Dinginnya hembusan angin malam menerpa keriput hitam pembungkus daging
Sembari mencari ruang untuk mencapai relung hati
Terima kasih telah menemaniku malam ini
Aku berjalan terseyok – seyok tertelungkup dalam lumpur menggapai asa. Asa untuk hidup sehari – hari, mencari sebuah materi yang hidup. Betapa beruntungnya diriku, aku tak pernah sendiri menjalaninya. Menapaki rerumputan, menginjak kehidupan, ditemani yang mati, dan mencari sebuah kehidupan untuk mati demi kehidupan yang lain.
Bersama dengan milyaran energi cahaya, namun hanya energi sebesar 5 watt yang mampu membantuku, sisanya hanya seolah menjadi mandor potret kehidupan malamku. Terdapat jua suara kehidupan nocturnal yang saling bersiul indah menjadi satu lagu yang selalu diulang dalam playlist-ku. Sekilas kulihat asa bersembunyi di antara sumber kehidupan Sang Dewi Sri. Lalu, terdengar jeritan benang yang putus di lengan seiring kugapai asa.
Terpeleset diriku dalam nikmatnya lautan gairah nan lembut di atas kasur keterlanjangan Sang Dewi Sri. Dibuatnya diriku basah kuyup masuk sampai pangkal akar di malam itu. Dinginnya hembusan angin malam tertampar balik oleh selimut hijau Sang Dewi. Sekeluarga katak malam melompat riang di atas tubuhku, seolah menikmati kebasahan basa tubuh ini. Kudapati asa berada dalam genggaman, kumasukkan asa dalam saku kegembiraan.
Tak terasa, sudah 3 ronde Sang Dewi membuatku basah, namun selalu sebanding dengan asa untuk hidupku. Sang rembulan telah tersenyum setengah jalannya malam yang menandakan sudah memasuki hari baru. Kuangkat langkahku ke jalan rezeki para petani, meninggalkan cinta satu malamku di pematang sawah menuju rumah kayuku.
Langkah kecil menuju terangnya cahaya ufuk timur
Mengingatkan satu hal yang tak pernah selalu kusadari
Apa yang tak pernah kurasakan
Apa yang tak pernah kurencanakan
Seruan mari menuju kemenangan menyuruhku untuk bergegas menggapai asa, lagi. Hanya tersisa sedikit waktu untuk kehidupan sebelum bertemu ajalnya di bawah kerasnya batu sawah. Ku jemput satu per satu asa untuk mengantarnya ke batu eksekusi. Dengan pasrahnya mereka berdiam diri tanpa melawan genggaman lemahku.
Dan karma itu memang ada nyatanya
Beberapa kali tajamnya zat kapur mencoret indahnya warna merah di atas hitamnya pembungkus tulang ini. Satu per satu menumpahkan tinta merah menandakan kenangan terakhir dalam hidupnya. Kubantu para asa agar lebih berguna ketika mati, yaitu dengan memberikan kehidupannya untuk keberlangsungan hidup kaki tapak dua berbulu warna lumpur.
Bukanlah duka yang mereka rasakan, hanya suara sahut – sahutan menyambut gembira datangnya kebutuhan wasta mereka. Dengan lahapnya mereka tertawa bercanda satu ke yang lain. Hanya tembakan peluru hijau ke tanah yang bisa mereka berikan padaku. Namun, walaupun hanya bernilai sebuah kata ‘hanya’, itulah yang membuatku hidup. Semoga aku dapat melesat jauh dengan peluru tuk gapai sebuah kata ‘gelar pendidikan’.
Ku ganti kotornya kaosku dengan seragam putih abu – abu
Ku mulai acara sungkeman kepada demang dan raden ayu
Berpamitan menuju pesawat masa depan
Coretan tipis tinta merah tertutupi oleh kumpulan benang putih hitam seperti tai cicak. Kubungkus lagi dengan pembalut bersol karet hitam. Ku sambut Sang Surya di pinggir aspal hitam sembari mengacungkan jempol menjemput peluru pendidikan. Ku tumpangkan kakiku ke atas kuda besi berkaret bundar hitam.
Salam hamemayu hayuning bawana