Ukhti, genggamlah bara api itu
"Akan datang kepada manusia satu zaman, orang yang sabar di dalam berpegang dengan agamanya seperti orang yang sedang menggenggam bara api."
(HR. Tirmidzi no. 2260)
Dan kita temui zaman itu ukhti...
Inilah zaman kita, dimana tak banyak orang yang berpegang teguh pada sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam bersama manhaj para sahabat beliau radhiyallahu 'anhum.
Inilah zaman kita, dimana berpegang teguh pada agama seperti menggenggam bara api..panas..perih!
Aku tau ini berat ukhti..
Aku tau rasanya panas membara..
Aku pun tau perihnya rasa itu!
Tapi apa kau tau ukhti, bagaimana perasaan seorang ibu tukang sisir putri Fir'aun yang anaknya ditenggelamkan dalam minyak panas?
Satu per satu anak kesayangnnya meregang nyawa di hadapan beliau...tapi siksaan Fir'aun tak membuat imannya goyah sedikitpun
Dan apa kau tau bagaimana balasan Allaah atas keteguhan beliau?
Aroma wangi semerbak sempat tercium oleh Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam saat malam Isra' dan ternyata itu aroma wanita penyisir rambut putri Fir'aun dan anak-anaknya.
Apa kau pernah mendengar cerita Asiyah istri Fir'aun?
Tubuhnya diikat pada pasak besi lalu dipukuli oleh tentara Fir'aun hingga daging terkoyak dari tulangnya.
Apa dia kembali kepada kekafirannya? Sungguh tidak ukhti!
Asiyah hanya memohon pada Allaah
"Ya Rabb-ku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkan aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim." (QS. At Tahrim: 11)
Seberat apa cibiran orang di sekelilingmu dibandingkan dengan ujian wanita itu?
Sesakit apa tatapan asing pada dirimu dibandingkan dengan siksaan Fir'aun itu?
Sepanas apa kau dibalik jilbab tebal nan panjang dibandingkan dengan kau berenang dalam minyak yang dipanaskan bala tentara Fir'aun?
Ukhti, engkau tak akan pernah tau amalan mana yang akan memasukkanmu ke surga.
Bisa saja hanya dengan selembar kain panjang yang ikhlas kau julurkan untuk menutup auratmu membuat Rabb-mu ridho.
Atau mungkin sebait seruan kebenaran yang kau sampaikan menjadikan timbangan amal baikmu lebih berat daripada dosamu.
"Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing sebagaimana ia datang (pada awalnya). Maka beruntunglah orang-orang yang asing. Yaitu, orang-orang (yang) tetap shalih ketika manusia telah rusak."
(HR. Ahmad)
Hanya ini yang dapat aku tulis ukhti..
Bukan untuk menggurui, tapi untuk menguatkan hati.
Teriring sebuah do'a
"Ya Allaah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu keimanan yang tidak akan lepas, nikmat yang tidak akan habis, dan menyertai Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam di surga yang paling tinggi selama-lamanya." (HR. Ibnu Hibban no. 2436)
- selasa pagi di kota purwokerto -