Sudah setengah jam aku menunggu Gael di taman. Kemarin ia berjanji akan datang pukul empat sore ini. Namun ia terlambat. Lagi-lagi terlambat. Kakiku mengentak-entak ke tanah perlahan, hingga lama-lama seperti gemetaran. Kucoba menengok kanan kiri, siapa tahu ia sedang mengerjaiku kali ini. Namun sepertinya aku terlalu positif thinking. Ia belum terlihat sejauh mataku memandang. Di bangku sebelah duduklah sepasang kekasih yang juga sedang dimabuk asmara. Mereka duduk berhimpitan di bangku yang bahkan masih menyisakan tempat yang cukup untuk dua orang. "Huh, awas saja kalau Gael datang. Kami juga bisa bermesra-mesraan seperti kalian," cibirku kesal saat mereka mulai mendekatkan kepala mereka. Aku memalingkan wajah 180 derajat dari mereka. Dari kejauhan nampak Gael yang setengah berlari ke arahku. Tangannya melambai-lambai, dan dari wajahnya yang pucat terengah-engah aku dapat membaca permohonan maafnya. "Maaf sayang, aku ketiduran lagi," katanya sambil mengatur nafas. Aku tahu benar ia pasti berlari dari rumahnya dan langsung menuju kesini begitu tahu ia sudah terlambat. "Hmmmm..." sahutku malas. "Pasti kamu nggak pasang alarm sekaligus silent handphone kamu kan?" tuduhku padanya, mengingat ia tak juga mengangkat beberapa panggilan dariku. "Handphoneku mati Say. Baterainya abis." Ia menatapku dengan tatapan penyesalannya. "Apa yang harus aku lakukan biar kamu nggak marah lagi sama aku?" Akhirnya ia menyerahkan badannya untuk duduk di sampingku. Tangannya kemudian bergerak membelai punggung tanganku. Aku pura-pura mengacuhkannya dan memandang ke arah lain. Taman ini sedang ramai rupanya. Tiba-tiba muncul ide garing di pikiranku. "Lihat tuh, gara-gara kamu telat datangnya, aku jadi ngeliatin mbak-mbak sama mas-mas itu mesum sendirian kan.." Gael masih menungguku sambil berpikir kira-kira apa yang akan aku tuntutkan padanya setelah kuselesaikan kalimatku. "Kita gangguin mereka yuk." Nah! Wajahnya langsung berkeriut aneh, antara takjub, ragu, dan geli bercampur menjadi satu. "Tapi Sayang..." "Katanya kamu mau ngelakuin apa aja buat dapet maaf dari aku?" tanyaku setengah memperingatkannya. Tak sabar, aku langsung menariknya ke bangku sebelah. Cup..cup..cup.. Mereka masih asik dengan kegiatan mereka sedari tadi. Aku dan Gael memandangnya setengah jijik. Tanganku spontan menarik ke belakang rambut si cewek yang dikucir kuda. Tak ada respon, dan sepertinya si cewek mengira itu adalah perbuatan cowoknya. Gael bertepuk tangan tepat di samping telinga si cowok. "Sayang," Gael memanggilku pelan. Aku masih penasaran dengan mereka yang sama sekali tak menghiraukan kami. Tidak tahu malu. "Kita juga bisa seperti kalian," sinisku. Kuraih kepala Gael dan mencium pipinya. "Sayang..." desah Gael lagi, sepertinya ia sudah menyerah dan tak ingin mengganggu pasangan yang mesum sore-sore itu. "Kamu kok nyerah gitu aja sih?" tanyaku bete. Detik selanjutnya aku mencoba menggelitik pinggang si cewek yang sedari tadi diraba-raba oleh cowoknya. "Olivia Hansen." Saat Gael sudah menyebutkan nama lengkapku, itu artinya aku harus memfokuskan diriku 100% padanya. Gael menggenggam tanganku erat-erat dan menatap ke dalam mataku. "Dengar. Bukannya aku nggak nurutin kamu. Pertama: itu bukan urusan kita gangguin kemesuman mereka. Kedua: aku sama kamu udah dua tahun jalan dan kamu masih nggak inget kalau kita ini invisible couple?" It's a promise for writing flash fiction about invisible couple. Mireya's Private Room April 24th 2015