yeah more stuff also im playing around with the stuff I have

seen from Australia

seen from Singapore
seen from China
seen from United States
seen from Kazakhstan

seen from India

seen from Singapore
seen from United States
seen from Hong Kong SAR China
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Austria

seen from Malaysia
seen from China
seen from United States
yeah more stuff also im playing around with the stuff I have
Sore dan Game.
Fandom : Elsword
Genre : Platonic, Friendship, a bit of Romance
Pair : Add/Ain (or Ain/Add you’re free to intercept whether to become a seme lol)
Class : Erbluhen Emotion * Mastermind
Tet tet.
Kanan, kiri, kanan, kanan, atas, bawah, kiri.
Satu kali serang, lalu manuver menghindar saat naga melawan, kemudian melompat ke atas saat mengambil arah ke kanan.
Bar HP si naga juga sudah menurun, namun sialnya senjata sudah mengalami ketumpulan sehingga butuh ditukar dengan senjata lain. Belum-belum HP si player yang merosot karena beberapa kali kena serang si napas api barusan.
"... Go."
Sudah hilang akal.
Berbekal senjata seadanya, sang player mulai mengambil taktik lain. Kursor mulai mengarah jauh ke dekat perut naga, lalu menghabisi di situ. Diiringi lagu pertempuran, membuat fokus si player masih terpusat pada penyelesaian akhir quest tersebut.
Tada-da-da-da-tadah!
BAAM!
Bar HP si naga sudah habis.
Si monster raksasa langsung ambruk begitu selesai ditaklukkan.
"... Fyuh."
"Kau jago benar menyelesaikan quest level 150 itu." celetuk seseorang--tiba-tiba saja menginterupsi rasa lega pada si player.
Untuk satu detik, bulu kuduk si player seketika menyergap seluruh tubuhnya, serasa disetrum satu kali dalam keadaan sadar. Sembari berlindung dalam tudung kucing kebesaran, si player melirik gerangan pengganggu konsentrasinya barusan.
"... Ain?"
Walau tidak jelas karena sebagian besar wajah si pengganggu tadi tertutupi oleh tudung kucing, namun dari suara dan lekuk wajah tidak asing ini... Suara senandung pelan menambah kepastian sosok maskulin tersebut.
"Hai!"
"... Sekolahmu?"
Ain memberi sinyal dua jari di tangan kiri, "Selesai! Mumpung masih belum terlalu sore, ajari aku dong, main game. Itu level 150 kan? Gila nggak berat tuh?"
Sang player menggeleng kepala--bonus tatapan percaya diri, "Aku sudah lebih dari 5 kali mengambil quest level segitu. Masih mudah kok... Aku belajar bagaimana mengatur manuver menghindar dan mengincar titik lemah naga."
"Begitu ya. Sekalian deh, mau coba kelarin level 130!" Ain tiba-tiba duduk berdempetan persis di samping sang player, memberi sinyal untuk membantu, "Kamu bisa 'kan, Mr. Ancient?"
"Diam. Panggil itu sekali lagi, kau kutinggal."
"JANGAN---"
"Jadi?"
"... Iya deh, Add."
Tudung kucing diturunkan, menimbulkan rasa kaget bagi siapa saja yang menguping jenis kelamin Add--si teman Ain. Rambut panjang diikat ponytail, siapa tak sangka? Sudah begitu warnanya seputih salju yang dibumbui oleh warna ungu, warna yang aneh sekali.
Add lantas mendecih sebal sembari beringsut, "Sinikan game-nya. Kulihat apa yang aku bisa."
"Yaaay~"
Layar Nintendo 3ds milik Ain mulai menyala penuh, menampilkan game-game yang sudah diinstal. Ain lantas memilih salah satu dari mereka, kemudian mengatur karakter di game tersebut.
"Coba kulihat..." Add ikut menengok, "Yang itu butuh banget. Durability-nya tinggi. Coba scroll ke bawah. Satu, dua... Eh, bukan. Sebelahnya. Iya."
"Be-Begitu ya? Coba ya..."
"Jangan lupa manuver kabur saat naga sudah mau menyerang."
"Sip, lihat aja aku pasti bisa!"
"Pastinya enggak bisa secepat aku~"
"Gah! Iya deh, Tuan Pecinta Game!"
Mereka lalu asyik tenggelam dalam game, melupakan masalah yang tengah menggerubungi mereka berdua.
Sore itu, juga takkan bisa menghapus nasib mereka kelak; dimana salah satu dari mereka akan hilang selama-lamanya. Menjadi orang yang takkan dikenal oleh salah satu dari mereka, lantas bermusuhan satu sama lain.
Meski mereka---tidak, salah satu dari mereka---sudah meramalkan kemungkinan tersebut.
Namun tidak ada salahnya menikmati hari-hari yang sempat merekah indah diantara mereka, 'kan? . . . [ END ]