Mommy’s Pressure
Kalau Anda berpikir peer pressure di masa remaja adalah momen yang paling menyebalkan, maka Anda belum merasakan mommy’s pressure yang jauh lebih OMG!
Dulu, saya berpikir kalau urusan tekan menekan itu hanya ada di dunia remaja, di saat sepertinya kita dituntut harus memiliki standar yang sama dengan remaja-remaja sempurna lainnya. Ternyata, urusan tekan menekan itu nggak berhenti sampai di situ, karena ketika kita memasuki alam baru yang bernama motherhood, maka tekanan-tekanan itu kembali muncul. Semakin menyebalkan karena yang menjadi ‘lawan’ kita adalah para manusia yang notabene sudah masuk ke dalam kategori dewasa, yang harusnya sudah bisa menerima perbedaan. Cih…. (nafsu jadinya, hahaha).
Semacam ada tuntutan bahwa hidup kita sebagai seorang ibu baru bisa dikatakan bahagia, indah dan sempurna itu kalau memenuhi beberapa standar tertentu (yang saya sendiri nggak tahu siapa yang menciptakan standar tersebut). Dan, dodolnya lagi, kita (termasuk saya) terbawa dalam drama ini kemudian berusaha meraih level bahagia dan sempurna sesuai standar para ibu-ibu di sekitar kita, meskipun itu membuat hati kita berdarah-darah.
Biasanya beberapa hal yang suka diberikan standar adalah hal-hal berikut ini nih!
1. Proses melahirkan normal atau sesar
“Melahirkan normal ya? Kok tahan sih sakitnya? Setelah melahirkan suami ada keluhan nggak saat berhubungan seks?”
“Kok sesar sih, belum ngerasain dong ya jadi ibu yang sesungguhnya! Lagipula anak yang lahir secara sesar kan lebih rentan terkena masalah pernapasan karena paru-parunya tidak bersih sempurna.”
2. ASI atau SUFOR
“Duile pamer amat itu foto botol ASIP berderet-deret. Nggak empati sama ibu yang nggak bisa menyusui!”
“Udah usaha belum ngeluarin ASI-nya? Jangan-jangan belum usaha maksimal tapi udah keburu nyerah langsung ngasih sufor. Anak sufor kan gampang kena penyakit.”
3. Stay at Home Mom dan Working Mom
“Iya deh IRT yang hebat, bisa urus anak, suami. Tapi secara finansial tergantung dong ya sama pasangan.”
“Nggak kasian ya ninggalin anak sama ART? Kalau diapa-apain sama ART-nya gimana?”
4. Couple dan Single Mom
“Sok mesra banget sih sama suami, posting-posting foto berdua mulu di social media.”
“Jadi perempuan kok nggak bisa mempertahankan rumah tangga.”
5. Anak berprestasi dan anak biasa-biasa saja
“Pasti tipe tiger mom deh yang selalu ngepush anak. Nggak kasian apa sama anaknya, jadwal fullbegitu, kapan senang-senangnya?”
“Itu anak gimana mau survive ke depannya kalau hidupnya santai banget. Mamanya kok kayak nggak peduli gitu ya, nggak ada tuntutan sama sekali.”
6. Bentuk tubuh ideal dan gemuk
“Pasti sedot lemak deh, masa udah punya anak dua dan masih kecil-kecil bentuk badannya bisa seperti model.”
“Nggak bisa urus badan banget sih. Iya sih baru lahiran, tapi usaha kek, diet kek, olahraga kek, pakai korset kek.”
7. Instant Food dan Homemade Food
“Kok tega anak dikasih makanan instan yang nggak jelas kualitasnya. Pasti mamanya pemalas banget.”
“Sok sehat banget sih, apa-apa harus bikin sendiri. Terlalu maksain diri jadi ibu.”
Dan silakan lanjutkan sendiri Mom daftar di atas….
Somehow, saya merasa, kadang kita sebagai sesama perempuan, sebagai sesama mommies bisa lebih jahat terhadap satu sama lain. Padahal kita kan sama-sama menjalani posisi sebagai ibu ya. Paham susahnya, bahagianya, jatuh bangunnya. Yang membedakan itu jalanan yang kita lalui.Mungkin memang ada yang jalannya mulus diaspal bagus. Ada juga yang dilapis aspal sih tapi kualitas jelek jadi gampang bolong-bolong. Atau ada juga yang harus lewat jalan bebatuan yang super rusak. Tapi tujuannya sama nih, sama-sama ingin mendidik dan membesarkan anak sebaik-baiknya.
Jadi, untuk kita yang mungkin masuk ke dalam kelompok penindas, mari kita hentikan segala tekanan-tekanan nggak penting itu. Daripada saling menghujat, menjatuhkan atau menghakimi, lebih baik saling support dan minimal berikan solusi.
Dan untuk kita yang masuk ke dalam golongan yang tertindas (ahahahha), jangan biarkan rasa kecil hati kita mendominasi pikiran. Nggak perlu merasa malu, merasa minder atau terintimidasi dengan keputusan yang telah kita ambil. Tentunya tidak salah kalau kita ingin menjadi ibu yang lebih baik lagi, namun kalau keinginan itu membuat kita depresi karena mungkin tidak sesuai dengan kepribadian kita atau kemampuan kita, so STOP IT!
Akui saja, bahwa di balik sebuah image yang super sempuran sekali pun, akan selalu ada tempat untuk ketidak sempurnaan hadir. Jadi, akui saja bahwa kita memang tidak sempurna. Apa yang salah memang menjadi manusia yang tidak sempurna? Ingat, kita itu manusia bukan Tuhan keleuuuus!! :)
(artikel diatas diambil dari mommiesdaily.com)
----------------------------------------------------------------------------------------------------
komentar saya:
Karena kita makhluk sosial yang tinggal bersama makhluk hidup lain, sepertinya sudah menjadi konsekuensi kita ya untuk menerima perbedaan pendapat dan perlakuan.
Tapi sewaktu saya menjadi ibu baru (yang gak ada training/panduan manual-nya), saya merasakan dan mengalami berbagai macam diskriminasi/menerima judge karena dibanding-bandingkan dengan Ibu atau anak lain.
Perlakuan tersebut bisa datang dari keluarga sendiri, lingkungan teman-teman (inner social circle), ataupun tetangga sekitar.
Diantaranya: 1. Asi saya yang baru keluar di hari ke empat sempat membuat saya stress, karena takut akan tekanan menyerah bayi diberi sufor. -- Untungnya saya bertahan asi akan keluar dan tidak diberi sufor.
2. Selama MPASI perbedaan mengenai masakan instan atau homemade, perbedaan diberi gulgar atau tidak. -- Saya rasa saya punya keputusan yang terbaik untuk anak saya.
3. Ketika anak saya sudah dicampur sufor dari umur 11 bulan sepertinya saya melakukan dosa besar tidak bisa me-manage ASI sampai bisa full asi sampai 2 tahun tanpa tambahan sufor. :'(
4. Ketika ibu-ibu lain membanding-bandingkan berat badan anak, seolah-olah berat badan anak yang paling tinggi lah yang paling sehat dan cerdas.
5. Ketika membanding-bandingkan proses tumbuh kembang anak, si A sudah bisa jalan, Si B sudah bisa bernyanyi, Si C sudah bisa berhitung, menghapal warna, alfabet, huruf hijaiyah, dll. dll.
6. Dan yang sedang dibicarakan sekarang adalah: ko umur sudah 2.5 masih pakai pospak, belum di toilet training. -- Duh.. setiap ibu dan anak punya kesiapan masing-masing. Ini perihal waktu saja. Toh saya dan anak saya yang menjalani. (Alhamdulillah Arkan sekarang 2tahun 8bulan sudah lepas pospak siang malam dan berpergian)
:)))). I still remember quote “girls compete with each other. But woman empowering one another”
Tentunya jika kita sudah menjadi istri, dan ibu, diharapkan sudah dewasa ya untuk dijadikan panutan anak kita juga semoga kita saling mendukung, bukan saling bersaing.
With love,














