Supinah, Perempuan Dengan Tiga Nama
Supinah pergi ke Jakarta setelah lebih dari 5 bulan tak lagi menerima surat dari Katidjo. Setibanya di Jakarta, Supinah diperkosa oleh dua orang tukang becak, dipungut di jalanan oleh seorang juragan, dan diperkosa oleh anak si Juragan, lalu diusir setelah membentak si Juragan, yang ia pikir juga ingin memerkosanya. Supinah pergi meninggalkan rumah si Juragan, dan bertemu dengan Katidjo di sebuah warung hanya untuk mendapati kenyataan bahwa ternyata suaminya itu sudah kawin lagi. Setelah diperkosa tiga kali secara berturut-turut dan mendapati suaminya sudah kawin lagi, Supinah menyelusuri jalanan di Jakarta seperti orang hilang akal, lalu jatuh pingsan di pinggir parit di mana Rais, yang pada saat itu sedang kencing, menolongnya. Rais kemudian mengubah nama Supinah menjadi Mila, mengajarinya bahasa Inggris dan berdansa, dan menjadikannya pelacur kelas tinggi.
Itu adalah secuplik adegan dalam film Bernapas Dalam Lumpur yang diproduksi pada tahun 1970. Meski dilabeli sebagai tonggak film esek-esek lokal, Bernapas Dalam Lumpur sesungguhnya bisa dibaca lebih dari itu.
“Yang salah adalah kami, perempuan,” kata Supinah, yang diperankan oleh Suzanna (1942-2008). “Golongan Saudara, laki-laki, tidak pernah berbuat salah.” Ada gugatan kaum perempuan terhadap dunia patriarki dalam kutipan tersebut, yang mengingatkan saya pada tembang lawas yang pernah dinyanyikan oleh James Brown dan Betty Jean Newsome; It’s a man’s man’s man’s world. Gugatan tersebut, saya pikir, masih relevan jika dikumandangkan pada hari ini, di mana dunia masih menjadi a man’s world, dan mengingat bahwa film ini dirilis pada tahun di mana film nasional diramaikan oleh adegan-adegan yang merepresentasikan bahwa dunia ini memang milik lelaki, kata-kata Supinah sebenarnya tergolong subversif pada masanya.
Kemudian, seorang lelaki dari kalangan terhormat datang kepada Supinah yang sudah menjadi Mila. Lelaki ini bernama Budiman, dan setelah mengubah nama Supinah alias Mila menjadi Yanti, ia mengajak perempuan ini masuk ke dalam dunianya, “dunia orang terhormat.” Tapi apakah ukuran terhormat itu? “Berdansa? Peluk-pelukan? Mabuk-mabukan? Pulang pagi?” kata Budiman, yang diperankan oleh Rachmat Kartolo (1938-2001). “Itu yang dikatakan orang sekarang; terhormat, modern, terpelajar.” Ada nada sinis terhadap apa yang disebut modern di sini, nada yang sama dengan nada yang disuarakan oleh Abdul Muis (1886-1959) dalam novelnya, Salah Asuhan (1928), di mana sekolah Belanda telah membuat Hanafi menjadi anak lelaki yang durhaka kepada ibunya dan suami yang suka bertindak kasar kepada istri yang selalu ia sebut sebagai “istri pemberian ibu,” sebab di mata Hanafi, ibu dan perempuan Melayu bernama Rapiah pilihannya itu telah menghalangi dirinya menjadi modern dan mengawini Corrie du Bussee, seorang Noni Belanda yang juga adalah teman sekolahnya. Sembilan puluh tahun kemudian nada yang serupa ternyata masih relevan untuk dibicarakan, dan kembali digaungkan oleh penulis peraih nobel sastra asal Turki, Orhan Pamuk, dalam The Museum Of Innocence (2008), di mana gadis-gadis dari kelas borjuis di Istanbul digambarkan sudah mulai terwesternisasi, berani mengenakan rok mini, merokok, dan minum minuman beralkohol, tapi masih takut kehilangan keperawanan. Sinisme tersebut ditujukan kepada modernisme Barat yang diadopsi secara dangkal di negeri-negeri Non-Barat, yang seringnya membuat manusia-manusia Non-Barat jadi mengidap krisis identitas. Dalam Bernapas Dalam Lumpur, krisis identitas di tengah modernitas ini juga tercermin melalui perubahan nama Supinah menjadi Mila, dan kemudian Yanti. Supinah, kata Budiman, adalah nama orang kampung, sementara Mila adalah nama pemberian seorang germo, yang juga barangkali terkesan terlalu Barat. Budiman lebih suka menyebut Supinah dengan nama Yanti; tidak terlalu kampung, juga tidak terlalu modern. Tapi, bagaimana dengan Supinah sendiri?
Dalam novel Bumi Manusia (1975) karangan Pramoedya Ananta Toer (1925-2006), orang mulai menyebut Sanikem dengan sebutan Nyai Ontosoroh, setelah ia “dijual” oleh ayahnya kepada Meneer Mellema. Namun, setelah ia mendapatkan kembali kehormatannya dengan menjadi seorang pengusaha perkebunan yang sukses dan disegani oleh banyak orang, Sanikem meminta siapapun yang berhadapan dengannya untuk tetap menyebutnya Nyai (sebutan bagi seorang gundik). Nyai Ontosoroh telah membunuh Sanikem dalam dirinya. Baginya, Sanikem adalah nama dari seorang anak perawan yang lemah dan telah dikalahkan oleh nasib. Dalam serial televisi rilisan HBO, Game Of Thrones, seorang budak Unsullied dari negeri Astapor yang bernama Torgo Nudho (dalam bahasa Valiryan berarti, si Cacing Kelabu) juga menolak untuk menggunakan kembali nama pemberian orangtuanya setelah ia dibebaskan dari perbudakan. “Nama pemberian orangtuaku adalah nama yang terkutuk, sebab aku diambil sebagai budak saat menggunakan nama tersebut,” kata Torgo Nudho, yang diperankan oleh Jacob Anderson. “Tapi nama “Cacing Kelabu” ini adalah nama kehormatanku, sebab dengan nama inilah aku telah dibebaskan.” Baik Nyai Ontosoroh maupun Torgo Nudho memilih untuk memangkas masa lalu mereka, dan menjadikan kesialan nasib, yang menempel pada nama baru keduanya, sebagai kekuatan, juga monumen atas kemenangan masing-masing terhadap nasib buruk yang pernah mereka alami.
Tapi Supinah tak memiliki kegagahan semacam itu, dan karakter semacam inilah yang justru membuat dirinya jadi lebih mendekati kenyataan ketimbang sosok Nyai Ontosoroh atau Torgo Nudho. Supinah tetap menjadi Supinah saat ia bertemu dengan ibu dan anak perempuannya di kampung, lalu kembali menjadi Mila saat kembali ke Jakarta dan menjadi pelacur, dan menjadi Yanti hanya saat ia bertemu dengan Budiman. Jika Supinah adalah nama perempuan yang telah disakiti oleh nafsu lelaki, maka Mila adalah nama perempuan yang mengambil keuntungan dari nafsu tersebut, sementara Yanti adalah nama pemberian seorang kekasih.
Supinah tak bisa memilih salah satu di antaranya. Ia tak bisa hanya menjadi Supinah, janda miskin yang harus menanggung biaya hidup ibu dan anak perempuannya. Hingar-bingar Ibu Kota juga barangkali telah mencerabut Supinah dari asalnya sehingga ia tidak mungkin lagi bisa menikmati kehidupan di kampung halamannya. Tapi ia juga tak bisa hanya menjadi Mila, dan menanggalkan Supinah dari dalam dirinya, sebab tak seperti Nyai Ontosoroh maupun Torgo Nudho, ia tak punya masalah dengan orangtuanya. Ia pun tak bisa meninggalkan Yanti, nama pemberian Budiman, sebab ia telah jatuh cinta kepadanya. Meski Budiman telah menyediakan jalan bagi Supinah alias Mila untuk menjadi Yanti, dan berjanji akan menjamin masa depan anak perempuan serta ibu Supinah di kampung, tapi ia tetap tak bisa lepas dari Mila, sebab Rais telah menjebaknya ke dalam sindikat perdagangan manusia, dan siap “mengimpor” Supinah alias Mila ke Hongkong. Lagipula, ia juga tak tahan pada gunjingan teman-teman modern Budiman yang tetap memandangnya sebagai pelacur. Di hadapan mereka, Supinah tak akan pernah menjadi Yanti, dan ini membuat ia selalu merasa tak pantas bersanding dengan Budiman. Bagi Budiman sendiri, Yanti adalah manifestasi kekecewaannya terhadap apa yang disebut modern. Menurutnya, tingkah laku teman-teman terhormatnya yang modern itu tak ada bedanya dengan pelacur. Modernisme pulalah sesungguhnya yang membuat Supinah harus pergi ke Jakarta untuk menyusul Katidjo, yang harus mencari pekerjaan lain di Ibu Kota setelah sawah yang biasa ia garap di kampung dijual. Supinah sendiri tak tahu apakah ia adalah seorang pelacur, seorang kekasih, atau ibu dan anak perempuan yang telah gagal mempersembahkan masa depan yang lebih baik bagi ibu dan anak perempuannya sendiri. Di akhir cerita, Supinah mati di hadapan ibu dan anak perempuannya (yang tetap memandangnya sebagai Supinah), Budiman (yang memandangnya sebagai Yanti), dan seorang sahabatnya yang juga bekerja sebagai pelacur (yang memandangnya sebagai Mila).
Alih-alih memandangnya sekadar sebagai film bertema esek-esek, Bernapas Dalam Lumpur bisa dilihat sebagai tragedi perempuan di zaman modern yang dihimpit oleh tatanan masyarakat yang masih bersifat patriarkis, seperti Anna Karenina (1878), karangan Leo Tolstoy (1828-1910), atau pendahulunya, Madame Bovary (1857), karangan Gustave Flaubert (1821-1880). Madame Bovary sendiri pernah mengalami nasib serupa Supinah saat kisahnya diangkat ke layar sinema oleh sutradara asal Jerman, Hans Schott-Schöbinger (1901-1984), yang mengadaptasinya menjadi film drama bergenre komedi esek-esek berjudul I Peccati di Madame Bovary (1969), atau The Sins Of Madame Bovary, dan dibintangi oleh aktris panas Italia kelahiran Prancis, Edwige Fenech, yang di Indonesia setara dengan Eva Arnaz.
It’s a man’s world, after all. Seperti kata Supinah, yang salah adalah perempuan, dan di dunia lelaki ini, berbicara soal pelacur, juga perempuan yang tak setia, memang tak akan pernah jauh dari urusan esek-esek.