[Kalut]
Seseorang itu mengeluh dari A sampai Z. Dari yang terlihat oleh mata sampai yang ada dalam hati. Semuanya dikorek korek oleh dirinya sendiri. Sampai tak terasa ia telah meninggalkan luka pada tubuhnya begitu banyak. Separah itu ketika mengeluh terus menerus dituruti. Pikirnya dilakukan tidak untuk setengah-setengah. Ibarat nasi sudah menjadi bubur maka bubur itu diberi bumbu ini itu. Sampai ia merasakan lelah, kepala pusing, rahang sakit, akibat tangisan yang terlalu dalam...
Ia bergeming sambil menarik nafas. Jam dinding ikut mengisi keheningan dalam benaknya. Sesekali ia masih terdengar teringsuk ingsuk menahan ingus yang mau keluar.
.....
Perlahan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasakan bahwa wajahnya memang tidak rata. Ya, ada relief wajah yg indah disana. Ada sepasang mata, hidung, mulut. Semuanya ada. Iya lengkap! Lalu turunlah tangan dari rabaan wajahnya. Ia memperhatikan lekat-lekat kedua tangannya. Aman! Kakinya, masih utuh 2 2 nya normal!
Kali ini ia menangis bukan karena masalah yang ia korek barusan. Ia kini menangisi bahwa masih banyak nikmat yang harus ia syukuri!
Lagi. Ia rasakan dengan jemarinya mata yg masih tetap di posisi nya dan normal. Ia menangis. Mempertanyakan sudah berapa banyak dosa yang dengan matanya ia lakukan?! Turun lagi ke mulut. Sudah seberapa banyak dosa yang dilakukan oleh mulutnya?! Semua anggota badan yang ia lihat ia tangisi. Mungkin inilah tangisan yang harusnya memang ia tangisi. Perihal tanggung jawab kelak.
Terakhir, setelah semua ia pandangi. Ia memegang dadanya. Jauh sekali didalam sana. Entah dimana tepatnya. Ada hati yang beberapa saat yg lalu ia gunakan untuk mengeluh dan mengeluh. Lelah hatinya. Ia peluk diri sendiri dan berkata "maafkan aku diriku, telah menyakitimu dan hati. Mari kita beranjak ketempat paling tepat untuk mengadukan dan menenangkan semuanya"...
Idm, 21-12-21














