha pertanian.
Ya, pokoknya engga jauh-jauh dengan bercocok tanam lah ( ̄▽ ̄)ノ
However, the truth is...
Despite his name, lulusan IPB yang akhirnya kerja di pertanian jumlahnya tidak sebanyak yang dibayangkan orang.
Cuma sekitar 35%, alias sepertiga lebih sedikit.
Yang 65% tersebar di berbagai bidang,
mulai dari yang masih nyerempet dikit ke pertanian macam Industri makanan dan retail,
sampai ke yang jauh banget, misalnya jadi wartawan atau kerja di perbankan.
Saking fleksibelnya, IPB sampai dijuluki sebagai Institut Pleksibel Banget ( ´∀`)
Omong-omong,
di antara berbagai bidang kerja yang dirambah lulusan IPB diluar pertanian,
salah satu yang cukup menonjol adalah perbankan. (_´ω`)
Somehow, banyak alumni IPB yang sukses berkarir di perbankan,
sampai-sampai IPB juga kerap dijuluki Institut Perbankan Bogor.
Tapi ini bukan cuma fenomena di IPB lho,
lulusan bidang pertanian in general banyak yang kemudian lebih memilih untuk mengurus bunga (bank) dan bercocok modal dengan berkarir di perbankan (゚∀゚ )
Well, at least fakta tersebut sudah jadi rahasia umum dan diamini oleh salah satu profesor IPB sendiri
However, on the other side of the argument,
ada yang berpendapat juga bahwa pertanian itu luas,
pertanian tidak hanya sekedar macul sawah dan bercocok tanam,
tapi juga menyangkut kegiatan distribusi hasil pertanian dan ekonomi in general.
That’s the very reason why IPB as an Agricultural Institute have his own Faculty of Economics and Management.
Anyway, at the end of the day...
fakta bahwa banyak lulusan IPB yang kemudian kerja di Bank masih merupakan realita yang ada di masyarakat.
Jadi kalau punya temen anak IPB,
jangan kaget kalau misalnya besok tau-tau dia kerja di bank setelah lulus (°∀°)b
Yak, sekali lagi...
request lama yang baru bisa dibikinin sekarang (ノ^∇^)
Ya sudahlah tidak apa,
Yak, kali ini kita akan bahas PIMNAS (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional),
yang di dalamnya termasuk kompetisi PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) ( ゚▽゚)/
Seperti yang anon diatas utarakan,
gampangnya, PIMNAS ini semacam OSN-nya kuliahan.
Dimana setiap Universitas bersaing setengah memaksa mengerahkan tim-tim terbaiknya untuk diadu kreatifitasnya dalam membuat penelitian/produk/berwirausaha/pengabdian masyarakat/ dan bahkan sekedar gagasan tertulis.
Yah, kira-kira kasarannya seperti itu (*≧▽≦)
Oh, tapi yang seru dari PIMNAS ini adalah PIMNAS punya juara umum yang benar-benar resmi nan offisiyel,
lengkap dengan piala bergilirnya.
Beda dengan OSN, kalau OSN kan tidak ada juara umum yang resmi.
Jadi kita tidak benar-benar tahu sekolah mana yang terbaik di ajang OSN.
(Walaupun secara intuitif, kita semua yakin andai OSN ada piala bergilirnya, piala itu akan nangkring di Semesta selama bertahun-tahun)
Anyway, berhubung PIMNAS ada piala bergilirnya.
Alhasil PIMNAS di mata mahasiswa bukan hanya sekedar lomba antar Universitas belaka.
PIMNAS sudah jadi semacam simbol pertaruhan martabat, marwah dan harga diri setiap Universitas.
Well, at least bagi Universitas-Universitas yang menganggap PIMNAS merupakan serious business. ( ^∇^)
Karena ada juga yang gak segitunya dengan PIMNAS. Yah mirip-mirip OSN juga lah,
gak setiap sekolah segitunya banget sama OSN kan?
Omong-omong,
di antara Universitas yang bersaing sengit dalam PIMNAS,
yang persaingannya paling hangat adalah antara Mas Gama, Cak Te-es dan Sam Ebu Sam Ube (How should we call Unibraw? UB? Sam UB?)
Yah, mereka bertiga ini yang dari tahun ketahun selalu bersaing ketat memperebutkan piala bergilir PIMNAS.
Ibaratnya kalau DBL di Jogja itu, seperti Patbhe, Jebe dan BMD (ノ゚▽゚)ノ
Tahun 2014 kemarin, Juara Umumnya berhasil direbut Mas Gama. ITS runner up.
Tahun 2013 Juara Umumnya ITS. Mas Gama peringkat 3. Sam UB peringkat 4.
Tahun 2012 Brawijaya yang juara umum. Cak Te-es peringkat 3, sementara itu Mas Gama terpuruk di peringkat 9.
Oh, selain mereka berdua. Pebe dan Unair juga pemain kuat dalam jagat per-PIMNAS-an.
Pebe tahun ini peringkat 4, tahun lalu peringkat 5, dan tahun 2012 kemarin runner up.
Unair tahun ini peringkat 5, tahun lalu runner up, dan tahun 2012 kemarin peringkat 5.
Pebe sendiri adalah satu-satunya Univ diluar tiga serangkai UGM-ITS-UB yang pernah juara umum PIMNAS.
Albeit terakhir kali dia juara umum PIMNAS adalah tahun 2005 dulu. (*≧▽≦)
Dan sebenarnya ITS baru sekali juara umum, tahun 2013 kemarin.
Jadi antara tahun 2006 - 2012 PIMNAS diisi perebutan kekuasaan antara Gadjah Mada versus Brawijaya
Yang mana terdengar seperti kisah epik sinetron era Majapahit ( ̄▽ ̄)ノ
Anyway, di bawah mereka berlima ada universitas-universitas lain yang juga cukup kuat dalam ajang PIMNAS ini.
Unpad dan UNY termasuk di dalamnya.
Oh, omong-omong soal UNY... di PIMNAS dia tergolong bagus lho.
Mungkin pengaruh tetanggaan dengan Mas Gama yang sangat berapi-api dalam hal per-PIMNAS-an.
Meskipun belakangan ini peringkatnya menurun terus,
tapi tahun 2010 dulu UNY pernah peringkat tiga nasional lho.
Kemudian tahun berikutnya sempat hilang,
lalu tahun 2012 peringkat 5 nasional sekaligus mengalahkan Mas Gama yang waktu itu terperosok ke peringkat 9.
Selanjutnya peringkat UNY turun menjadi 8, dan tahun 2014 kemarin peringkat 10.
Still, not bad at all ( ^ω^)
Apalagi mengingat secara overall, UNY prestasinya lebih stabil dibandingkan Universitas ternama lain.
Aa’ Ganes misalnya ( ̄ー ̄)
Aa’ Ganes adalah salah satu ironi PIMNAS.
Sebagai Institut Terbaik Bangsa, kita tentu membayangkan ITB akan membanjiri PIMNAS dengan produk-produk inovatif nan canggih dan sophisticated (人 •͈ᴗ•͈)
Yang sayangnya, tidak begitu juga (_´ω`)
Dalam ajang PIMNAS, Aa’ Ganes masih kalah bersaing dengan Institut Teknologi lain yang lebih muda dan haus pengakuan.
*uhuk* ITS *uhuk*
Well, dalam 10 tahun terakhir ini,
prestasi terbaik ITB di ajang PIMNAS adalah runner up di tahun 2009.
Kemudian tahun 2011 dia turun ke peringkat 9
Tahun 2012 dia turun ke peringkat 16.
Lalu dua tahun berikutnya Mimin tidak bisa melacak dia ada di peringkat berapa (*・▽・*)
He still got some medals though,
tapi tidak cukup banyak untuk mendongkrak posisinya ke dalam sepuluh besar.
Dan akhirnya,
setelah membahas Mas Gama dan Aa’ Ganes.
Rasanya belum sreg kalau belum membahas satu universitas lagi.
Yup, siapa lagi kalau bukan Bang Kuning alias Universitas Indonesia.
Universitas Indonesia is an even bigger irony di ajang PIMNAS ini.
seperti yang dikeluhkan para mahasiswanya sendiri.
Entah karena apa, gaung PIMNAS di lingkungan UI tidak sebesar di timur sana.
Sehingga beberapa tahun belakangan ini kontingen UI di PIMNAS kalah jauh dibanding kontingen universitas lainnya.
Ironisnya adalah, PIMNAS sendiri sebenarnya merupakan idenya UI.
Dia yang dulu tahun 80-an punya gagasan untuk membuat lomba karya ilmiah tingkat nasional yang kemudian berkembang jadi PIMNAS yang sekarang.
Melihat catatan prestasinya di PIMNAS,
sejauh yang Mimin bisa lacak via google,
He actually performed better back then than now.
Tahun 2006 dia peringkat 8 nasional,
Tahun 2007 dia masuk lima besar, tepat di bawah dewa-dewa PIMNAS yang lain namely UGM, IPB, UB, ITS.
Kemudian setelah itu.... dia menghilang ヽ(;▽;)ノ
Entah kenapa Bangkun tidak segetol rekan-rekannya yang lain dalam berlaga di ajang PIMNAS.
Ada yang bilang dia lebih tertarik ikut kompetisi Internasional,
karena itu di ajang Nasional dia agak kurang kelihatan \(T∇T)/
However, he tries hard untuk bisa eksis lagi di PIMNAS lho.
Dia dulu sampai pernah studi banding ke UB tentang PIMNAS.
Tapi yah, dilihat dari jumlah anak-anak Bangkun yang lolos PIMNAS tahun kemarin...
Let’s say... he still has a long way to go.
But then again,
To be fair, jumlah peserta PIMNAS tidak serta merta menjamin perolehan medali.
But it does help. (ノ゚▽゚)ノ
Wajar kalau Mas Gama yang datang dengan kontingen terbesar mampu memperoleh medali terbanyak tahun lalu.
Tapi pada akhirnya, kualitaslah yang dinilai dan bukan kuantitas.
Contoh menarik adalah kemenangan fenomenalnya Unair tahun 2013.
Waktu itu dia sukses jadi runner up, meraih 6 emas, 2 perak, 2 perunggu, dengan hanya mengirimkan 10 tim.
See? It’s not all about the number.
Tapi ya memang lebih seru datang ke PIMNAS dalam kontingen besar,
kemudian pamer almamater kesana-kemari beramai-ramai dengan meriahnya (ノ´ヮ´)ノ*:・゚✧
Omong-omong, untuk PIMNAS tahun ini datanya belum masuk,
PIMNASnya sendiri toh belum terlaksana.
Tapi kita sudah bisa melihat berapa banyak proposal yang didanai,
dengan kata lain kita sudah bisa melihat calon-calon peserta PIMNAS
Tahun ini UB paling banyak meloloskan proposal.
Dengan selisih hanya dua proposal dibanding ITS. o(´∀`*)
Kemudian Mas Gama menyusul di belakangnya. Lalu IPB,Unair, Unpad, UNY.
Oh well, Mimin tidak memasukkan semua universitas di sini sih.
Jadi mungkin ada Universitas lain yang proposal lolosnya sebanyak mereka tapi tidak nongol di situ.
Anyway, tahun ini Bangkun meloloskan lebih banyak proposal dibanding Aa’!
Semoga yang lolos jadi peserta PIMNAS juga banyak o(≧∇≦o)
Omong-omong,
Mimin belum mau berspekulasi sih.
Tapi kalau peserta yang lolos PIMNAS proporsional dengan jumlah proposal,
kemudian jumlah medali proporsional dengan jumlah peserta,
Tahun ini Sam UB punya kans paling besar untuk merebut kembali piala juara umum. ~ヾ(^∇^)
(dan dengan demikian memulai lagi siklus juara umum, UGM - UB - ITS - UGM - UB )
Tapi Cak Te-es juga punya kans yang hampir sama besarnya sih.
Secara statistik, toh selisih dua proposal dari empat ratus sekian bukanlah jumlah yang signifikan.
Ah, mari kita tunggu saja kejutan apa yang akan muncul di PIMNAS tahun ini.
Karena menurut Mimin, PIMNAS lebih dinamis pergeseran juaranya dibanding OSN, Tonti atau DBL ( ^∇^)
Jadi sah-sah saja untuk selalu mengharap ada kejutan di setiap penyelenggaraan PIMNAS (ノ´ヮ´)ノ*:・゚✧
Tambahan sedikit~
Post kali ini merupakan debut postnya Sam UB alias Universitas Brawijaya ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆
(yang mana berarti sudah ada total sebanyak sembilan Universitas yang muncul di PAF)
Mimin sebenarnya tidak terpikirkan untuk nambah tokoh Univ lagi,
tapi berhubung UB adalah pemain kuat dalam jagat per-PIMNAS-an,
mau ga mau Mimin harus memunculkan dia.
Oh iya, berhubung Mimin krisis ide desain karakter.
Aslinya Sam UB mau dimunculkan dalam bentuk mas-mas yang mukanya ketutupan kresek bertuliskan “UB”
(Yes, i know, ini jahat. Habis Mimin ngga kebayang mau bikin dia seperti apa)
Untunglah ada asisten Mimin yang berbaik hati memberikan desain karakter buat UB.
Thanks B-Kun atas desain Sam UB-nya.
dan tamales ngatad di FAP ya Sam UB \(^▽^)/
Bagi pemerhati anime (dan manga),
pasti sadar kalau anime di dunia ini bisa digolongkan menjadi dua bagian
Anime yang nipple karakternya digambar, dan yang tidak~ ( ͡° ͜ʖ ͡°)
Well, pada umumnya gambar anime-style memang mengandung banyak simplifikasi,
ada banyak detail yang diubah atau dihilangkan,
simplifikasi tersebut dilakukan baik demi estetika maupun agar hidup ilustrator lebih bahagia dan tidurnya lebih nyenyak
(bayangkan kalau animasi hand-drawn harus dibuat dengan teknik realis, mau nangis saja...)
However, when it comes to nipples...
sepertinya para mangaka dan animator belum sepenuhnya seragam tentang apakah nipple harus digambar atau tidak.
(pengecualian adalah komik barat, in which biasanya hampir selalu digambar)
Salah satu case-point paling terkenal sepertinya Anime gratisan Free! punya KyoAni,
yang mana para karakternya digambar dengan dada polos tanpa nipple setitikpun (。´∀`)ノ
Anyway, ternyata dillema ini tidak hanya muncul dalam dunia pop-culture saja.
Seperti yang Mimin cermati dan kali ini Mimin angkat menjadi cerita,
bahkan lambang Universitas pun juga punya contoh yang bernipple dan tidak bernipple ( ´∀`)
Yang kiri, logonya ITB.
Seperti bisa kita lihat, nipple kanannya Ganesha tergambar jelas
(albeit hanya berupa buletan sederhana)
sementara itu nipple kirinya ketutupan strap dan belalainya
Yang kanan, logonya Unair.
Entah karena apa, Garudanya Unair digambar dengan dada polos. (_´ω`)
meskipun pusarnya tetap digambar juga sih
Anyway, tidak banyak universitas di Indonesia yang menampilkan makhluk setengah manusia di lambangnya...
Sehingga kita jadi tidak bisa melihat, kalau universitas lain logonya memuat dada telanjang,
apakah mereka akan ikut mahzab nipple digambar ataukah tidak (´∀`)
walaupun telat 13 hari, tapi ga apa-apa deh~
selamat hari peringatan diresmikannya Institut Teknologi Bandung °˖✧◝(⁰▿⁰)◜✧˖°
uh yeay, komik kali ini salah satu yang terpanjang yang pernah muncul di PAF (ノ゚▽゚)ノ
habis topiknya juga seru sih, hari diresmikannya Institut Teknologi Bandung.
Atau, dari perspektif UI, hari dia kehilangan satu (lagi) kampusnya dia yang ada di luar Jakarta
omong-omong tentang hari bersejarah itu,
kita beruntung karena Aa’ Ganes merupakan satu dari sedikit (sekali) institusi pendidikan yang sangat menjaga kelengkapan dokumentasi sejarahnya.
tulisan seputar lepasnya kampus UI Bandung untuk dijadikan perguruan tinggi sendiri, beserta detail dan foto-foto hari-H peresmian bisa dilihat disini dan disini
Upacara peresmiannya ternyata keren dan cukup simbolik lho (´▽`ʃƪ)
selain megah dan dihadiri orang-orang penting
(termasuk perwakilan universitas lain, Presiden Soekarno dan Presiden Vietnam Utara)
di dalamnya juga ada penandatanganan tiga piagam,
piagam pertama mengenai didirikannya Institut Teknologi Bandung oleh Ir. Soekarno
(piagam yang ini persis sama dengan yang dipajang di tugu Soekarno ITB)
selanjutnya, piagam kedua mengenai pembukaan Institut Teknologi Bandung oleh Mendikbud saat itu
kemudian sebagai penutup rangkaian peresmian,
piagam ketiga isinya mengenai penyerahan FT dan FMIPA Universitas Indonesia untuk dijadikan Institut Teknologi Bandung.
That’s it, jadi sebenarnya kalau dipikir-pikir,
andai hari itu UI menolak menandatangani piagam ketiga,
mungkin ITB batal diresmikan ( ´∀`)
(tapi engga mungkin juga sih bakal kejadian kaya gitu, just a possibilities)
Ini sebenarnya sudah telat seminggu,
ini harusnya nongol minggu lalu, apa daya Mimin sibuk.
Anyway, pada masih inget heboh-heboh minggu lalu?
itu tuh, soal bapak Menpora kita...
frankly, insiden ini bukan sesuatu yang maha-genting atau bagaimana.
rada konyol sebenarnya.
Tapi mungkin justru karena itu, banyak orang yang tertarik ngomongin ini.
sementara sebagian besar orang yang denger ini mungkin cuma bakal ngekek sambil geleng-geleng kepala,
sisanya memilih untuk ngelus dada sambil geleng-geleng kepala.
terutama yang satu almamater.
apalagi karena di beberapa berita, ada yang bawa-bawa nama almamater.
Seperti artikel yang mimin link-kan di atas, yang bawa-bawa namanya Mas Gama (^▽^)
Sementara itu, walaupun belum ada koran yang menuliskan berita insiden tersebut dengan kalimat,
"alumni SMA N 3 Yogyakarta ini"
Padz juga ikut kena imbasnya.
Paling tidak, orang-orang jadi ada bahan untuk nyindir dia...
tapi yah, terlepas dari insiden liriknya.
Paling tidak bentrokan antar suporter tidak makin membesar~
Anyway, kemarin ada yang minta trio universitas dimunculin lagi.
Ini, akhirnya ada bahan cerita untuk munculin mereka bertiga (´∇ノ`*)ノ
Selingan saja,
selamat ulang tahun untuk tiga tokoh kita ☆*:.。. o(≧▽≦)o .。.:*☆
Smaven aka SMA 7 Jogja, yang lahir 1 Juli 1983
T.H Bandung (sekarang ITB aka Aa' Ganes), lahir 3 Juli 1920
A.M.S B Jogja (sekarang SMA 3 Jogja alias Padz) , kelahiran 5 Juli 1919
Wah ternyata besok lusa diam-diam Padz sudah berumur 94 tahun ( ´∀`)
// tapi dia merasa dirinya baru 70 tahun (’-’*) //