Pledoi Kaum Non Couple
(Tergulingnya commuter Jakarta – Bogor adalah sebaik-baiknya momen untuk melawan )
(Dua aktivis kenangan dari Pergerakan Pemuda Wani Perih Lagi)
Ahad, 10 Maret 2019 tepatnya pukul 10.05 WIB, KRL Jabodetabek jurusan Jatinegara – Bogor mengalami musibah anjlok di perlintasan antara stasiun Cilebut dan stasiun Bogor. Peristiwa anjloknya KRL ini sebenarnya bukan kali pertama, namun sejauh yang saya catat di beberapa kasus, kali ini adalah yang terparah. Tiga rangkaian hingga keluar jalur dan terguling, nahasnya lagi, tiang penyangga aliran listrik roboh dan menimpa kereta.
Sejauh ini, tidak ada korban jiwa dalam insiden anjloknya KRL tersebut, sejumlah penumpang dan masinis hanya mengalami luka ringan. Mari kita doakan, agar korban luka segera pulih dan tidak mengalami trauma yang sirius.
Namanya manusia, selalu ada setitik celah untuk sekadar menghibur yang turut menjadi korban insiden ini. Ada pula yang memanfaatkan musibah ini sebagai pembelaan diri atas derita bully yang selalu ditujukan pada kaum non couple.
“kereta saja gandengan, masa kamu terlahir sebagai pemuda independen. Kalah sama kereta atau truk.” Bigitu kurang lebih serangan-serangan masif yang dilancarkan mereka yang terlalu sombong, menganggap kekasih, atau istrinya adalah sebenar-benarnya jodoh yang digariskan Tuhan, padahal belum tentu, yang demikian baru berstatus terduga jodoh.
Untuk itu musibah kecelakaan yang melibatkan kendaraan jenis gandeng, adalah sebaik-baik momen untuk melawan penindasan dari kelompok couple itu. Bagaimana tidak, lha wong kaum non couple bisa membalikkan kalimat-kalimat serangan tadi kepada kelompok lawan.
“Yang gandengan bisa saja terguling, baik secara sengaja, mau pun tidak. Contohnya kasus KRL anjlong di Bogor tadi pagi, sampai di situ paham? Ayolah, berpikir rasional, sob. Jangan terlalu fanatik dengan apa yang kamu yakini. Di dunia yang fana ini, yang pasti hanyalah mati, itu pun kita sebagai manusia tak tau di nomor utut berapa, sama halnya dengan jodoh, camkan itu!” juru bicara kaum non couple dengan tegas dan penuh emosi mengutarakan unek-uneknya yang telah lama dipendam.
Seperti politisi yang kurang pengetahuan di bidang literasi, sang lawan yang selalu meluncurkan serangan-serangan masif itu pun kehabisan amunisi untuk melakukan serangan balik, bahkan hanya sekadar melakukan defense pun ia kesulitan.
Kelompok couple jenis itu biasanya pribadi yang hanya memikirkan kepentingan diri dan kelompoknya. Maka, ia selalu jumawa dengan sesuatu yang masih bersifat terduga, khususnya di bidang jodoh. Namun, ketika berhadapan dengan orang dari kelompok non couple yang progresif, ia tak berkutik, paling jauh pertahanan yang dapat ia bangun hanya sebatas pembenaran-pembenaran agar ia tak terlihat cupu di mata pendukung seperdunguannya.
Saya sebagai bekas kaum non couple yang sejauh ini sudah lulus seleksi tahap awal, paham betul tekanan yang dirasakan orang-orang dari kelompok yang banyak dihuni aktivis kenangan tersebut. Berbagai alasan mereka untuk memilih sendiri dari dulu, akibat derita trauma yang cukup dalam yang mereka alami dari perjalanan asmaranya.
Kini saya sedang berjuang, mengumpulkan bukti-bukti untuk memastikan Tuhan yang maha adil, benar-benar menggariskan saya dengan pasangan saya yang masih terduga itu, sebenar-benar jodoh yang dituliskanNya. Untuk itu, meski saya kini berdiri di barisan kaum couple, tetapi saya berusaha menjadi pribadi yang tidak sombong dan rajin menabung untuk bekal kawin kelak.
Sebagai manusia, baik dari kelompok couple mau pun non couple seyogyanya kita saling support, satu dengan yang lain. Tidak perlu saling serang, jika tujuan kita satu, memastikan jodoh kita kelak adalah naik setatus dari terduga menjadi terpidana jodoh, yang akan menjalani bahtera rumah tangga dengan kita sampai menjelang ajal.
Sudah seharusnya dua kelompok ini bersatu, saling mendoakan untuk bersikap bijak dan arif menjalani hidup yang hanya sekadar numpang ngopi ini. Untuk itu, dalam kesempatan ini saya mengajak anda sekalian untuk membaca al fatihah bersama-sama. Semoga bahagia sebagai landasan perjuangan kita tercapai.
Sekian, dan terima amplopan.











