Mencari Hikmah
Tidak kusangka, pertanyaanku tentang keridaan dan keikhlasan sebagai ibu rumah tangga akan mendapatkan jawaban yang begitu telak—sebuah jawaban "GONG" yang jauh melampaui ekspektasiku.
"Bah, saya ini IRT. Saat mencuci piring, saya pernah mendengar mindset istri salihah itu: 'Dengan piring yang bersih ini, anak-anak akan makan dan tumbuh menjadi anak salih. Semoga ada pahala di setiap bilasannya.' Tapi masalahnya, saya tidak bisa begitu. Bagi saya, cuci piring ya cuci piring saja. Bagaimana caranya mengubah mindset agar bisa menemukan hikmah sedalam itu? Rasanya sulit sekali menuju ke sana."
Awalnya, aku mengira akan dijawab dari berbagai sudut pandang syukur, ridho suami, atau besarnya pahala yang dijanjikan. Namun, jawabannya ternyata jauh lebih sederhana namun mendasar:
Pikiran yang baik » Perasaan yang baik » Perilaku yang baik.
Bagaimana mungkin kita memiliki perasaan yang baik jika pikiran kita keruh? Dan bagaimana bisa kita memiliki perilaku yang baik jika perasaan kita sedang tidak karuan? Semuanya memiliki korelasi yang nyata.
Aku pun diajak mentadabburi Surah An-Nas dan Al-Falaq—dua surat yang saking akrabnya, terkadang terlewat maknanya dalam keseharian kita.
Dalam Surah An-Nas: Kita memohon perlindungan kepada Allah sebanyak 3 kali hanya untuk 1 hal, yaitu perlindungan dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi di dalam dada manusia.
Dalam Surah Al-Falaq: Kita memohon perlindungan Allah sebanyak 1 kali untuk 4 hal (kejahatan makhluk, malam yang gelap, penyihir, dan pendengki).
Pelajaran besarnya adalah: kekuatan seorang ibu rumah tangga sering kali tergerus bukan oleh beban fisik yang tampak, melainkan oleh pikiran-pikiran "selewat" yang dibiarkan menumpuk. Pikiran selewat inilah yang mewujud dalam keragu-raguan dan bisikan tersembunyi di dalam dada, yang perlahan memberatkan langkah.
Maka, kuncinya adalah dengan sadar menjaga dan memupuk pikiran-pikiran baik. Karena dari sanalah ketenangan perasaan dan kebaikan perilaku bermula.












