TIL that 900 workers have died in their mission to build the infrastructure for 2022 UEFA World Cup in Qatar. If the deathrate continue to be as high, at least 4000 workers will die before the actual event begins.
READ MORE AT http://popi.st/1HC2zgJ


#dc comics#batman#bruce wayne#dc#dick grayson#dc universe#tim drake#batfamily#batfam#dc fanart




seen from Costa Rica
seen from China

seen from Malaysia

seen from Costa Rica
seen from Yemen

seen from United States
seen from China

seen from Costa Rica
seen from Malaysia

seen from Spain

seen from Costa Rica
seen from China

seen from Costa Rica
seen from China

seen from New Zealand
seen from China
seen from Bulgaria

seen from New Zealand

seen from Costa Rica
seen from United States
TIL that 900 workers have died in their mission to build the infrastructure for 2022 UEFA World Cup in Qatar. If the deathrate continue to be as high, at least 4000 workers will die before the actual event begins.
READ MORE AT http://popi.st/1HC2zgJ
365
Tiba ratus enam puluh lima hari yang lalu hatimu pulang, membayar lunas dua ratus delapan belas hari kepergianmu yang kukira tak kembali. Kita duduk di meja berhadap-hadapan. Lima menit yang lalu kamu menyelesaikan semangkuk bakso favoritmu dan sekarang kamu menyeruput es jeruk sambil memperhatikan makanku yang selalu lama. Aku melirik kecil, masih menyendokkan potongan bakso terbesar yang ternyata berisi telur rebus. "Kenapa lihat-lihat? Kangen liat gue makannya lama?" Kamu langsung tertawa. Untung saja nggak sampai tersedak. Lalu tanpa kamu sadari juga, kepalamu mengangguk pelan, seperti mengiyakan pertanyaanku. "Kok lo tadi ngiyain aja sih waktu ada cewek yang nanyain kalo gue cewek lo?" tebasku lagi. "Gue kangen sama lo." Nah, kali ini akulah yang tersedak. Buru-buru kutarik segelas es jeruk di kanan mangkuk baksoku, dan kuteguk pelan-pelan supaya makanan yang tersangkut di tenggorokanku kembali ke jalan yang benar. "Bisa aje lo," balasku setengah bercanda. Aku tahu benar pipiku langsung mekar mendengar ucapanmu dan aku kemudian menyembunyikannya dengan menundukkan kepala. "Serius." Kulihat wajahmu tak menyiratkan sepercik candaan sedikitpun saat mengucapkannya. Matamu fokus menatapku dan tak ada intensi untuk melihat ke arah yang lain. "Kita masih ada masalah yang belum selesai," bisikku lirih. "Gue sayang sama lo." Aku meremas remas jariku sendiri mendengar kalimatmu. Aku pernah mendengar hal yang sama sebelumnya. Gilanya, aku masih sama tersipunya dengan pertama kali aku mendengar hal itu terucap dari bibir yang sama. "Apa yang bedain sayang lo yang dulu sama sayang lo yang sekarang?" "Gue mau selesaiin masalah kita. Gue nggak bakal ngulangin kesalahan yang sama." Tipikal. Klise. "Apa yang bikin lo ngomong gue terlalu baik buat lo dulu?" Air mataku hampir luruh, bahkan dengan mengucapkannya aku masih inget benar perih yang mendera akibat kalimat tersebut. "Karena gue nggak yakin lo sayang sama gue waktu itu." Apa-apaan? "Kenapa dulu lo nggak ngomong sama gue?" tuntutku lagi. "Itulah masalah gue yang jadi masalah kita." "Kok bisa lo mikir gue ga sayang sama lo waktu itu?" "Karena gue yang dulu bego." "Lo..." Tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan. "Apakah terlalu kurang ajar kalau gue masih ngarep kesempatan kedua?" Aku terdiam lagi mendengar pengakuanmu. Kalau saja aku bisa mengungkapkannya, aku pun masih menyimpan rasa untukmu. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai kedai bakso, menandakan kecemasanku semakin meningkat. Beberapa menit kami hening dan aku masih tak berani menatapmu yang setia menunggu jawaban dariku. Akhirnya aku tak tahan juga dengan situasi seperti ini. Situasi yang membutuhkanku dan hanya aku yang bisa memecahkan ketegangannya. Meluncurlah kalimat ini dari bibirku, "Gue kangen manggil lo 'kamu'." Di sebuah meja di kedai bakso Titoti Pasar Minggu, 20 April 2014 Based on actual event, with some changes.