Saya tak tahan dengan spoiler yang ada di sekeliling saya. Saya ingin menyudahinya saja. Pulang kerja saya membeli tiket yang tersisa, pukul 21.45. Pulang ke rumah dulu untuk menidurkan Arkan. Sebagai seorang emak-emak, disini ada risiko yang bisa saja saya tidak jadi nonton karena anak belum tidur. Tapi akhirnya jam 21.00 dia tidur, Alhamdulillah haha. Rejeki Emak-emak baper. :p
Terakhir merasakan bangku bioskop kiranya tiga tahun lalu ketika saya masih hamil Arkan, dan saat menunggu film dimulai, saya bilang pada suami.
“Bi, Ummi deg2an dan excited. Hehehe.” Deg-degan dengan berbagai ekspektasi nonton sekuel AADC yang film pertamanya saya suka banget juga seneng banget bisa nonton di bioskop, HAHA.
Selesai film, saya sampai bertanya pada suami:
“Bi ummi nangisnya berapa persen dalam keseluruhan, 30% ya?”
“Ah, ummi nangis terus, 40%.”
Di sepanjang perjalanan pulang, saya terdiam. Kemudian suami saya berceloteh lagi:
“Kenapa diem, pasti baper ya, ahhhh perempuan.”
Entah saya terlalu larut dalam perasaan pada plot film atau hanya terhanyut pada akting Dian dan Nico. Saya kira lebih dari itu. Saya terlalu mendalami perasaan Cinta dan Rangga yang memendam perasaan “cinta” selama 14 tahun, perasaan sakit pada masing-masing dengan jarak yang jauh dengan tidak hanya sekedar mengatakan "aku rindu, rinduuu sekali". Saya tau itu menyesakkan.
Saya mendalami yang Cinta lakukan ketika ia melakukan denial yang biasa dilakukan wanita padahal yang ia inginkan sesungguhnya, sebaliknya. Seperti menolak bertemu dengan Rangga, mengatakan kita berteman saja, sampai ketika Cinta menolak kembali Rangga. Mengucapkan dan mengatakan yang sesungguhnya sangat terbalik dengan yang ia rasakan bisa terlihat dari mata dan gesture yang dibuat oleh akting Cinta dengan hebatnya. Begitupun senyum yang terus mengembang ketika seharian bersama Rangga, sehebat-hebatnya perempuan menyembunyikan perasaan, ternyata CInta tidak setangguh itu untuk menolak Rangga.
Rangga pun digambarkan sangat kusam dan seperti memanggul beban berat, berat untuk hidup ia sendiri yang sebatang kara, berat karena berbelas tahun Rangga ingin kembali kepada Cinta, namun situasi yang membuat Rangga naif dengan menyerah. Namun kali ini tidak, Rangga disini menunjukan inisiatif untuk memperbaiki hubungan, menunjukan perasaannya yang masih sama (atau bisa jadi lebih besar) kepada Cinta. Di setiap akting Rangga, ia menggunakan keahliannya dalam menatap dalam diam namun dapat memiliki arti yang besar. Ia hanya menatap namun sesungguhnya ia seolah-olah ingin mengatakan: “Aku ingin kamu”. Puncaknya, ketika Rangga menginginkan Cinta kembali untuk bersamanya lebih dari teman, ia meluapkan emosinya disitu. Punch line yan berhasil. Klimaksnya dari semua greget-greget antara Cinta dan Rangga, ending-nya melegakan juga. Meluap semuanya di akhir film.
Terimakasih Mas duo talenta Riri Riza & Mira Lesmana telah menjawab puisi rangga yang ditinggal Rangga pada Cinta di bandara 14 tahun lalu :) Review saya: 7.8/10