Buku Keduaku! 🥰
Sudah 1 bulan lebih anak keduaku ini lahir 🫀 sebwah kumpulan fuisi ges! 😄
Untuk pemesanan silakan klik tautan shopee http://bit.ly/wittyshopee ! 🐳
seen from United States
seen from United States

seen from Canada
seen from South Korea
seen from Canada

seen from Argentina

seen from United Kingdom

seen from Hong Kong SAR China

seen from United Kingdom
seen from Hong Kong SAR China
seen from United States
seen from South Korea

seen from United Kingdom

seen from Russia
seen from Canada

seen from Russia
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from France
seen from Australia
Buku Keduaku! 🥰
Sudah 1 bulan lebih anak keduaku ini lahir 🫀 sebwah kumpulan fuisi ges! 😄
Untuk pemesanan silakan klik tautan shopee http://bit.ly/wittyshopee ! 🐳
we had to do a one page comic about our experience with gender issues. I’m honestly such a hermit and my degree is like 80% girls so I don’t experience much, but this was the only things that recently got to me.
Scripturient Bodoh #13
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Berbagi sedikit keresahan sebagai bagian dari umat islam, boleh ya?
Tulisan ini ditulis tidak lama sebelum memasuki Ramadan di tahun 2020. Ramadan yang berbeda. Ramadan yang banyak restriksinya. Jadi, jika anda adalah pembaca di masa depan yang mengalami Ramadan yang selumrahnya Ramadan di tahun-tahun sebelum 2020 masehi, semoga tulisan ini bisa menjadi pelajaran bagi anda.
Ramadan di 2020 ini mengalami banyak perubahan. Semua didasari oleh satu kata: pandemi. Penyakit yang mengharuskan manusia untuk memberi jarak justru untuk lebih manusiawi; menolong sesama.
Pandangan pilu ini dimulai dari Masjidil Haram
Sebelum memasuki bulan Ramadan ini, wahai pembaca di masa depan, Masjidil Haram tampak memilukan. Tidak tampak tawaf yang seramai biasanya. Semua saling memberi jarak. Pun, ini adalah perintah Rasulullah seperti di zaman beliau ketika pandemi terjadi. Meski demikian, pandangan pilu dari masjidil haram yang diimpikan oleh jutaan muslim seluruh dunia untuk didekati ini benar-benar melekat di memori.
Pun, dalam rangka memutus rangkai penyebaran penyakit, masjid-masjid semakin banyak diimbau untuk tidak mengadakan pengajian ataupun kumpul-kumpul yang serupa. Bayangkan, masjid yang hanya beberapa meter dari rumah, dihentikan aktivitasnya sementara. Masjid, itu tempat ketenangan yang kuat bagi kita semua, baik secara fisiknya yang berupa lantai yang sejuk, hingga yang mempengaruhi kita secara mental berupa syahdunya suara orang mengaji di dekat pilar yang mengena dari telinga hingga ke hati.
Lalu, bagaimana umat islam Indonesia beribadah dalam kondisi ini?
Edaran Resmi Kementerian Agama
Hingga keluarlah surat edaran no. 6 tahun 2020 dari Kementerian Agama yang menjelaskan ibadah Ramadan dalam kondisi pandemi ini. Mau tidak mau, segala yang meningkatkan risiko penularan, harus dihambat. Kumpul-kumpul sahur atau buka bersama? Dilarang. Peringatan nuzulul qur’an berkumpul di masjid untuk pengajian? Dilarang. Tarawih hari-hari di masjid, pun, dilarang. Semua perkumpulan harus dialihkan ke arah online, tentu dengan menyesuaikan syariat yang ada.
Lalu,Isyarat Apakah Ini?
Mungkin, Ramadan tahun ini dapat lebih menjanjikan banyak pahala, jika kita benar memaknainya. Jika dengan bertemu di masjid, kita baru mengingat Allah, bagaimana dengan kondisi semacam ini? Jika dengan tarawih berjamaah kita merasa dapat kontak dengan Allah, bagaimana dengan ibadah di rumah? Jika kita merasa buka bersama itu lebih terasa sebagai iftar yang sesungguhnya, bagaimana dengan iftar di rumah?
Kalau boleh mengungkapkan dengan metafora, nampaknya kita dilatih Allah untuk dapat dekat dengannya dalam kondisi apapun. Ingat denganNya, bukan lagi terbatas pada waktu dan tempat. Mengutip ayat yang diajarkan Gurunda Ust. Adi Hidayat,
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ - 51:56
“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,”
Ibadah itu hakikat diciptanya kita, manusia. Ketika hidup dan matinya tidak diniatkan untuk ibadah, sejatinya kita meleset dari tujuan kita dicipta. Kalau kata beliau rahimahullah, yaitu menjadikan seluruh aspek dalam hidupnya semata-mata untuk ibadah kepada Allah. Tidurnya, berdoa. Bangunnya, berdoa. Makannya berdoa. Hingga masuk ke kamar mandi, pun, berdoa. Pun, mengutip Emha Ainun Najib, khusyuknya sholat, pun, bukan dilihat ketika takbir hingga salam saja, tapi dari salam hingga takbir lagi.
Ya, pandemi ini berat. Kita memasuki waktu-waktu yang berat, bagi semua manusia, tanpa terkecuali. Keresahan ini tidak dapat dipungkiri. Tapi, bukan berarti resah itu tidak manusiawi. Resah ini bisa kita maknai adanya, sebagai pengingat bahwa kita memang harus belajar memaknai lebih dalam keadaan kehidupan ini.
Yuk, kita harus yakin, bahwa sebagaimana pun keadaannya, rahmat Allah tetap dilimpahkan banyak pada Ramadan, pun pintu ampunan terbuka lebar-lebar bagi kita para pendosa. Itu tidak akan berubah, dalam kondisi apapun pada dunia ini. Allah tetap Maha Pemurah, lagi Maha Bijaksana.
Jadi, untuk pembaca di masa depan, bersyukurlah anda dengan apapun kondisi yang Allah turunkan di saat itu. Mungkin saya ada di barisan anda, pembaca di masa depan. Mungkin, saya sudah terlebih dahulu wafat; kita tidak pernah tahu. Tapi apapun itu, saya harap tulisan ini menjadi pesan yang membawa amal jariyah, supaya saya, dan anda, pembaca di masa depan, yang berbeda waktu dan tempat ini dapat bertemu kelak di taman-taman surga.
Aamiin. Yuk ngeteh bareng nanti di taman surga. Tenang, tidak ada pandemi di sana. Tapi tolong ingat-ingat nama saya ya sebelum masuk di sana. Barangkali, kita masih belum bertemu di depan pintuNya ..
By the way, apa hikmah dari pandemi ini yang dapat anda bagi di sini? Silakan komen!
Anda Harus Makan Paling Terakhir
Dari filosofi kepemimpinan yang sudah saya pelajari, ada beberapa yang “breath taking” karena merubah beberapa pemikiran saya. Salah satunya adalah filosofi “makan terakhir”; ternyata tidak semudah menahan makan semata.
Sejauh ini saya sudah pernah memimpin beberapa kelompok; kelompok kecil dalam belajar, team kerja berbagai bidang, angkatan pertukaran pelajar, dan organisasi-organisasi yang tidak kecil. Tapi satu hal yang selalu menjadi pertanyaan saya; bagaimanakah kepemimpinan saya?
Pernah memimpin, belum berarti otomatis pintar memimpin. Bedakan.
Tua Sih, Tapi Dewasa Gak ya?
ngelihat paus itu bikin kalem, apalagi dengar nyanyiannya.
Kali ini bahasannya agak berat, be prepared guys!
Pernah mengalami masalah? Tentu.
Tapi tahukah kawan kalau kita bisa mengukur tingkat kedewasaan kita dari cara kebiasaan kita dalam menghadapi masalah? Berbeda dengan umur yang bisa diukur dengan mudah, kedewasaan atau maturitas emosi tidak semudah itu untuk diukur lho sebenarnya.
*kalem, bahasannya masih ringan kok di awal-awal
Paradoks Pendakian dan Jatuh Ke Jurang
ini bukan gambar saya. btw coba tebak yang gerak-gerak ini tulang apaa
Setelah bersemedi, merenungkan konten-konten untuk Tumblr ini di tahun 2018, saya mendapat kesimpulan : Tahun ini (dan tahun depan) akan lebih banyak dipenuhi konten medis
Tenang, bukan konten medis khusus untuk yang paham ilmu kedokteran to the max. InsyaAllah bukan begitu.
Kalau saya memantau kehidupan kakak-kakak tingkat saya yang sudah memasuki dunia klinik, baik DM (dokter muda) , dokter spesialis , pun profesor, pengalaman mereka itu tidak sedikit yang tergesek dengan keadaan kenyataan kesehatan Indonesia. Mulai sistem BPJS yang masih diharap-harap, kurangnya peralatan yang mumpuni untuk operasi, stigma negatif masyarakat terhadap penyakit ini itu, hingga macam-macam kelit kebijakan pemerintah yang buruk dalam pelaksanaannya.
Di dunia preklinik, saya belum yakin bisa menulis itu semua karena saya belum banyak tersentuh. Jujur, ingin begitu berdakwah bidang kesehatan seperti banyak dokter lainnya semacam dr. Meta , dr. Riva , dr. Gia , dr. Falla Adinda , dr. Firdaus Sani , dan rampai tulisan-tulisan penuh makna dokter lainnya.
Bismillah, dunia keprofesian sudah di depan mata. Tidak akan mudah, dunia jas putih ini bagi saya adalah paradoks; penuh pendakian dan jatuh ke jurang.
Pendakian tangga kesehatan, ia selalu perlu usaha di tiap langkahnya untuk mencapai puncak.
Jatuh ke jurang kebaikan, karena tidak ada lagi jalan berbalik menuju awal berpijak.
Bismillah, mohon doanya untuk kami dan mereka yang berjuang di jalan pemajuan kesehatan.
wallahua’lamun bisshowab, salam !
Scripturient Bodoh #4
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Sempat belum ya saya cerita kenapa nama unggahan ini scripturient bodoh?
Ya, scripturient itu sudah dijelaskan di gambar di atas. Tapi bodoh, mengapa bodoh?
*ehem*
Jadi saya menganggap diri saya ini bodoh. Tapi tidak mengerdilkan diri. Bodoh di sini, supaya saya tidak pernah merasa pintar, supaya selalu ingat bahwa banyak hal yang harus dibaca, dipelajari, dipahami.
Unggahan ini adalah hasil dorongan menulis mendadak seorang yang menganggap dirinya bodoh. Begitu kira-kira.
Yoi Om Keanu, gak usah terkagum begitu lah, saya kan jadi malu
Di unggahan ini saya selalu berusaha untuk “Free writing”, di mana saya menulis secara “flow”. Sembari ide melayang-layang di otak, imajinasi bermain, jari mengetik tanpa menunggu keragu-raguan atas kata-kata yang salah ejaan. Maklum, masih berkembang, harus mencoba-coba sana-sini.
Akhir-akhir ini saya belajar banyak hal. Bukan, bukan pelajaran kedokteran (itu saja sudah banyak).
Kita semua tahu bahwa Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang melek literasi. Daya literasi kita rendah menurut sebuah studi internasional. Sedih, dan studi tersebut dilaksanakan 2016, which is masih lumayan baru.
Awalnya saya tidak percaya, kenapa bisa serendah itu? Mengapa ada 61 negara?
Ternyata indikatornya ada 5 hal dalam penilaian; perpustakaan, surat kabar, input dan output pendidikan, serta akses komputer. Dari 200 negara, yang benar-benar bisa diukur ternyata hanya 61 negara. Apesnya lagi, kita nomor 60.
Di wawancara VICE dengan admin akun twitter @clickunbait , di situ disebutkan bahwa fakta 60 dari 61 ini menjelaskan kaitan kepercayaan terhadap hoax yang tinggi. Rendahnya tingkat literasi ditunjukkan oleh mereka yang mudah terprovokasi tanpa konfirmasi.
Apalagi headline yang sekarang lagi hangat-hangatnya, seringkali dibesar-besarkan dan menggiring opini pembaca pada hal yang sebenarnya beda jauh dengan yang diberitakan. Sedih.
Apa fenomena ini muncul karena budaya “critical thinking” yang rendah di masyarakat? Entah, mungkin ada kaitannya.
Yang jelas, seperti kampanye yang lagi on di youtube, saya masih yakin Indonesia menuju ke arah yang lebih baik. Generasi millenials yang disorot media massa memang cenderung anak-anak yang melakukan kekerasan, pembunuhan, dan kejahatan-kejahatan lainnya. Tapi coba kita buka mata, media massa memang tidak sedikit yang berprinsip “bad news is a good news”. Prestasi-prestasi generasi millenials tidak sedikit yang bagus-bagus; dan terus berjalan begitu ke depannya.
Tugas kita pertama adalah menentukan arah. Coba tanyakan dan jadikan renungan, selama kita melangkah sampai detik ini, langkah kita ini memajukan bumi ibu pertiwi atau malah memundurkannya?
Again, ini opini, tidak pasti 100% benar pun 100% salah hohoho
punya opini ? yuk sampaikan!
Scripturient Bodoh #3
Kembali anda akan menyimak hasil dari dorongan menulis mendadak seorang Hilmy Farhan. Apa yang ada di tulisan ini tidak akan pernah benar 100%, pun salah 100%. Anda mungkin setuju, pun tidak setuju. Penulis hanya berharap dari tulisan ini kita bisa bersama mendapat hikmah sebanyak mungkin.
Semester terakhir. Preklinik. Ea baper.
Banyak rekan yang mulai foto buku kenangan, sibuk mengurus karya akhir, bersenang (dan mengeluh) menuju deadline pengumpulan syarat yudisium dan wisuda.
Saya? pfft, saya malah mengisi waktu dengan katarsis, membaca buku atau literatur sebanyak dan sesempat mungkin. Keburu kelak, mungkin tidak seleluasa ini.
Entah, pada waktu sendiri dan dengan ditemani buku, saya bisa refleksi diri.
Refleksi, bertahun-tahun kuliah di sini apakah sudah sesuai dengan purpose saya apa tidak.
Refleksi, apakah sudah mumpuni untuk memasuki dunia “dokter muda” apa tidak.
Asyik juga nih, serasa scene di ending sebuah game adventure di mana pemeran utama melihat ke arah padang rumput yang luas lalu diiringi monolog penutup perjalanan panjang. Maklumkan, saya anak yang besar dengan game genre adventure di playstation. Uhuy.
Tapi kali ini berbeda; saya yakin ini masih permulaan dari perjalanan yang lebih jauh.
Saya teringat bermalam-malam ngobrol dengan sejawat-sejawat terdekat saya. Bukan sembarang obrol, tapi deep talk. I always love it. Salah satu potongan konversasi nya adalah seperti ini,
“Aku perlu pendapatmu. Menurutmu, benar tidak jika aku berpikir agak berbeda tentang masa depan?” “Seperti apa, Hil?” “Aku mengimpikan, Hilmy yang terbaik insyaAllah ada di ujung nanti. Hilmy, karyanya bermanfaat besar. Punya keluarga yang bermanfaat di masyarakat. Ibaratnya, “the best of me is yet to come”, bagaimana menurutmu?”
Jawaban mereka sama. Mereka tidak menyalahkan saya. Mereka mendukung. Mereka sepemikir. Alhamdulillah.
Bukan sombong; sama sekali tidak mau sombong dalam berpikir seperti itu. Ini sudah menjadi mindset saya. Karena saya yakin, Allah lebih ridho dengan hambaNya yang optimis. Allah senang dengan hambaNya yang senyum, dalam sedih senang mudah susah sempit maupun lapang. Aku ingin jadi hamba itu. Mindset ini yang drive saya menjadi takut bila membelok dari jalanNya. Semoga Allah istiqomahkan ..
Yap, penghujung preklinik. Memasuki klinik. Saat di mana teori sudah harus dipraktikan. Saat di mana gemblengan semakin keras. Saatnya lebih dekat dengan mereka, guru-guru saya, dengan berbagai perlakuannya dalam mendidik kami.
Yap, penghujung preklinik. Saatnya lebih dekat dengan cita-cita. Membangun keluarga. Menorehkan karya. Hingga siap menjadi agen kebaikan Allah yang terdepan dalam bidang kesehatan.
Yap, penghujung preklinik. Mau tidak mau, siap tidak siap, saya harus siap.
*Mohon doanya bagi kami dan sejawat kami dalam meningkatkan taraf kesehatan Indonesia, aamiinn*
Wallahua’lamu bisshowab