Apa harus menunggu lagi?”
“Iya. Terpaksa. Karena hanya itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan Ken, berangsur-angsur.”
Demikian percakapan sebulan yang lalu antara Gea dengan seorang ahli terapi di salah satu rumah sakit yang terjamin kualitasnya di kota megapolitan. Hanya ada satu rumah sakit yang menurut Gea bisa membatu Ken Kembali seperti semula. Gea sudah membaca-baca panduan teknis pengobatan di masing-masing rumah sakit, namun kembali lagi, akhirnya pilihannya jatuh pada rumah sakit yang ia datangi saat ini.
Gea mendorong kursi roda Ken menuju ke lift. Sebelum memasuki lift, Gea menengok Kembali ke langit. Mencermati sejenak kondisi langit. Sepertinya memang prediksinya salah. Ia membiarkan Ken mengikuti Gerakan kepalanya. Menengok ke atas, geleng kanan, geleng kiri seolah-olah ia juga tahu apa yang ia lakukan.
“Maaf ya Ken, kita coba lagi besok. Semoga dia datang.” Gea berbisik pada telinga kanan Ken. Kemudian mengecup pipinya yang terasa dingin. Di ujung mata Gea sudah menumpuk air mata yang tak kunjung menetes.
Ken dan Gea pun meninggalkan rooftop.
Sudah enam bulan Gea berjuang mencari cara agar Ken kembali seperti semula. Kalau tidak begitu, Ken dan Gea sudah menikah sejak enam bulan lalu. Taka da yang menyangka saat Ken yang ceria dan humoris tiba-tiba menjadi sosok laki-laki yang diam, suke kebingungan dan akhirnya saat ini hanya bisa terduduk di kursi roda dan seperti orang yang tak ‘utuh’.
Banyak peneliti mengunjungi rumah Ken. Pasalnya Ken merupakan salah satu peneliti yang cukup populer saat itu. Bagi teman-teman sejawat sesama peneliti, Ken merupakan peneliti yang kekinian dan mampu menyampaikan hasil penelitian dengan kemasan yang menarik. Sehingga dia di kenal sebagai sosok yang serba tahu oleh netizen dan penelitiannya selalu di tunggu-tunggu.
Teman sejawat Ken yang datang untuk meneliti dan menelaah kondisi Ken selalu keheranan dengan apa yang dialami oleh Ken saat ini. Jujur. Gea pun begitu. Mungkin ini adalah satu-satunya penyakit “aneh” yang pertama kali Gea lihat.
Setiap control dan terapi, Gea selalu menanyakan alternatif kesembuhan yang cepat dan bisa dilakukan secara mandiri antara Gea dan Ken.
“Semua bergantung ingatan Mas Ken. Semakin kita dorong Ken untuk melatih ingatannya, yang lainnya nanti akan pulih.” Ujar dokter.
Sudah berbagai cara Gea lakukan untuk membantu Ken mengingat peristiwa-peristiwa penting. Kata dokter, kalau bisa Ken diingatkan dengan peristiwa yang paling berkesan dan berarti baginya. Gea memilah-milah peristiwa penting dalam hidup Ken dengan melihat jurnal yang Ken tulis.
Sebagai seorang peneliti, jurnal merupakan bagian yang penting dalam hidup Ken. Semua detail penelitian tertulis di sana, bahkan pra dan pasca penelitian pun ikut terekam. Membaca jurnal Ken, Gea menitikkan air mata. Ia rindu sekali dengan Ken yang humoris dan penuh tawa. Meskipun begitu, Ken juga sosok yang misterius, serius, dan dingin saat sudah berhadapan dengan penelitiannya. Gea kagum sekali dengan Ken. Hidup Ken selalu penuh dengan “Rumusan Masalah”. Selesai satu penelitian, Ken langsung berlanjut menuju ke permasalahan berikutnya yang harus ia teliti. Jika tidak ada permasalahan, Ken memilih “membuat masalah” agar Ken tetap melakukan penelitian.
Dalam jurnal yang Gea baca, ada satu tulisan yang membuat Gea tertegun, kagum, terharu, dan membuat Gea yakin, bahwa ada ‘obat’ yang luar biasa yang mampu menyembuhkan Ken.
Aku Ken. Semesta memanggilku untuk dekat dengan alam. Semesta memanggilku untuk selalu memperhatikanmu, semesta. Ada yang bergejolak di dalam hati saat aku melihat hutanmu perlahan tak lagi hijau. Maka aku mencari bagaimana.. bagaimana agar Kembali hijau. Karena orang yang kucintai begitu menyukai warna hijau. Bagaimana kalau beberapa puluh tahun ke depan dunia tak lagi mengenal lahan hijau? Apakah dia akan kecewa? Aku tak mau membuatnya kecewa.
Menulis, meneliti, berpikir merupakan sebuah obat untuk kejenuhan. Manusia hanya akan menjadi seonggok daging, jika ia tidak berpikir. Maka berpikirlah aku.
Ada orang yang tidak percaya bahwa menyembuhkan sebuah penyakit, bukan hanya bergantung pada medis. Kau tahu? Allah swt. menciptakan kita dengan detail yang luar biasa, bahkan ada yang sampai tak terlihat mata. Energi. Masing-masing kita memiliki energi yang berbeda, jika digambarkan dengan warna, maka kalau mat akita mampu menangkap bentuk energi itu, tubuh kita seperti diselimuti gelombang listrik yang berbeda-beda warnanya.
Dan aku telah meneliti gelombang energiku sendiri. Nanti akan kucoba meneliti gelombang energi Wanita yang kucintai, agar aku tahu bagaimana membuat energinya selalu berpenjar positif menyinari lingkungan sekitarnya.
Hujan. Kau tahu hujan? Semesta membuat gelombang energiku meningkat luar biasa saat hujan turun.