L
Dulu, dengan lantangnya aku pernah menertawakan orang-orang patah hati yang bersumpah: "Jika tidak dengannya, maka tidak juga dengan yang lain" Kupikir itu berlebihan, terlalu di-dramatisir, terlalu bodoh juga untuk dipercaya. Haha
Namun, sepertinya hari ini aku merasakan apa yang mereka rasakan, kesombongan itu rasanya runtuh perlahan bersamaan dengan ucapan selamat tinggalmu pada malam sabtu itu
Aku memutuskan untuk tidak dengan siapapun bukan karena tak ada yang mengetuk untuk bertamu, namun karena kebodohan aku sendirilah yang memang belum mau membukanya ... peduli setan, lagipula, dunia memang tempatnya orang-orang menyebalkan bukan? jadi kupikir biar aku saja yang memilih untuk tidak mencari atau menjatuhkan hati
Aku mencoba mengumpulkan diriku sendiri. Memungut perasaan yang pecah, merapikan segala hal yang berantakan, dari dalam maupun luar, setelah itu akan lebih masuk akal buatku untuk mulai belajar hidup dengan retak, karena kupikir, rasanya menjadi utuh tanpamu adalah sesuatu yang terasa masih sangat asing buatku
Apakah merindumu perlahan akan menyembuhkan?
atau justru malah mengajarkanku cara mencintai luka lebih dalam? Entah kapan, tapi kupikir kemarin, ya...ya... ya... aku berhenti mencari jawabannya, mungkin karena aku tak ingin luka ini berlalu begitu saja
hiduplah seperti apa yang kau ingin! denganku mungkin akan terasa lebih dingin. Sungguh tadinya aku mencoba untuk mulai mencintaimu, tapi setidaknya orang sepertimu butuh sesuatu yang sempurna untuk merasakan indahnya jatuh cinta. Dan semoga kau menemukannya, segera, setelah habis denganku. Entah dengan siapa, yang pasti harusnya dengan seseorang yang semoga lebih mampu menjagamu, memaknai lebih dalam soal perasaanmu
Dan sungguh, aku tak akan iri atau sedih hati, aku hanya akan mencoba tetap tinggal di sini, entah apa alasannya, mungkin hanya ingin menjaga kenangan agar tak mati sendirian. Aku tidak mencari hati yang baru, rasanya juga bukan karena tak lagi sanggup mencinta, tapi karena seluruh caraku mencinta telah berhenti per detik ini
Biarlah aku mencintaimu dari jarak yang aman
Dari sudut kamar, dari kota-kota yang yang kusinggahi, ini mungkin lebay tapi bisa juga dari doa yang tak pernah kau dengar, atau mungkin lewat tulisanku, yang kuyakin kau takkan sudi lagi membacanya, benarkan?
aku akan menjagamu dari jarak yang aman dari satu keyakinan bodoh bahwa suatu hari nanti, kau mungkin masih mengingatku sebagai rumah yang pernah kau singgahi
takkan pernah aku ucapkan selamat tinggal, sebab menurutku, tak ada yang benar-benar pergi, semuanya pasti akan punya alasan untuk kembali, entah sebagai cinta atau musuh pada akhirnya.
Januari
maaf, tak kusebut namamu
karena jika kau membaca ini
kau pasti tahu ini untukmu
Januari,
kau hanya berubah menjadi sesuatu yang tak bisa kugenggam, namun juga tak pernah bisa kulepaskan, pun jika pada akhirnya aku ditakdirkan hanya bisa menatapmu seperti bulan yang jauh dan tak terjangkau
maka tak apa,
Aku akan tetap menengadah, sakit leher pun tak apa hahaha
Karena mencoba untuk melihatmu, bahkan dari kejauhan,
masih terasa seperti cahaya yang berhasil buatku semangat
15 Januari 2025
—perspektifL
hari itu, rasaku mulai tumbuh seperti sembilan tahun lalu, tapi sekali lagi, kau layak bahagia dengan tanpaku











