Semi dan Berseri
Entah sejak kapan, kamu menjadi penting bagiku, sudah sejak lama kamu hadir dalam keseharianku kamu tetap ada dengan segala keteguhan hati yang kau miliki.
Kamu mau memahami dan menghargai setiap keputusanku berusaha mendengar dan hadir walaupun ragamu tidak ada disampingku.
Kilatan ingatan saat pertama kali kita bertemu, aku masih mengharu biru atas perasaan kehilangan dan luka yang melambung, sedang berusaha pulih dan menjadi diri sendiri yang lebih baik. Tentu saja pikiran untuk menjadikanmu pelarian itu sempat hadir, tetapi tunggu-tunggu hatiku tak mau, ya kamu beda, kamu baik, pantaskah aku bersanding denganmu? oh tidak seperti itu pikirku kamu bukan tipe aku, kamu terlalu rohis ahaha, sedangkan aku pada waktu itu sedang rebel, sedang merasakan kebebasan atau mungkin kehampaan yang sesungguhnya yang tak akan membiarkan orang lain terlibat dan ikut terombang-ambing.
Sejuta alasan aku sampaikan padamu, berdalih dari perasaanku sendiri yang bilur sekaligus kalut, tarik ulur menjadi areaku, sungguh betapa aku berada di antara, kamu orang yang baik, tetapi kata “tetapi” membuat aku merasa benar untuk tidak berkeputusan apapa menjalani yang ada entah kemana, tujuanmu jelas hanya saja kamu pun masih menata segala persiapan agar mampu mewujudkannya kelak.
Seiring berjalannya waktu, semua begitu terlihat segala usaha memantaskan diri untuk sampai ke sana. Dalamnya perasaan manusia tak ada yang tau, semoga setiap sikap dan sifat yang ditunjukkan terbalut ketulusan dan tanpa pamrih sehingga tidak akan tumbuh dendam di masa ketika bertemu kekecewaan nanti.
Terbiasa ada jadi ada dan timbulah ruang yang tertuju pada seorang kamu, begitulah “cikaracak ninggang batu laun laun jadi legok” seperti kata pepatah sunda, ruang tersebut ada karena kamu mempersilakannya untuk mengisi, kamu menyetujui, mengapa? Karena sesungguhnya manusia itu senang berada di samping manusia lain yang baiknya tak hanya pada ucapan tetapi juga disertai perbuatan yakan? Sehingga hadirlah kenyamanan. Sudah rentang waktu berapa lama kita bertukar cerita? Bisa dikatakan cukup lama, apakah itu cukup? Mungkin tidak tetapi variable waktu mampu menjadi pertimbangan, karena ada perkembangan seiring berjalannya waktu bukan?
Maka, teruslah berkembang dan mengembangkan area berkembangmu menjadi tak berbatas dan mampu terisi dengan segala kelapangan, kesabaran dan keikhlasan atas segala kehendak Allah.
Itu semi, lalu berseri, waktu memang akan terus melaju, luka akan sembuh kamu menjadi “area” ku, kamu lebih tau sejak kapan semua itu dimulai, karena kamu yang memulai dan mengajak aku untuk menjadi bagian dari sebuah perjalanan yang bermuara pada satu tujuan, melangkah bersama, mengapa aku akhirnya menyetujui untuk menemani perjalanan? Aku tak tahu, hatiku tahu.
Terima kasih atas segala usaha atas waktu yang kau lalui, tak ada yang mudah tetapi juga tak ada yang sia sia. Aku turut bahagia, aku ingin mengenalmu bukan hanya sekedar tapi seutuhnya, bukan sementara tapi selamanya pada jabatan suci melalui rahmat sang illahi. Jika aku lelah semoga kau mampu menjadi tabah pun sebaliknya, sebab jalan ini tak akan mudah untuk mencapai tujuan yang indah maka berserahlah pada yang Maha Kuasa membolak balikan hati ciptaanNya.












