Jual Sepeda
"Ammu Ragab" salah satu supir yang saya tumpangi malam ini, sebagaimana arti namanya "mulia", akhlaknya pun mulia tak seperti kebanyakan supir taksi pada umumnya.
Basa-basi diperjalanan, tanya tentang nama, asal, sudah berapa tahun bekerja dsb... tiba2 saya jadi teringat sosok Bapak yang memberi saya nama "Pahlevi" dan juga kegalauan saya selama disini... (terombang-ambing oleh angin karena cita-cita yang bertolak belakang dengan keinginan orangtua), bahasa kasarnya keterpaksaan yang harus dijalani. Sampai-sampai saya merasa "jasad disini ruh disana".
Sebagai supir yang memiliki 3 anak saya meminta pendapatnya tentang masalah yang sedang saya hadapi, setelah cerita singkat tentang masa lalu dan kenapa saya ada disini beliau menasehati 2 hal yang sama-sama bersumber dari al-qur'an....
1. Kisah Rasulullah saw. Yang menginginkan pamanya masuk islam akan tetapi qoddarullah wa maa sya'a fa'al beliau meninggal dalam keadaan belum memeluk islam...
إنك لا تهدى من أحببت ولكن الله يهدي من يشاء.
Saya paham apa yang beliau sampaikan, tapi "apa hubungannya dengan masalah saya?"
Setelah saya tanyakan, masuklah beliau ke cerita yang ke-2 dan disinilah nasehat yang paling berkesan buat saya...
2. Kisah Nabi Ibrohim as. Saat mendapatkan wahyu berupa mimpi untuk menyembelih anaknya (Ismail as.)....
Walaupun itu perintah dari ALLAH swt. Beliau tidak langsung melaksanakan (menyembelih) anaknya begitu saja, tapi beliau meminta pendapat anaknya terlebih dahulu...
يا بني إني أرى في المنام أني أذبحك فانظر ماذا ترى.
Disini Nabi ibrohim sebagai seorang ayah menghormati hak ismail sebagai seorang anak dengan menanyakan pendapatnya terlebih dahulu,
Dan nabi Ismail as. pun memahaminya, paham akan 2 hal...
Bahwa ini adalah wahyu dari ALLAH swt. dan ini adalah perintah orangtua yang harus dipatuhi.
Sehingga akhirnya beliau menjawab dengan...
يأبت افعل ما تؤمر ستجدنى إن شاء الله من الصابرين
Ammu ragab kembali ke permasalahan...
"Jadi jika memang memungkinkan bagi kamu untuk memperjuangkan cita-citamu maka pahamilah ayat ini dengan baik dan sampaikan ke orangtuamu dengan cara yang baik."
"Bagi saya cita-cita kamu itu mulia, saya senang jika anak saya jadi seperti itu.
Kamu telah menuruti apa yang orangtuamu inginkan (belajar ilmu agama disini), jika sudah lulus nanti coba kamu sampaikan hal ini, musyawarahkan dengan baik, agar tumbuh pengertian dari kedua belah pihak...!"
Sampai ditujuan beliau berkata "furshoh saidah" saya pun berterimakasih atas nasehatnya serta kami saling mendoakan untuk kebaikan bersama.
Sekian.
Sebenarnya sampai saat ini saya masih ragu dengan kemampuan yang saya miliki, "apakah mungkin?" "bisakah saya?" selalu terngiang di kepala.
Tapi di lain sisi saya merasa tidak punya semangat hidup jika cita-cita itu tidak ada.
Ntahlah... waktu masih panjang, segala sesuatu bisa berubah, kemungkinan-kemungkinan bermunculan. Hanya bisa pasrah dengan apa yang telah ALLAH swt. gariskan, tugas kita hanya bisa berusaha dan menghadapi kenyataan yang ada dengan lapang dada.
Hikmah hari ini masih sama seperti sebelumnya...
"Teruslah bergerak...! hingga alam mengajarkanmu arti kehidupan".
Mengurangi waktu bermain, mencoba menggantinya dengan sesuatu yang lebih produktif.












