What if there is no "you" (word) in this world? Then "I" means nothing.
Ad Mireya
dirt enthusiast

JBB: An Artblog!
TVSTRANGERTHINGS

ellievsbear
Claire Keane
will byers stan first human second

blake kathryn
Game of Thrones Daily

Janaina Medeiros
styofa doing anything
Today's Document

❣ Chile in a Photography ❣

izzy's playlists!
Not today Justin
almost home

Origami Around

Love Begins

No title available
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
tumblr dot com

seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Singapore

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Morocco

seen from United States
@kulitcokelat
What if there is no "you" (word) in this world? Then "I" means nothing.
Ad Mireya
If I should live without you, that's the only life I never want to.
Kulit Cokelat
1. Ini dia si jali-jali yang bisa bikin gue jatuh sejatuh-jatuhnya atau terbang setinggi-tingginya. Sejauh ini sih, dia ga komplain sama sifat gue yang separah ini, tetep betah nemenin gue dua tahun terakhir ini. Baiknya lagi, katanya dia sih masih betah nemenin gue sampe tujuh puluh tahun lagi. 2. Ini penampakan gue sama dia setelah empat hari jadian dua tahun yang lalu. Masih culun guenya karena maklumlah maba semester dua (walaupun gue sekarang masih cupu juga) 3. Yang ini penampakan gue sama dia seminggu setelah balikan. Kita sempet putus dulu beberapa saat, khilaf khilafan, sadar, trus balik lagi akhirnya. 4. Makasih buat dia yang setia di sisi gue mulai dari gue masih chubby, alay dan kebocahan. 5. Sampe gue udah mulai tirus walaupun makannya makin banyak. . . Happy 2nd anniversary Dear. I’m sorry I’m not a romantic type, and thank you for loving who I am.. :*
This is us~
I don't believe love at first sight, cause I'm in love whenever I see you.
Ad Mireya
Love is not blind, because I can see you.
Ad Mireya
Cerita Tentang Kopi
Kopi. Ia selalu berkata padaku ia menyukai minuman berwarna hitam itu saat mengerjakan tugasnya. Matanya selalu berbinar saat ia menjelaskan bagaimana cara menyeduh kopi yang benar. Ia pun memberitahuku formula "ramuan" yang paling pas untuk lidahnya. Aku pernah bertanya padanya, "Kopi apa yang jadi favoritmu?" Lalu ia menjawab, "Aku nggak terlalu punya favorit. Kopi punya rasanya sendiri. Tapi aku bisa tahu kopi apa yang sedang ku minum." Aku masih belum puas dengan jawabannya dan kembali mengajukan pertanyaan, "Lalu dimana letak perbedaannya?" Sebuah senyum terkembang dari bibirnya. "Mulai dari tingkat keasaman, kekuatan rasa, hingga aromanya." Aku manggut-manggut saja mendengarnya. Lalu jiwa penasaran dan menyelidikku kembali melompat, ingin mengajukan pertanyaan terakhir, yang paling alay mengenai kopi. "Kalau aku diibaratkan kopi, aku ini jenis kopi apa buat kamu?" Seketika ia tertawa, bahunya terguncang-guncang saking menahan gelinya mendengar kalimatku barusan. Aku merengut tak senang melihatnya. Sambil mencoba mengatur ulang pembawaannya yang telah luntur sehabis menertawakanku, ia malah melempar kembali pertanyaan padaku, "Kamu yakin mau disamain sama kopi?" "Lah kenapa emangnya?" Aku masih cemberut. "Kopi kan cuma aku manfaatin buat bikin aku melek." "..." "Kopi juga pahit kalo ga dikasih gula..." "Apasih..." Kupalingkan wajahku dari tatapannya. Kali ini aku dibuatnya salah tingkah. "Kamu nggak akan pernah bisa diibaratkan sama salah satu jenis kopi, soalnya kalau iya aku bakal sering selingkuh dari kamu." Ia tertawa lagi, namun suara tawanya lebih menyenangkan dibanding sebelumnya. "Sekarang aku nanya, kenapa kamu nanya kaya gitu?" "..." Aku tak menjawab karena memang tak tahu harus menjawab apa. "Kamu cemburu sama kopi?" "???" - Bukan cemburu, namun iri. Iri karena kenapa kopi yang bisa membuatnya lebih semangat saat ia bekerja. Iri kenapa ia begitu mengenal kopi hingga ke detilnya. -
Sudah setengah jam aku menunggu Gael di taman. Kemarin ia berjanji akan datang pukul empat sore ini. Namun ia terlambat. Lagi-lagi terlambat. Kakiku mengentak-entak ke tanah perlahan, hingga lama-lama seperti gemetaran. Kucoba menengok kanan kiri, siapa tahu ia sedang mengerjaiku kali ini. Namun sepertinya aku terlalu positif thinking. Ia belum terlihat sejauh mataku memandang. Di bangku sebelah duduklah sepasang kekasih yang juga sedang dimabuk asmara. Mereka duduk berhimpitan di bangku yang bahkan masih menyisakan tempat yang cukup untuk dua orang. "Huh, awas saja kalau Gael datang. Kami juga bisa bermesra-mesraan seperti kalian," cibirku kesal saat mereka mulai mendekatkan kepala mereka. Aku memalingkan wajah 180 derajat dari mereka. Dari kejauhan nampak Gael yang setengah berlari ke arahku. Tangannya melambai-lambai, dan dari wajahnya yang pucat terengah-engah aku dapat membaca permohonan maafnya. "Maaf sayang, aku ketiduran lagi," katanya sambil mengatur nafas. Aku tahu benar ia pasti berlari dari rumahnya dan langsung menuju kesini begitu tahu ia sudah terlambat. "Hmmmm..." sahutku malas. "Pasti kamu nggak pasang alarm sekaligus silent handphone kamu kan?" tuduhku padanya, mengingat ia tak juga mengangkat beberapa panggilan dariku. "Handphoneku mati Say. Baterainya abis." Ia menatapku dengan tatapan penyesalannya. "Apa yang harus aku lakukan biar kamu nggak marah lagi sama aku?" Akhirnya ia menyerahkan badannya untuk duduk di sampingku. Tangannya kemudian bergerak membelai punggung tanganku. Aku pura-pura mengacuhkannya dan memandang ke arah lain. Taman ini sedang ramai rupanya. Tiba-tiba muncul ide garing di pikiranku. "Lihat tuh, gara-gara kamu telat datangnya, aku jadi ngeliatin mbak-mbak sama mas-mas itu mesum sendirian kan.." Gael masih menungguku sambil berpikir kira-kira apa yang akan aku tuntutkan padanya setelah kuselesaikan kalimatku. "Kita gangguin mereka yuk." Nah! Wajahnya langsung berkeriut aneh, antara takjub, ragu, dan geli bercampur menjadi satu. "Tapi Sayang..." "Katanya kamu mau ngelakuin apa aja buat dapet maaf dari aku?" tanyaku setengah memperingatkannya. Tak sabar, aku langsung menariknya ke bangku sebelah. Cup..cup..cup.. Mereka masih asik dengan kegiatan mereka sedari tadi. Aku dan Gael memandangnya setengah jijik. Tanganku spontan menarik ke belakang rambut si cewek yang dikucir kuda. Tak ada respon, dan sepertinya si cewek mengira itu adalah perbuatan cowoknya. Gael bertepuk tangan tepat di samping telinga si cowok. "Sayang," Gael memanggilku pelan. Aku masih penasaran dengan mereka yang sama sekali tak menghiraukan kami. Tidak tahu malu. "Kita juga bisa seperti kalian," sinisku. Kuraih kepala Gael dan mencium pipinya. "Sayang..." desah Gael lagi, sepertinya ia sudah menyerah dan tak ingin mengganggu pasangan yang mesum sore-sore itu. "Kamu kok nyerah gitu aja sih?" tanyaku bete. Detik selanjutnya aku mencoba menggelitik pinggang si cewek yang sedari tadi diraba-raba oleh cowoknya. "Olivia Hansen." Saat Gael sudah menyebutkan nama lengkapku, itu artinya aku harus memfokuskan diriku 100% padanya. Gael menggenggam tanganku erat-erat dan menatap ke dalam mataku. "Dengar. Bukannya aku nggak nurutin kamu. Pertama: itu bukan urusan kita gangguin kemesuman mereka. Kedua: aku sama kamu udah dua tahun jalan dan kamu masih nggak inget kalau kita ini invisible couple?" It's a promise for writing flash fiction about invisible couple. Mireya's Private Room April 24th 2015
When I say "I Love You", the only reason why I say it, is you.
Ad Mireya
365
Tiba ratus enam puluh lima hari yang lalu hatimu pulang, membayar lunas dua ratus delapan belas hari kepergianmu yang kukira tak kembali. Kita duduk di meja berhadap-hadapan. Lima menit yang lalu kamu menyelesaikan semangkuk bakso favoritmu dan sekarang kamu menyeruput es jeruk sambil memperhatikan makanku yang selalu lama. Aku melirik kecil, masih menyendokkan potongan bakso terbesar yang ternyata berisi telur rebus. "Kenapa lihat-lihat? Kangen liat gue makannya lama?" Kamu langsung tertawa. Untung saja nggak sampai tersedak. Lalu tanpa kamu sadari juga, kepalamu mengangguk pelan, seperti mengiyakan pertanyaanku. "Kok lo tadi ngiyain aja sih waktu ada cewek yang nanyain kalo gue cewek lo?" tebasku lagi. "Gue kangen sama lo." Nah, kali ini akulah yang tersedak. Buru-buru kutarik segelas es jeruk di kanan mangkuk baksoku, dan kuteguk pelan-pelan supaya makanan yang tersangkut di tenggorokanku kembali ke jalan yang benar. "Bisa aje lo," balasku setengah bercanda. Aku tahu benar pipiku langsung mekar mendengar ucapanmu dan aku kemudian menyembunyikannya dengan menundukkan kepala. "Serius." Kulihat wajahmu tak menyiratkan sepercik candaan sedikitpun saat mengucapkannya. Matamu fokus menatapku dan tak ada intensi untuk melihat ke arah yang lain. "Kita masih ada masalah yang belum selesai," bisikku lirih. "Gue sayang sama lo." Aku meremas remas jariku sendiri mendengar kalimatmu. Aku pernah mendengar hal yang sama sebelumnya. Gilanya, aku masih sama tersipunya dengan pertama kali aku mendengar hal itu terucap dari bibir yang sama. "Apa yang bedain sayang lo yang dulu sama sayang lo yang sekarang?" "Gue mau selesaiin masalah kita. Gue nggak bakal ngulangin kesalahan yang sama." Tipikal. Klise. "Apa yang bikin lo ngomong gue terlalu baik buat lo dulu?" Air mataku hampir luruh, bahkan dengan mengucapkannya aku masih inget benar perih yang mendera akibat kalimat tersebut. "Karena gue nggak yakin lo sayang sama gue waktu itu." Apa-apaan? "Kenapa dulu lo nggak ngomong sama gue?" tuntutku lagi. "Itulah masalah gue yang jadi masalah kita." "Kok bisa lo mikir gue ga sayang sama lo waktu itu?" "Karena gue yang dulu bego." "Lo..." Tak tahu lagi apa yang harus kuucapkan. "Apakah terlalu kurang ajar kalau gue masih ngarep kesempatan kedua?" Aku terdiam lagi mendengar pengakuanmu. Kalau saja aku bisa mengungkapkannya, aku pun masih menyimpan rasa untukmu. Kakiku mengetuk-ngetuk lantai kedai bakso, menandakan kecemasanku semakin meningkat. Beberapa menit kami hening dan aku masih tak berani menatapmu yang setia menunggu jawaban dariku. Akhirnya aku tak tahan juga dengan situasi seperti ini. Situasi yang membutuhkanku dan hanya aku yang bisa memecahkan ketegangannya. Meluncurlah kalimat ini dari bibirku, "Gue kangen manggil lo 'kamu'." Di sebuah meja di kedai bakso Titoti Pasar Minggu, 20 April 2014 Based on actual event, with some changes.
He's (T)here
Berjuta kata membanjiri otakku, silih berganti menyeruak tak sabar ingin dimuntahkan. Argh! Dengusku kesal. Jari-jariku gemetar, tak sanggup lagi meladeni serangan itu. Kepalaku mulai berdenyut seakan mau meletus oleh hamburan kata-kata invisible yang bervolume. Kupandangi lagi layar laptopku tak bergeming, bahkan lembaran dokumen elektronik itu juga masih kosong. Mencoba menghindari rasa bersalah, aku bangkit dari kursi dan berjalan ke pantry untuk menjemput beberapa kudapan yang masih tersisa. Akhir-akhir ini depresiku sering kambuh. Dan aku tak bisa menyalahkannya yang sedang memperjuangkan impiannya di benua seberang. Sudah dua bulan ia pergi, dan dua bulan juga kami hanya berhubungan lewat surel. Ah, lagi-lagi aku merindukan pria itu. Apa yang sedang dilakukannya ya? Apakah ia nyaman dengan cuaca musim semi di sana? Apa yang biasa disantapnya saat sarapan? Hujan deras di luar menggodaku untuk membuat secangkir teh panas. Kuputuskan untuk menyeduh teh Earl Grey yang menjadi favoritku sekaligus favoritnya. Perlahan senyumku mengembang, mengingat kebiasaannya di waktu hujan seperti ini. Jika ia di sini, ia pasti akan memintaku untuk duduk di sofa merah kesayangan kami, kemudian ia akan tidur berbantalkan pahaku yang chubby, dan ia bergelung di bawah selimut rajut berwarna kelabu sambil menonton acara TV yang kami pilih secara acak. Selanjutnya ia akan bermanja-manja dan mengajakku berbincang tentang masa lalunya, hingga masa depannya. Aroma bergamot dari teh yang kuseduh menyadarkanku dari lamunan tentangnya. Kurasakan mata dan hatiku hangat. Aku tertawa kecil, menyadari betapa rapuh diriku tanpanya. Aku berjalan kembali ke meja laptopku dan mulai mengetikkan surel rindu harianku padanya. Tak lupa untuk mengecek ulang tulisan di surelku, aku mengirimnya. Kutiup-tiup tehku beberapa saat dan kusesap. Sepintas kulirik kalender yang bertengger manis di mejaku. Ah, sudah tanggal 19. Deadline untuk tulisanku berarti tinggal tiga hari lagi, dan aku sama sekali belum menuliskan apapun untuk artikel sepuluh halaman yang diminta klien. Kepalaku berdenyut lagi, kali ini lebih kencang. Kupijit-pijit pelan dahiku yang lebar dan berkonsentrasi pada layar laptop. Tak ada inspirasi, hingga kemudian wajah priaku muncul di layar laptop, menarik kedua sudut bibirku lebar-lebar.Gemetaran tanganku memencet 'reply' pada layar laptop. "Happy monthversary Sayang..." suara yang sangat kukenal menyapaku dari seberang sana. Aku yakin, setelah video call ini, aku dapat segera menyelesaikan tulisanku lebih cepat dari yang pernah kulakukan.
Rindu
Gemetar batinku menahan rasa. Kau yang kunanti tak datang jua. Kudekap lututku menimang fakta. Kuingin dengarkan langkahmu menggoda. Angin bisikkan sepi di telinga. Bukan ini yang kuminta. Bukan dua hari, namun dua windu terasa. Satu senyuman kan sembuhkan lara. Bubur tak akan pernah bisa menjadi nasi. Hati ini belum siap mati. Jantungku pucat pasi. Mengharap kau yang tak pasti. Sudah dua hari aku menggila. Pasti kau tak menyangka. Rasaku memang tua. Dan egoku terlalu muda. Gemetar tubuhku menahan dosa. Kau yang suntikkan racunnya. Kudekap erat kenangan dan asa. Kuingin dengar lagi kau mengucap cinta.
Bom Waktu
Tik...tik...tik... Ia ada di sana, mengacuhkanku Selami lagi dunia dan egonya Ia tak pernah tau hatiku sendu Tik...tik...tik... Masih, aku pun tak berani mengadu Tetesan permataku luruh Ia masih tak tau, mungkin tak mau tau Tik...tik...tik... Sendiri tubuhku memeluk Tak mau terisak aku beringsut Tak bisa buang wajahku tertekuk Tik...tik...tik... Satu dua aku terima Tiga empat maklumi saja Lima enam rasaku durja Tik...tik...tik... Ranjau di otakku meletus DOR! Ledakan tak kuasa tertahan Segala kebanggaanku hangus Kemudian ia bergeming Tendang kembali petasan raksasa yang kuumpan Terlambat, aku terlanjur gila Hatiku berteriak, "Kau terlalu apatis Tuan!" "Bakar saja semuanya. Hancurkan saja ladangku ini. Kau juga tak akan peduli kan?" Ia tak akan lagi pernah tau Api yang kugenggam terlalu abadi Dan aku membiarkannya Menyala
Satu Sore di Februari 2014
Hey. Kemana saja kamu? Sudah lama rasanya aku tak melihat makhluk Tuhan yang satu itu. Yang selalu bahagia jika jenggotnya mulai tumbuh tipis-tipis. Yang matanya selalu bersinar saat melihat kamera. Yang semakin ganteng -ehem- di mataku. Ia masih sibuk mengetikkan sesuatu pada keyboard laptopnya sampai-sampai tak memperhatikanku yang sedari tadi mencuri lirik ke arahnya. Sebenarnya ia tepat di sampingku -di balik kaca-, namun tampaknya ia terlalu sibuk dengan urusannya sehingga tak sekalipun ia menengokkan kepalanya ke arahku, ataupun arah lainnya. Huft. Aku terlalu rindu padanya. Ia... Mantanku. Mantan kekasih yang tak pernah kuikhlaskan untuk pergi. Ia masih berharga meskipun perpisahan kami begitu menyakitkan. Namun setidaknya aku ingin melihat tatapannya sekali lagi. Apa yang harus kulakukan? Kurogoh saku kanan celana jeansku untuk mengambil ponsel. Berusaha tidak mencolok aku mencoba menghubunginya. Lewat chat saja. Maaf, aku tak tahan! Aku pun mengetikkan beberapa kata murahan padanya: "Hey cowok di balik kaca. Sendirian aja?" Hatiku berdebar kencang setelah menekan tombol enter. Dan segera menyembunyikan ponselku. Perutu mendadak mulas dan aku tiba-tiba ingin meninggalkan bangkuku begitu saja. Namun saat aku mulai berdiri, ia menoleh padaku dan... "Hey...!" sapanya riang. "Gue boleh gabung di sana?" Jantungku melompat dari tempatnya. Wajahku memerah dan hanya bisa mengangguk pelan. -based on an actual event. With some changes.
Memeluk Bumi
Ia begitu indah. Aku hampir tak bisa mengungkapkan betapa bahagianya aku yang dianugerahi pertemuan dengannya. Ia sangat ceria dan menyenangkan di siang hari, namun begitu misterius saat malam menjelang. Aku selalu datang di malam-malamnya, dan ia menyambutku dengan kilauan yang membalut tubuhnya. Aku sangat menikmati belaianku dan pelukanku padanya karena hanya itu yang bisa kulakukan untuk mendinginkan tubuhnya yang dihujam sinar matahari seharian. Apa lagi yang kuharapkan? Aku miliknya meskipun aku tak akan bisa memilikinya. Aku tak cukup gagah menemani dirinya yang megah. Sejujurnya aku sering berpikir ia tak pernah melihatku. Namun bukan itu yang kurisaukan. Aku hanya tak ingin apa yang selama ini kucurahkan tak lantas membuatnya risih. Sebagian dari kalian mungkin bertanya-tanya, mengapa kami tak bersatu? Bukan itu tujuan dari cinta. Setidaknya bukan apa yang selama ini kupahami dari cinta. Atau cinta seperti itu tak pantas kusandang. Sampai kapanpun aku sadar diri bahwa aku tak akan pernah bisa menyatu. Aku dan dia sekedar saling melengkapi, tak ingin membebani satu sama lain, memiliki kebersamaan yang indah, dan saling merindukan. Aku juga memiliki persepsi pribadi mengenai 'bersatu' dan 'bersama'. Perbedaannya tipis, namun signifikan. Coba bayangkan jika aku 'bersatu' dengannya. Aku hanya akan membebani dan bergantung padanya. Di sisi lain, aku sangat bahagia bersamanya. Aku yakin di beberapa titik ia membutuhkanku, dan aku merasa terhormat jika dapat menemaninya, menenangkannya, dan menyenangkannya. Satu hal, kuharap ia tak pernah bersedih oleh kehadiranku, karena satu tujuan cintaku, aku ingin melihat bumiku selalu tersenyum.
I've been with you for 20 times of '19' and I'll be with you for 20 times 19 more of times we've been through.
Dear My Future Husband
Aku tak akan memberimu banyak catatan mengenai diriku atau bagaimana rencanaku bersamamu nantinya, karena kitalah yang akan menulisnya bersama. Ketika saatnya kita nanti bersama percayalah aku telah membuka diriku sepenuhnya untukmu. Segala ketidakselarasan yang kita miliki aku telah siap untuk mengkompromikannnya denganmu. Kita seperti gitar dan senar yang tak akan bernada syahdu bila tak dipersatukan. Atau seperti amplop dan perangko yang tak akan sampai ke tujuan jika berdiri sendiri. Kita mungkin sangat berbeda, namun itu bukan menjadi alasan kita tak akan bahagia. Kita akan menemukan keasyikan kita sendiri dalam perbedaan itu, dan kita memiliki waktu yang panjang untuk menggali kegiatan kita. Katakanlah kau menyukai video games, dan aku lebih menyenangi kamera dan mendokumentasikanmu. Lalu mengapa kita tidak membuat video dan menjadi suksesor Pewdiepie? Atau kau lebih menyukai untuk bergelung memelukku di sabtu malam yang dingin sementara aku lebih senang menonton di bioskop. Lalu kita bisa membangun gundukan selimut di pojok sofa sambil menikmati film yang kita unduh seharian sambil bercengkrama bukan? Aku yakin, bukan hal-hal semacam itu yang bisa membuat jarak di antara kita. Aku bisa mentolerir seluruh isi dunia kecuali dua hal, perselingkuhan dan kekerasan. Aku juga sangat percaya kamu tak akan melanggar janji kita berdua. Dan karena itulah aku bersamamu. Kita tak butuh orang ketiga, atau ketika iya, ia akan lahir dari rahimku. Begitupun orang keempat dan seterusnya. Aku hanya menjanjikanmu satu hal. Kita akan menjalani kehidupan yang hebat bersama. Kamu dengan segala passion, pekerjaan, hobi dan ketertarikanmu akan dunia perfilman, lalu aku akan mendukungmu, mencurahimu dengan kata-kata penyemangat dalam setiap butir tulisanku. Aku tak akan pernah menuntutmu lebih, namun aku percaya kamu akan memberikan yang terbaik dari dirimu. Kita memiliki impian, dan betapa bahagianya apabila kita saling memberikan suntikan penyemangat setiap harinya sebagai motivasi untuk menjalani aktivitas kita masing-masing. Kita akan menjadi tim yang hebat. Setiap harinya kita akan menjalani aktivitas acak yang tak akan membuat kita bosan. Bahkan, jika kita memiliki kehidupan yang monoton pun aku yakin aku tak akan merasa bosan karena ada kamu di sisiku. Di beberapa waktu, kita mungkin akan disibukkan mempersiapkan hidangan untuk kunjungan orangtua atau saudara-saudara kita. Namun itulah indahnya menikah. Kita tak hanya bahagia mendapatkan seseorang yang akan menerima kita sebagaimana adanya diri kita, namun juga mendapatkan keluarga baru, yang juga menerima kita dan menganggap kita sebagai anak mereka sendiri. Sejujurnya aku sangat bersyukur karena mendapatkanmu. Karena aku yakin hanya kamu lah satu-satunya di dunia ini yang bisa melengkapi hidupku dengan sempurna. Terima kasih karena telah memberikan harta yang paling berharga untukku. Akan datang saatnya aku akan memberikan lebih dari apa yang telah kamu serahkan padaku. Dan ketika saat itu tiba, aku bisa menjadikanmu pria paling bahagia sedunia.
Menggapai Angin
Ia masih setia membelaiku. Satu hal yang selalu kudamba di penghujung malam. Begitu sejuk, menguapkan rindu yang kutahan selama satu putaran bumi. Ia tak mungkin menyadarinya. Yang ia tahu hanya datang dan pergi. Hidup memang adil. Aku terlalu mengenalnya di saat ia bahkan hanya tahu namaku. Sangat adil karena aku tak mengharapkannya. Lebih tepatnya aku telah gagal berharap. Pribadinya sangat menawan, menenangkan, menentramkan, dan sulit diraih. Tipikal. Sekali lagi ia membelaiku. Aku terlena, terpesona akan kehadirannya. Hawanya sedikit berseri, hangat seperti baru saja ada yang mendekapnya mesra. Apa aku yang berfikir terlalu jauh? Atau rasa yang terpendam ini mulai marah dan berontak dariku yang terlalu malu? Aku marah. Namun aku tak marah. Aku sedih, tetapi menangis pun aku tak pernah. Aku terlalu menerima semuanya. Aku sangat mencintainya. Bahkan mungkin tak bersyarat. Aku sangat sibuk mencurahkan rasa hingga tak sempat memikirkan syarat apa pun untuk mencintainya. Aku memang naif. Aku mencintai pemuja kebebasan. Jujur saja aku sangat mengagumi semangatnya. Sifatnya yang terlalu ramah pada semua, aku membencinya. Sangat menyenangkan bukan, ketika ia selalu bersikap hangat padaku namun ternyata itu hanya angan kosong? Lebih menyenangkan ketika kau mengetahui dan kau tetap mencintainya. Sudah kubilang, cintaku ini tanpa syarat.Tak ada syarat saja aku tak bisa memilikinya. Bagaimana jika ada? Satu hal yang kudapatkan, aku tak pernah menyesal mencintainya. Bisa dibilang aku masokis saat aku menikmati rasa sakitku mencintainya. Maksudku, cinta itu segala hal bukan? Cinta tak sekedar kau merasakan surga dalam dunia fana. Cinta juga berarti kau mengambil resiko merasakan kesakitan neraka dalam jantung hatimu. Yah, aku tak begitu mengenal cinta. Bagiku, tak perlu mengenal cinta untuk dapat mencintai. Cinta bukan hal nampak yang bisa dilihat ataupun dipelajari. Kau hanya akan mengetahuinyaa ketika kau merasakannya. Meskipun bukan dari dalam dirimu. Cinta akan menguar dan mempengaruhi siapa saja yang ada di sekitarnya. Mungkin ia terlalu naif. Atau sekedar tak peduli dengan cintaku. Bisa saja cintaku memang terlalu malu dan aku berusaha mengabaikannya. Aku hanya tak ingin ia marah mengetahui ternyata aku mencintainya. Hidupku akan kering tanpa kehadirannya. Aku tak mau mengatakannya. Biar saja terus begini. Aku lebih membutuhkan keberadaannya di sekitarku. Inikah yang sesungguhnya kuharapakn? Bagaimana jika aku mencobanya? Apa yang akan terjadi seandainya aku lebih terbuka? Seandainya, seandainya, seandainya. Lagi-lagi aku hanya bisa berandai-andai. Apakah cinta seharusnya bersyarat? Mungkin satu-satunya syarat yang harus kuajukan adalah jangan meninggalkanku? Namun apakah mungkin berdampingan dengannya? Membayangkannya saja aku tak kuat. Sulit rasanya menyandingkan bumi dan angin malam. Kurasa selamanya hanya akan berselimutkan dirinya tanpa bisa memilikinya. Itulah takdir yang digariskan.