
seen from Netherlands

seen from Maldives
seen from Maldives
seen from Germany
seen from China
seen from China

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Canada
seen from France
seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from Italy

seen from Maldives

seen from Portugal

seen from Portugal

seen from Malaysia
seen from Macao SAR China

seen from Portugal

seen from United States
No Pain No Gain
Just when you walk Allah's path, everything falls into place. Sebagian, atau mungkin banyak orang di dunia memiliki moto hidup, 'no pain, no gain.' Tapi bagiku, ntah lah, aku tidak terlalu menerapkan prinsip itu dalam kehidupanku. Aku tidak pernah bekerja terlalu keras untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Jangan salah sangka dulu. Ini bukan berarti aku mendapatkan semua yang ku inginkan dengan mudah. Justru sebaliknya, apabila aku menginginkan sesuatu, tetapi ternyata itu sulit sekali untuk di dapatkan, maka aku akan memilih untuk merelakannya saja, -tentunya dengan sedikit usaha dulu sebelumnya-. Aku akan menenangkan diriku dengan berpikir bahwa itu mungkin bukan untukku, bukan takdirku, atau mungkin itu mengandung sesuatu yang tidak baik untukku. Terdengar ngeles dan defense mungkin, dan aku pun mempertanyakan diriku sendiri. Kenapa seperti itu? Aku seperti individu yang ga punya obsesi, ga punya daya juang, dan ga pekerja keras. Awalnya aku malu dengan kenyataan diriku ini. Tapi, seperti biasa aku adalah makhluk yang tidak pernah puas dengan rasa ingin tahu tentang dirinya sendiri, selalu mempertanyakan keadaan dan motif-motif yang mendasari semua sikap dan perilakuku, baik yang hanya di hati dan pikiran maupun yang termanifestasikan dalam perbuatan. Lalu aku pun bertanya 'kenapa aku harus memperjuangkan itu mati-matian? Apa itu bakal bikin aku masuk surga? Apa itu bakal bikin aku lebih mulia di mata Allaah?' Ternyata? Ternyata engga saudara-saudara. Ternyata segala sesuatu yang kurelakan itu, menjadi mudah untuk kurelakan karna pada hakikatnya aku tidak menganggap itu penting. Kita pasti bisa dengan mudah merelakan sesuatu ketika kita menganggap sesuatu itu tidak penting, bukan? Awalnya aku mungkin menginginkan sesuatu itu karena tujuan duniawi, kemuliaan di mata manusia atau memang nafsu semata. Namun ketika itu sulit, maka ya sudah kulepaskan. Kulepaskan dengan mudah karena untuk apa mati-matian memperjuangkan sesuatu hanya agar bisa dimuliakan oleh manusia? Atau hanya sekedar memuaskan nafsu belaka. Lain hal nya apabila itu untuk kepentingan Allaah, apapun, bahkan darah dan nyawaku pun pasti akan ku persembahkan. Tapi ajaibnya adalah, ketika kau berjalan di jalan Allaah, everything falls into place. Memang jalan Allah adalah jalan yang sulit. Tapi ga sulit-sulit banget kok, maksudnya ini masalah persepsi aja. Segala halangan dan rintangan yang ada di sepanjang jalan Allah ini semuanya untuk kebaikan kita sendiri bukan, apapun itu. Bukankah segala perkara itu baik bagi seorang mu'min, ketika diberikan ni'mat ia bersyukur, dan ketika diuji ia bersabar. Jadi kembali ke frase 'when you walk the path of Allah, everything will eventualy falls into place.' Ajaibnya ketika kita berjalan di jalan Allah, secara otomatis bumi dan seisinya bergerak membantu kita untuk mencapai tujuan kita, tujuan menuju Allaah, tujuan karena Allaah. Karena pada hakikatnya, bumi beserta isinya ini memang diciptakan untuk membantu manusia melaksanakan tugasnya untuk menjalankan perintah Allah, bukan? Dan juga seperti yang dikatakan bapaknya para nabi, Ibrahim a.s. pada leluhurnya manusia paling mulia, Ismail a.s. ketika anaknya itu bertanya 'akankah kita bisa membangun rumah Allah ini, wahai ayahku?', dan ia menjawab 'bisa, jika hatimu cinta pada Allah, karena apabila hati telah dipenuhi cinta pada Allah, maka tubuh akan otomatis bergerak untuk memenuhi apa yang perintahNya.' Jadi begitulah, aku tidak terlalu setuju dengan prinsip 'no pain no gain', dan aku juga tidak malu dengan kenyataan diriku lagi, karena aku telah menyadari, motif dasar dari sikapku itu and instead, aku malah bersyukur itu ada dalam diriku dan bersyukur pada mereka yang membuatnya ada di sana in the first place, dan hanya pada Allah lah akhirnya semua rasa syukur dan pujian dikembalikan. Alhamdulillahirabbil'alamin.