Legenda Dibalik Nasi dan Beras
Nasi yang jadi makanan pokok kita sehari-hari memiliki sejarah dan cerita yang cukup unik. Pertama kali beras dikultivasi di China sekitar 10000-8000 tahun lalu, dan menyebar ke Barat, India dan Tenggara di milenium ketiga. Butuh waktu sekitar 3000 hingga 5000 tahun bagi umat manusia untuk menyadari manfaat nasi. Dahulu kala, beras dijadikan mata uang di Jepang karena dinilai sangat penting bagi warganya. Bahkan beras pernah dijadikan ukuran seseorang untuk naik pangkat di kalangan Samurai. Satuannya disebut koku atau jumlah nasi yang cukup untuk satu orang dalam waktu satu tahun. Ada 2 perusahaan besar di Jepang memakai nama yang berhubungan dengan nasi. Yaitu Honda yang berarti ‘main rice field’ (ladang nasi utama) dan Toyota berarti ‘bountiful rice field’ (ladang nasi yang melimpah). Di China, nasi juga menjadi sangat penting bahkan menjadi sapaan bagi para warganya. Selain ”Hallo”, “apakah Anda sudah makan nasi?” juga menjadi popular di negara tirai bambu tersebut. Namun di Amerika, 20 persen dari konsumsi warganya menggunakan beras untuk membuat bir. Dari tanah air, legenda tentang padi, beras dan nasi terekam di beberapa cerita rakyat. Seperti kisah Dewi Sri yang populer sebagai dewi kesuburan, dewi pertanian, dewi padi dan sawah. Di tanah Jawa terkenal dengan nama Dewi Shri sedangkan di Sunda Nyai Pohaci Sanghyang Asri. Dewi Sri dipercaya sebagai penguasa dunia bawah tanah dan bulan. Ia dapat mengendalikan bahan makanan di bumi terutama padi, mengatur kekayaan, kehidupan dan kemakmuran. Seperti panen padi yang melimpah dan dimuliakan sejak masa kerajaan Majapahit dan Pajajaran. Disamping itu, dia juga mengendalikan kebalikannya, seperti kemiskinan, bencana kelaparan, hama penyakit hingga kematian. Dewi Sri dipandang sebagai ibu kehidupan sekaligus dihubungkan dengan tanaman padi dan ular sawah. Alkisah, Dewi Sri lahir dari sebuah telur ular ajaib bernama Antaboga. Telur indah yang tercipta dari tetesan air mata Antaboga itu merupakan mustika indah untuk persembahan ke Batara Guru, sebagai pengganti ketidakmampuannya bekerja membangun kahyangan karena tak punya tangan dan kaki. Atas dasar perintah Batara Guru, Antaboga mengerami telur tersebut hingga menetas. Ajaibnya, lahirlah seorang bayi perempuan cantik, lucu dan menggemaskan yang kemudian diangkat menjadi anak sekaligus permaisuri oleh Batara Guru. Anak itu diberi nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri. Waktu berjalan, tumbuhlah anak tersebut menjadi seorang putri jelita, baik hati, lemah lembut, halus tutur kata, luhur budi pekerti dan bahasanya, serta mampu memikat siapa saja yang melihatnya. Karena kecantikannya yang mengalahkan semua bidadari dan dewi di kahyangan, Batara Guru pun terpikat ingin mempersunting anak angkatnya itu. Melihat gelagat Batara Guru, Dewa lainpun khawatir jika pernikahan itu terjadi. Maka dari itu untuk menjaga kesucian Dewi Sri dan keselarasan rumah tangga di kahyangan, para Dewa berencana memisahkan Batara Guru dan Dewi Sri. Mereka pun bersepakat membunuh Dewi Sri lewat racun yang dicampur di minuman sang putri. Setelah Dewi Sri mati keracunan, para Dewa merasa bersalah, panik dan takut karena telah melakukan dosa membunuh gadis suci yang baik hati. Sesegera mungkin jenazah sang dewi dibawa turun ke bumi dan dikuburkan di tempat yang jauh dan tersembunyi. Lenyapnya Dewi Sri membuat seluruh kahyangan bersedih, terlebih Batara Guru dan Antaboga. Namun, suatu hal menakjubkan terjadi, karena kebaikan budi dan kesucian sang dewi, dari kuburnya muncul aneka ragam tumbuhan yang berguna bagi umat manusia. Dari semua anggota tubuhnya tumbuh berbagai tanaman bermanfaat seperti kelapa, rempah, sayuran, buah-buahan, kayu dan masih banyak lagi. Kemudian, dari pusara Sang Dewi berubah menjadi tanaman padi. Versi lain mengatakan padi berberas putih berasal dari mata kanannya sedangkan padi berberas merah dari mata kirinya. Begitulah, pengorbanan Dewi Sri berbuah keberkahan alam, kesuburan, dan ketersediaan pangan bagi manusia. Dia pun dianggap dewi paling penting dan tertinggi bagi masyarakat agraris. Cerita lain yang masih berasal dari tanah Jawa dan berkaitan dengan makanan pokok kita, adalah legenda tentang Jaka Tarub dan 7 Bidadari. Alkisah, Jaka Tarub sedang berburu di hutan dan melewati sungai keramat. Dari kejauhan ia melihat para bidadari cantik sedang mandi dan meninggalkan selendangnya di pinggir sungai. Terpesona dengan kecantikannya, Jaka tarub mencuri satu selendang milik bidadari tersebut. Usai mandi, semua bidadari terbang kembali ke kahyangan menggunakan selendangnya kecuali Nawangwulan. Selendangnya telah dicuri sehingga dia tak bisa terbang ke langit lagi. Tak berapa lama, Jaka Tarub datang berpura-pura menolong dan mengajaknya ke rumah. Jaka Tarub pun menikahi bidadari tersebut dan memiliki seorang anak bernama Nawangsih. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Nawangwulan membantu menanak nasi. Dia punya kekuatan super, mampu menanak nasi hanya dari sebutir beras dan menjadi nasi yang banyak. Hal ini pun membuat persediaan gabah di lumbung selalu cukup. Dia berpesan kepada suaminya agar tak menanyakan atau melihat bagaimana dia bisa membuat nasi tersebut. Penasaran dengan keajaiban yang dimiliki istrinya, Jaka Tarub mengintip Nawangwulan saat sedang menanak nasi. Akhirnya, kesaktian bidadari itu pun lenyap. Dia harus menanak nasi layaknya perempuan-perempuan lain. Hal ini mengakibatkan persediaan padi di lumbung menjadi berkurang bahkan hampir habis. Suatu ketika, saat nawangwulan hendak memasak nasi, dia melihat selendangnya ada dalam timbunan gabah yang semakin sedikit. Dia sadar, bahwa suaminyalah yang telah mencuri selendangnya itu. Dia pun marah dan memutuskan untuk kembali lagi ke kahyangan dengan selendang itu. Betapapun Jaka Tarub memohon agar dia tak pulang ke kahyangan, tekad Nawangwulan sudah bulat. Dia pun kembali ke kahyangan meninggalkan suami dan anaknya. Namun, sesekali dia turun ke bumi untuk menyusui anaknya, Nawangsih. Selain kedua kisah legendaris di atas, ada lagi cerita rakyat tentang asal mula padi dari tanah Karo, Sumatera Selatan. Dikisahkan jaman dulu ada sebuah negeri damai yang dipimpin oleh raja baik di tanah Karo. Makanan pokok warganya adalah buah kayu. Suatu saat negeri tersebut dilanda kemarau panjang. Semua tumbuhan kering dan mati. Masyarakat pun menderita kelaparan dan kekurangan pangan. Seorang anak piatu menangis meraung di pangkuan ibunya meminta makan. Anak kecil malang itu bernama Beru Dayang. Ibunya pun jadi sedih karena tak bisa mengusahakan makanan untuk buah hatinya. Namun, Beru Dayang tetap menangis, lapar yang makin menjadi hingga akhirnya mati. Sang ibu begitu sedih karena tak punya siapa-siapa lagi. Akhirnya dia pergi ke sungai di ujung kampung, bermaksud mengakhiri hidupnya. Sebelum terjun ke sungai, Ibu Beru Dayang memohon kepada Sang Dewa untuk merenggut nyawanya. Setelah melompat ke sungai, sang dewa justru merubah ibu tersebut menjadi seekor ikan dan hidup di dalam sungai itu. Semakin hari kondisi negeri semakin parah. Hingga pada suatu ketika seorang anak kecil menemukan buah sebesar labu di tengah-tengah perkampungan. Penemuan itu menghebohkan seisi negeri hingga ke raja. Raja pun pergi ke tempat penemuan buah tersebut dan bertemu dengan para warga. Ketika raja melihat buah tersebut, tiba-tiba ada suara bergemuruh terdengar dari angkasa, “Wahai penduduk negeri, buah itu merupakan jelmaan dari anak laki-laki bernama Beru Dayang. Potong-potonglah buah itu hingga halus. Tanam dan rawatlah buah itu sampai subur niscaya suatu saat akan menjadi makanan pokok kalian. Beru Dayang sangat merindukan ibunya, pertemukanlah dia dengan ibunya di sungai ujung kampung yang menjelma menjadi ikan, maka kalian tak akan kelaparan lagi." Tanpa pikir panjang, raja memerintahkan rakyatnya untuk memotong-motong dan menanam buah tersebut. Rakyat pun melakukannya, usai menanam, hujan pun turun hingga potongan-potongan buah itu tumbuh subur di tanah Karo. Tanaman tersebut tumbuh serupa rumput. Bulan kedua, kemudian berbunga dan berbuah, bergerombol berbulir-bulir di tiap tangkainya. Bulan ketiga tanaman itu menguning dan siap dipanen. Rakyat pun memanen dengan hati riang, menjemur, menumbuk serta memisahkan kulit dan isinya. Lalu mereka masak dan mencicipi bersama-sama. Rasanya yang enak dan gurih membuat tanaman ini digemari seluruh rakyat. Mereka pun menamakan tanaman tersebut Beru Dayang dan mengganti makanan pokok buah kayu ke Beru Dayang. Untuk mempertemukan Beru Dayang dengan ibunya, masyarakat tanah Karo memakan nasi bersama ikan yang diyakini sebagai jelmaan ibu Beru Dayang. Belakangan, masyarakat tahu bahwa buah tanaman Beru Dayang itu adalah padi. Meskipun demikian, masyarakat Karo tetap menyebut padi dengan Beru Dayang. Kisah-kisah yang menceritakan tentang nasi, beras atau padi tersebut ternyata telah melegenda di Nusantara kita. Semuanya sarat dengan moral dan pesan-pesan kebaikan. Inilah guna cerita rakyat sebagai bagian pembentuk karakter bangsa. ------ cerita ini juga dimuat di web Agradaya di www.agradaya.org :)











