"Woi a*u"
Kata seorang anak kecil, kira2 umuran 3 SD memanggil temannya yang sedang naik sepeda.
Tak lama dia mendekatinya, lalu menyapanya dari dekat.
"Eh, anj*ng"
Mereka lalu sedikit bercanda. Sampai akhirnya si teman yang naik sepeda itupun ngacir. Dikejar si bocah 3 SD.
"Bonceng, gobl*k!!!
Merekapun berlalu sambil tertawa.
***
Saya yang lagi nemenin Ben dan Ranu main di teras rumah langsung tercekat. Nelen ludah. Istighfar.
Beginikah potret pergaulan anak-anak akhir zaman😔😢
Dan dari situ saya mulai paham, betapa sangat sulit dan menantangnya jadi orangtua.
Di satu sisi perlu mendorong anak bersosialisasi, bergaul dengan teman, bermasyarakat. Dengan tujuan akhir bermanfaat untuk sesama. Tapi di sisi lain, lingkungan kita hari ini --pada kenyataannya, sudah sangat tidak sehat.
Dulu, sebelum punya anak... Saya pernah mempertanyakan peran para orangtua. Harusnya bisa dong, bikin anak agar "selesai" di rumah. Ajari dia agar punya prinsip yang kuat. Terutama agama. Jadi ketika keluar rumah, dia nggak terbawa pergaulan yang aneh2.
Tapi kenyataannya....Nggak semudah itu, Bund.
Ya meski saya belum berpengalaman punya anak yg besar, yang mana di usia itu pengaruh teman sangat signifikan, tapi dari sekarangpun saya udah bisa ngebayangin betapa sulitnya perjalanan mengasuh kedepan.
Saya punya dua anak laki2. Meski 22nya masih bayi dan batita, tapi saya paham betul betapa mereka sangat cepat dalam mencontoh.
Pernah suatu hari, Beben main sama teman2 komplek. Itupun saya temani. Ketika sampai rumah, dia jadi senang bilang "Woi orang jelek!" Sambil ketawa2.
Saya kaget. Tapi berusaha meresponnya dengan biasa aja. Supaya dia nggak makin2 mempraktekannya. Tau kan karakter toddler, apa yang heboh kita larang, itulah yg mereka lakukan :)))
"Nak, semua orang itu ciptaan Allah. Nggak ada yang jelek. Kalau dikatain begitu, orangnya jadi sedih"
"Tapi kenapa teman2 Aa yang di mesjid bilang orang jelek? "
"Mungkin mereka belum tau kalau itu nggak baik"
Alhamdulillah dari situ nggak diulangi ngomong2 orang jelek lagi.
Dari pengalaman diatas, saya jadi lumayan belajar. Bahwa dalam perjalanan pengasuhan yang seumur hidup ini, harus ada hal prinsip yg perlu kita pegang. Agar ngasuh nggak sekedar membesarkan anak secara lahiriah, tapi imbang secara batin juga. Lebih2 spiritual.
Pertama dan utama, selalu doakan anak. Doakan semoga Allah selalu memberikan hidayah pada kita dan anak2 kita. Berdoa agar Allah selalu senantiasa memberi kita petunjuk, jalan yang lurus.
Kedua, usahakan bangun bonding yang kuat. Dengan cara membangun kebiasaan berdialog antara anak dan orangtua.
Mulai dari tanya aktivitas apa yang dilakukan, sampai bagaiamana perasaanya.
Jangan gengsi minta maaf kalau memang orangtua ada salah.
Penuhi janji apabila berjanji.
Dan hal2 sejenis lah...
Nah tujuan utama dari itu semua adalah kita mendapatkan hatinya. Karena kalau udah dapetin hatinya, insyaAllah akan lebih mudah untuk memberinya masukan2 dan arahan2. Mereka akan tumbuh sebagai orang yang mempertimbangkan pendapat dari kita, orangtuanya.
Lepas dari itu, balik ke poin pertama.
Berdoa, serahkan kepada yang Maha Mencipta. Karena kita ini hanya dititipi. Makan menjadi orangtua jangan membuat kita terlampau obsesif. Tapi jelas juga jangan abai. Secukupnya saja..
Yang mana rumusnya sederhana : lakukan apa yang Allah suruh kita lakukan, praktekkan apa yang Nabi SAW ajarkan.
InsyaAllah, kita bisa jadi orangtua yang lebih tenang :)














