Mimosa Pudica
Andai memoriku bisa membaca apa yang terjadi sejak lahir, mungkin aku bisa mengingat bagaimana rasanya saat itu... Saat kehadiranku dinantikan, tentu sentuhan itu akan terasa lebih lama dan membekas meskipun tertinggal beberapa puluh tahun yang lalu. Sayangnya aku tak ingat.... Memang banyak yang singgah pada kulitku setelah itu. Ketika bisa kuingat, ternyata beragam macam fungsi, alasan, dan niat sentuhan-sentuhan yang hadir. Namun setelah kusaring satu demi satu, ada yang tak pernah kurasakan hingga detik ini. Pelukan menguatkan, pelukan penghargaan, pelukan hangat untuk menyadarkan bahwa diriku ada dan luar biasa. Tak mengapa. Mungkin aku hanya perlu memeluk diri sendiri. Menunduk sendiri, dan menangis sendiri, lalu setelah itu kembali merekah. Seperti Mimosa Pudica.












