Disentil
Kadang-kadang, kita memang butuh untuk 'disentil'. Agar kita sadar bahwa kita telah lupa untuk mensyukuri apa yang kita punya. Nikmat-nikmat dari Tuhan yang terus kita rasakan, kadang luput dari rasa syukur. Kita menganggapnya hal yang biasa. Kita berpikir bahwa itu sudah sewajarnya. Hal itu karena nikmat tersebut terus-menerus kita rasakan, sehingga tidak terasa istimewa.
Karena dirasa biasa saja dan tidak istimewa, kita kemudian menyia-nyiakannya. Namun, ketika nikmat tersebut dicabut, meski hanya untuk sementara waktu, barulah kita menyadari bahwa apa yang kita anggap biasa sebenarnya adalah nikmat yang luar biasa.
Kita tahu bahwa kita tidak akan pernah bisa menghitung nikmat Tuhan. Ada banyak sekali nikmat yang telah kita terima. Izinkan saya mengambil contoh kecilnya saja.
Begini. Ada kalanya, saat malam hari, saya diminta ibu untuk menutup gorden jendela ruang tamu. Di saat-saat seperti itu, saya tidak langsung menutupnya. Akan tetapi, saya menyempatkan diri untuk memandang ke luar jendela, memandangi jalan yang telah sepi, dan juga dedaunan di depan rumah yang bergoyang diterpa angin.
Dalam hati, saya kemudian bersyukur kepada Allah, telah memberikan tempat tinggal pada saya dan keluarga. Sebuah tempat yang nyaman, yang melindungi kami dari panas dan hujan. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jika saya harus berada dalam kondisi yang sebaliknya, hidup di jalanan dan tidak punya tempat tinggal.
Kedua, nikmat yang kadang kala tidak kita sadari: listrik. Kalau sudah mati listrik, kadang-kadang bisa membuat kita mati gaya. Banyak aktivitas kita di rumah yang membutuhkan energi listrik, bukan? Bahkan, untuk memasak sekali pun, kita sering memanfaatkan listrik. Misalnya saja untuk menyalakan blender, chopper, atau oven.
Kemarin, listrik di rumah sedang korsleting. Kejadiannya saat malam hari. Saya yang tidak bisa pisah dengan kipas angin ketika tidur, merasa tersiksa karena kondisi di dalam kamar panas sekali. Kamar dalam kondisi tertutup ditambah cuacanya yang memang panas. Lengkap sudah. Saya juga tidak bisa menyalakan lampu. Hal ini membuat saya sadar, bahwa selama ini saya telah menganggap nikmat listrik yang menyala adalah hal yang biasa. Kalau sudah begini, baru terasa sekali bahwa listrik adalah salah satu nikmat yang begitu istimewa.
Ketiga, nikmat sehat. Ya, ketika tubuh terasa baik-baik saja, nikmat sehat kita anggap biasa saja. Kalau sudah sakit, baru kita menyadari betapa mahalnya sehat itu.
Begitulah. Masih banyak contoh lain dari nikmat yang kita dapatkan. Pokoknya, we'd better not take things for granted. Sesederhana apa pun kelihatannya, mari kita syukuri nikmat tersebut, agar Allah menambah nikmat-Nya untuk kita.
(2 Mei 2024| 21:19 WIB)




















