TAFSIRMU BUKAN TAFSIRKU (bagian ke-4) YANG DIKRITIK ADALAH POLITISASI AYAT Ahok mengkritik pihak2 yang mempolitisasi ayat dengan tafsir salah dari surat Al-Maidah 51, karena ayat tersebut memang BUKAN tentang pemimpin daerah (gubernur, bupati, dll), karena penafsirannya wajib menggunakan "Asbabun Nuzul" (sebab turun ayat) Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi AWLIYA, dst..." (Al-Quran, Al-Maidah 51) AWLIYA di sini TIDAK selalu berarti pemimpin, bisa juga penolong, atau sekutu (kawan), sangat-sangat tergantung pada Asbabun Nuzul peristiwa yang memicu ayat tersebut difirmankan. Al-Maidah 51 turun saat umat Islam menderita kekalahan pada PERANG UHUD, lalu ada anggota klan Arab yang dianggap akan meminta perlindungan (berAWLIYA) pada musuh, sehingga turunlah ayat tsb. (Diriwayatkan Ibnu Ishak, Ibnu Jarir, Ibnu Abu Hatim & Imam Baihaqi) Maka penafsiran yang tepat dari "Awliya" pada Al-Maidah 51 adalah "jangan jadikan Yahudi & Nasrani sebagai SEKUTU dalam situasi perang", BUKAN tentang PEMIMPIN birokrasi di daerah/negara yang keadaannya tidak sedang berperang. HANYA MUNCUL SAAT PILKADA Pada akhirnya tetap akan ada banyak Muslim yang punya penafsiran berbeda, karena kebanyakan Muslim sudah mengerti dalil "pemimpin kafir" HANYA MUNCUL SAAT PILKADA. Kebanyakan Muslim mengerti bahwa Gubernur BUKAN pemimpin agama.. sebaliknya, Gubernur adalah "PELAYAN" yang diamanahkan untuk melayani rakyat, bukan sebaliknya. Karena Gubernur adalah "Pelayan Rakyat", maka menggunakan dalil "pemimpin kafir" jelas TIDAK TEPAT alias salah jurusan, apalagi pakai penafsiran yang salah. (bersambung) Gus Permadi Arya #SayNoToTerrorism #JihadLawanFitnah #BerimanPakeOtak #TabayyunPenting #BukanPenistaan #MenolakDungu #BelaAkalSehat #AgamaDamai #IslamToleran #Salam2Jari #SaveAhok (di #save Ahok)