Kita berdiri jauh di atas kota, angin lepas menusuk
Kita berdri diam semua rintih disilirkan lembut
karena antara kita dan kota yang kita tinggali
karena antara rumah dan kita sendiri, tiada lagi hubungan. Kita kini berdiri terasing dari segala yang kita cintai. Mereka tidak ambil peduli tapi toh sebagian dari hidup dan daging kita sendiri.
Ingin mendekapkan wajah ke dada kota karena cinta padahal sudah tak ada lagi jabat tangan, semua lepas seperti tangan yang sudah kelu, terkulai lemas.
Kota yang dibangun dan megah berdiri di depan kita
tidak punya tempat buat kita, pun kita terusir dari pojok-pojoknya paling hina
Malam-malam dingin dan pekat, kita masih berjalan
Rumah-rumah besar dan megah kita lewati tegap dan angkuh tapi kita mesti terus berjalan menyusuri malam, menyusuri kepekatan
untuk sejemput harapan, untuk sejemput kecintaan.
Berdiri lama-lama dalam lorong penuh nafas megap-megap
berhenti lama-lama di jalan-jalan terang penuh cahaya, tapi senyap
Bulan yang tergantung lemah kehilangan indah, pucat mega yang melekat di langit, saat-saat pun lewat, dan kita musti terus menyusuri malam, mengucur hujan di badan
Bukankah kita warga kota yang cinta kepadanya?
Ada daerah penuh rumah-rumah indah, dalam malam mandi cahaya
Ada daerah yang bersesakkan gubug-gubug gelap dan melarat dari bocah-bocah yang tersita daerah mainnya, menghitung-hitung jam di jari-jari tangannya, gosong dan terasing.
Bukankah mereka warga kota yang cinta kepadanya?
Jauh dalam malam di liku-liku lorong samar sinar
Jauh dalam malam di rusuk-rusuk tulang kota
terbujur tubuh-tubuh tersia, terkapar dalam sepinya
bisik adalah bisik buat hati sendiri
mengusap kening dengan mesra karena nasib yang sama kutukan dilepaskan, meluncur giling-giling malam
disapa keasingan diri sendiri
Akan lelapkah kota tidur malam ini, sedang kita gelandangan, padahal kita warga yang mencintainya?
Akan cenderakah tangan yang mengulurkan kasih sedang kita dilewatinya, walau kita warganya setia?
Pandanglah kota di bawah yang megah dan sibuk sekali
Pandanglah redup oleh kesia-siaan yang mesra, karena antara kota yang kita tinggali dan rumah kita sendiri
Padahal kita warganya setia yang cinta kepadanya.
Tangan yang digenggamkan sudah lepaskan harapan demi harapan
Hati yang berdegup sudah lekapkan darahnya ke bibir mati
Tanpa satu yang bisa diperdapat, karena kita pun tak percaya pada kekuatan tangan dan degup hati sendiri
Jauh dalam malam di liku-liku lorong samar sinar membujur
kesepian dan hidup tak ambil perduli.
Lorong-lorong yang kita jalani, penuh nafas-nafas megap
Jalan-jalan hitam dan bening penuh rumah mandi cahaya
adalah tempat tinggal kita, tapi kita terasing daripadanya.