Ada begitu banyak rilisan album yang beredar sepanjang tahun 2015. Beberapa album tersebut kemudian menjadi teman dalam menghabiskan hari. Saat bekerja, saat berada di atas kendaraan, atau sesaat menjelang tidur.
Tahun ini juga jadi yang paling produktif bagi saya dalam membeli rilisan album. Ada yang mengecewakan, tapi tidak sedikit yang akhirnya jadi pilihan karena mampu membuat saya melangkahkan kaki menuju toko penjual CD (paling sering Musik Plus di Sarinah dan Blok M Square), merogoh kocek untuk membeli album tersebut, juga memutarnya lagi dan lagi.
Sensasi dari mendengarkan album bagi saya adalah ketika album tersebut diputar, ia tidak pernah gagal membuat bergoyang. Atau justru kebalikannya, membikin saya termangu-mangu, lantas menghayati makna lirik yang dikandungnya. Hanyut dalam dunia yang dibuat oleh sang empunya album.
Jika sebuah album bisa membikin sensasi seperti itu terhadap saya, maka itulah album yang laik jadi pilihan. Energinya menulari saya, sementara pesannya dapat saya mengerti. Sesederhana itu.
Mungkin ada album yang menciptakan sensasi serupa bagi kalian, tapi tak saya masukkan dalam daftar ini. Artinya album tersebut memang bukan untuk orang seperti saya. Toh, ini hanya soal selera. Bagimu mungkin cocok, bagiku tak pas. Sesederhana itu (lagi).
Berikut beberapa album pilihanku sepanjang 2015.
Polka Wars – Axis Mundi (Helat Tubruk)
Sembilan lagu dalam album ini adalah bukti bagaimana Karaeng Adjie (vokal, gitar), Xandega Tahajuansya (bas), Giovanni Rahmadeva (drum), dan Billy Saleh (gitar) mempersiapkan karyanya dengan matang.
Musiknya, liriknya, hingga penyusunan tiap lagu tidak dilakukan dengan serampangan. Tak peduli jika itu membutuhkan waktu selama tiga tahun.
Ketika pertama kali mendengarkan band indie rock ini lewat lagu “Mokele” yang mereka lempar sebagai lagu jagoan, sensasi yang saya rasakan sama waktu mendengarkan "Horchata"-nya Vampire Weekend. Bikin lupa diri.
Bukan kebetulan jika ternyata dua komposisi tersebut sama-sama merujuk pada Afrika sebagai benang merahnya. Jika "Horchata" menyerap unsur ritmis tetabuhan Afrika dalam musiknya, maka “Mokele” merupakan nama monster bawah laut dalam mitos masyarakat Kongo. Mahluk tersebut dijadikan metafora untuk menggambarkan proses pencarian jati diri.
Ramainya penggunaan instrumen dalam album ini, mulai dari yang standar macam gitar, bas, drum, hingga memasukkan suara biola, saksofon, dan synthesizer bukan sekadar gagah-gagahan. Tapi, sebagai kendaraan mereka menjelajahi ragam musik, mulai dari post rock, shoegaze, indie rock, folk, hingga eksperimental.
Luasnya daya jangkau mereka ini sejalan dengan pengaruh musik yang menerpa para personel Polka Wars di masa lalu. Dega adalah penyuka musik rock dan kini tergila-gila dengan folk, Billy penikmat brazillian song, Aeng penggemar emo, serta Deva menyenangi soul dan R&B.
Slayer – Repentless (Nuclear Blast)
Album ini dibuat tanpa kehadiran gitaris Jeff Hanneman yang meninggal pada 2013 karena penyakit liver. Juga minus drummer Dave Lombardo. Peran keduanya digantikan Gary Holt (gitaris Exodus) dan “si anak hilang” Paul Bostaph (eks drummer Testament).
Meski dibuat dalam suasana sedih, bukan berarti musik dalam album ini selow. Dengarlah lagu “Repentless”, “Take Control”, dan “Atrocity Vendor” dan kalian akan tahu bahwa band yang sudah berusia lebih dari tiga dekade ini masih garang.
Tidak ada satupun lagu dalam album ini yang masuk kategori radio friendly seperti dua band thrash metal seperjuangan mereka; Metallica dan Megadeth. Slayer menolak tua dan lembek.
Beside – Eleven Heroes (SEM Records)
Kelompok pengusung metalcore asal Bandung ini kembali dengan album berisi 10 materi lagu yang kencang sejak awal. Agung Surya (vokal), Kiki dan Roy (gitar), Izal (bas), serta Beby (drum) seolah tak memberi kita kesempatan bernapas.
Dibanding album perdananya, Againts Ourselves (2008), album kedua yang didedikasikan kepada 11 orang penggemar mereka yang tewas dalam peristiwa nahas di Asia Afrika Cultural Center ini sangat matang secara sound; rapat tapi tak membosankan. Melodi gitar yang saling sahutan membius dengan maksimal.
Collective Soul – See What You Started by Continuing (Vanguard)
Saya sudah akrab dengan musik band asal Georgia, AS, ini sejak masih menggunakan seragam putih merah ke sekolah tiap Senin-Kamis. Sepupu saya yang pada era 90-an sudah berstatus pelajar SMA hampir tiap malam tidak pernah absen menyanyikan “Shine” atau “The World I Know” milik band ini dengan gitar kopongnya.
Waktu berlalu, kecintannya saya terhadap Collective Soul semakin besar. Album-album mereka mulai dari yang lama hingga terbaru saya beli. Saya bahkan pernah membeli VCD bajakan penampilan mereka di ajang Woodstock 1999. Hahahaha.
Yang membuat saya senang dengan band ini, selain karakter vokal Ed Rolland, adalah aransemen musiknya dengan cepat langsung menempel di kepala. Hal tersebut mereka pertahankan dalam album berisi 11 lagu ini. Mendengarkan album ini serasa bernostalgia dengan Hints Allegations and Things Left Unsaid (1993). Asyik betul.
Silampukau – Dosa, Kota & Kenangan (Moso’iki Records)
Duo folk asal Surabaya yang bercerita sembari berlagu tentang kotanya dengan penuh kesederhanaan dan kejujuran. Sebuah album yang tak boleh disepelekan. Meski mereka melulu membicarakan perihal kotanya, sudut pandang yang mereka pilih dalam bercerita, yaitu perihal kehidupan sehari-hari, terasa dekat dengan siapa saja di kota manapun. Itu sebabnya setiap saya mendengarkan album ini selalu muncul rasa rindu untuk pulang ke kampung halaman.
Disturbed – Immortalized (Warner Bros)
Empat tahun saya menanti kehadiran album baru kelompok ini. Penantian saya tak sia-sia. Sejak muncul pertama kali lewat single “The Light”, hasrat untuk memiliki album ini semakin menggebu.
Isian drum Mike Wengren bersama cabikan bas John Moyer yang memberikan ruang kepada gitaris Dan Donegan tidak pernah hentinya membuat saya bergoyang. Tambah lagi lirik optimisme dalam lagunya yang ditulis David Draiman. Jadilah lagu tersebut kerap saya putar untuk mengawali pagi.
Groove serupa tak hilang saat tiba giliran Draiman berteriak lantang perihal korupsi di lagu “The Vengeful One”.
Atau, melanjutkan kebiasaan mereka membawakan kembali lagu lawas milik band lain, dengar saja lagu “The Sound of Silence” yang aslinya milik duo folk Simon and Garfunkel.
Secara keseluruhan, album yang diproduseri Kevin Churko (Five Finger Death Punch, Papa Roach, Rob Zombie) ini diproduksi dengan ciamik punya.
Tommy Pratomo & Dimas Pradipta – TND (Beat Luz Music)
Bersama bassis Berry Likumahua yang membantu di kursi produser, duo Tommy Pratomo (saksofon) dan Dimas Pradipta (drum) merilis split album berisi 12 lagu. Mereka masing-masing menghadirkan enam lagu yang di tengahnya diberi pemisah berupa nomor instrumental “Introlude”.
Warna jazz sangat kentara dalam album ini. Namun, progresifitas keduanya dalam mengolah nada membuat saya tidak bosan terus memutar album ini meski sebagian besar track adalah instrumental.
Kelompok Penerbang Roket – Teriakan Bocah (Berita Angkasa)
Sepanjang tahun 2015, kelompok yang terdiri dari Rey Marshall (gitar/vokal), Viki Vikranta (drum/vokal), dan John Paul Patton (bas/vokal) ini merilis dua album sekaligus. Satu lainnya adalah album bertajuk Haai yang mereka persembahkan untuk kelompok Panbers.
Teriakan Bocah adalah debut yang mencuri perhatian. Produksinya rapi meski musiknya liar dan berbahaya. Lagu “Anjing Jalanan” dan “Mati Muda” adalah contoh sahih.
Menyerap semangat dan musikalitas kugiran era 70-an mulai dari Led Zeppelin, Motorhead, Black Sabbath, hingga AKA (Apotek Kali Asin), trio ini sedang melaju cepat di jalur yang benar bersama band-band rock n roll idola mereka. Semoga karier mereka tak mati muda.
Brianna Simorangkir – Istana (Catz Records)
Dari Sherina hingga Isyana, mulai Bonita hingga Danilla. Negeri ini tak pernah kehabisan solis perempuan berbakat. Brianna adalah salah satunya. Namanya mulai menjulang saat didapuk sebagai rekan duet Superman Is Dead dalam lagu “Sunset di Tanah Anarki” (2013).
Cewek kelahiran Denpasar, 7 Mei 1992, ini punya segudang amunisi “berbahaya” untuk mengenalkan kepada publik bahwa ada satu lagi marga Simorangkir yang punya suara emas. Plus selera musik oke punya.
Usia mudanya dihabiskan dengan melahap semua genre musik, mulai dari blues, jazz, soul, R&B, punk, hingga rockabilly. Tak sampai di situ, ia juga membawakannya.
Meski tema besarnya masih soal cinta, album berisi delapan lagu yang penggarapannya dibantu Ayi (gitaris Ecoutez), Abdul dari Abdul and the Coffee Theory, dan Dankie (gitaris Navicula dan Dialog Dini Hari) ini kaya unsur musik.
Album ini sangat jauh dari tipikal poppish album yang cheesy. Suara dan cara Brianna menyanyikan lagu-lagunya buat saya sangat menghipnotis. Smiling voice-nya bikin seolah-olah ia hadir di depanmu. Bikin tidak mau berhenti memencet tombol “play again” dan bersedia larut bersamanya semakin dalam.
Tambahan
Karena saya sudah ngantuk berat, saya tambahkan saja album-album pilihan saya lainnya sepanjang tahun 2015 di bawah ini.
Efek Rumah Kaca – Sinestesia (Jangan Marah Records)
Muse – Drones (Warner Bros)
Barasuara – Taifun (Juni Suara Kreasi)
Lamb of God – VII: Sturm und Drang (Nuclear Blast)
Stars and Rabbit – Constellation (Green Island Music)
A @aaaalineeee já recebeu o livro 'Objetos Cortantes' que ela ganhou em um dos nossos sorteios no mês do horror, em parceria com a @intrinseca. Vai um pouco de café pra acompanhar? 💚☕ @Regrann from @aaaalineeee - Quando o livro é bom,até me encho de café. 🔮 ⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀⠀ #creativemoments #creativephotography #photographyart #creativeinstagramers #instagrambrasil #🌈 #photographyart #instagrambrasil #picoftheday #❤️ #📷 #🎬 #🇧🇷 #curta #💜 #👄 #videoart #cafe #creativevideo #leitura #album2015 @cooltural @intrinseca #Regrann
::: Pronto las notas y pequeños papeles en mi bolsillo durante tres años a la luz...#NotasAlMargen #SudacaSoy #album2015 #hiphopculture @s90f @negrovallesound :::
La prima meta' di questo 2015 e' passata e noi vogliamo farvi sapere quali sono stati i 5 album che abbiamo consumato e che piu' ci sono piaciuti: 1 -...
La prima meta' di questo 2015 e' passata e noi vogliamo farvi sapere quali sono stati i 5 album che abbiamo consumato e che piu' ci sono piaciuti:
1 - Soft Moon/Deeper
2 - Kendrick Lamar/To Pimp A Butterfly
3 - Iosonouncane/DIE
4 - Verdena/Endkadenz
Al quinto posto abbiamo due album a parimerito:
5 - Metz/II
5 - Alabama Shakes/Sound&Color
Consigliamo a tutti coloro che ci seguono di ascoltare a fondo questi album. Che dire poi.... la presenza di due artisti del nostro paese fa ben sperare per la seconda meta' dell'anno.