[ S E L E S A I ]
Terima kasih telah memberi kabar. Akhirnya aku bisa melanjutkan langkah dengan pasti dan yakin. Aku pamit.
NASA
styofa doing anything
DEAR READER

No title available
Alisa U Zemlji Chuda

blake kathryn
tumblr dot com
cherry valley forever

pixel skylines
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
art blog(derogatory)

PR's Tumblrdome
Game of Thrones Daily
trying on a metaphor
AnasAbdin
dirt enthusiast
Sweet Seals For You, Always
i don't do bad sauce passes

titsay

seen from Malaysia

seen from Denmark

seen from Netherlands

seen from North Macedonia

seen from United States

seen from Türkiye

seen from Türkiye
seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United States

seen from Indonesia
seen from United States

seen from Australia
seen from France

seen from Netherlands
seen from Ireland

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from Germany

seen from United Kingdom
@noteday
[ S E L E S A I ]
Terima kasih telah memberi kabar. Akhirnya aku bisa melanjutkan langkah dengan pasti dan yakin. Aku pamit.
[Tumbuh Baru]
Bunga yang lama tak disiram, ia akan layu. Sekarang ia mungkin telah mati. Mati oleh keheningan dan jarak hati. Sudah tidak ada lagi harapan yang memupuk rasanya. Muncullah pohon abadi yang menawarkan kenyamanan dan tujuan hakiki. Perhatiannya terselubung. Bahkan dalam marahnya sekalipun, ia tetap menjaga.
Apa kusudahi saja kisah lamaku yang tengah kering gersang. Ketika aku menemukan telaga nan sejuk. Tapi, lagi lagi aku khawatir aku yang merusak kesejukan nya. Aku yang membuat airnya keruh. Lantas, maukah ia bersabar atasku?
Bersegeralah jika memang sudah saatnya. In syaaAllah aku siap dengan segala resikonya. Biidznillah.
[Berserah]
Biarlah semua berjalan apa adanya. Aku sudah tak minta apa-apa. Semua sudah berjalan sebagaimana mestinya. Mestinya aku ikhlas, mestinya kau melepas.
Tak ada lagi malam yang menuntut bintang selalu hadir. Tak ada lagi pelangi yang dipaksa ada setelah hujan. Barangkali cahaya bintangmu tlah redup, tak apa. Barangkali pelangimu telah pudar tak masalah. Semua hanya tentang waktu dan perjalanan.
Biarlah semuanya kuserahkan pada yang punya takdir. Takdir terbaik untuk semuanya. Sekarang, fokuslah bercermin. Karena bayangan yang dipantulkan adalah bacaan takdir yang telah Allah siapkan. Berkacalah dengan baik. Berproses lah dengan hebat. Mendekat lah dengan lebih dekat kepada Sang Penggenggam Hati.
Bagaimana pun rindu akan selalu ada. Saat saat seperti ini tak ubahnya seperti training. Alias percobaan.
Belajar, belajar bagaimana hidup sendiri ketika masa paling pahit itu terjadi. Diantara hubungan yang tidak ada kepastian. Disaat tak ada satu orangpun dapat memastikan. Apakah ia akan baik baik saja atau sebaliknya.
Kalaupun pahitnya akan nyata terjadi suatu saat nanti, getirnya pasti berbeda. Mungkin sekarang masih bisa terobati oleh harapan. Harapan yang semu. Harapan yang bagaikan api diujung sumbu. Sumbu lilin yang hampir habis. Redup, khawatir mati namun masih dapat terlihat cahayanya. Walaupun samar..
Maaf, aku pamit..
Sampai kau yang memintaku kembali atau menjemput ku dengan kabar
[Belum]
Mungkin karena terlalu asik dengan penantian sampai lupa sedang menanti apa. Matahari tampak mondar mandir diantara hari. Entah yang ke berapa dia mondar-mandir. Sampai aku lupa sedang apa duduk selama ini di tempat yg sama.
Asanya aku tengah mencari seseorang dan menunggu agar tidak lelah. Ternyata memang lebih melelahlan sampai mati rasa.
Sadarnya aku ternyata tidak ada yang benar-benar sedang aku tunggu. Ekspektasi ku tak kunjung datang walaupun beberapa kali lalu lalang sosok yang hadir dalam kehidupan. Dengan harapan mampu satu gelombang dalam perjalanan berikutnya.
Hufft, entahlah nyatnya memang aku belum benar-benar menemukannya. Mungkin aku hanya terjebak dalam ketidakpastian dan euforia sebuah penantian. Yang entah.
#rasa #penantian #ketidakpastian
[Lebih Baik]
Jika memang jarak lebih baik dibandingkan temu, biarlah ia semakin jauh. Entah mengapa aku tidak tega jika harus memaksakan semuanya. Terkadang aku lelah dengan apa yang tengah aku gapai. Sosok yang nyatanya tidak butuh gapaian uluran tangan ini. Untuk apa memaksa jika akhirnya aku yang tersiksa. Berat rasanya menarikmu dan membawamu kembali. Aku akan berhenti.
Entah nanti bagaimana nasib perasaan ini. Aku tidak berani menduga-duga. Barangkali aku akan terlalu terbawa suasana. Biarkan ia mengalir jika ingin terus ada. Dan biarkan ia menguap jika memang kekeringan datang. Berjalan saja. Aku lelah. Ya, lelah ketika melihat diri yang selalu saja gagal untuk tidak peduli. Lelah ketika melihat diri yang selalu saja gagal untuk tak menulis pesan untuknya.
Hei, aku lelah. Maafkan jika selama ini aku terlalu meminta lebih. Aku yang selalu menarik tanganmu namun kau selalu melepaskan genggamannya. Terima kasih atas kenangan indah yang kini tersimpan dalam memori.
Kau ingat musikalisasi puisi yang tempo hari pernah kau suarakan dari yang ku tulis? Ya..
Jika bunga yang sedari dulu dipupuk dan kini layu, setidaknya ia pernah mekar bersama manisnya madu..
Jika penantian berujung hilangnya harapan, setidaknya pahala sabar semoga pernah didapatkan..
Jeda yang ku kira akan semakin habis terkikis waktu, nyatanya ia semakin tebal oleh dinginnya malam..
#sjkrnd
Kalo kamu adalah malam, maka aku yg menjadi bintang nya, bintang tidak dapat bersinar bukan selain dalam kegelapan?
Aku tidak butuh seseorang yg cerah secerah pagi dan siang hari, aku cuma butuh seseorang yang mampu membuat aku bersinar, dan itu adalah malam..
Hanya Berhenti Menunjukkan
Aku tak akan kemana-mana, aku akan tetap disini. dengan segala rasa peduli dan rindu. aku tidak akan berubah, sama seperti yang dulu, namun sekarang aku hanya ingin mencoba berhenti menunjukkan semuanya. keinginan sllu ada dan sllu jadi org yg paling pertama mengkhawatirkanmu akan sllu ada. tapi apalah artinya jika kau lebih bahagia dengan aku yang tidak menunjukkannya. jika keduanya sama saja. rasa rasanya aku juga bisa sakit jika harus terus menrus berjuang sendiri dan tidak diharapkan sama sekali.
kalau mencariku, jangan jauh-jauh. aku tetap disini. aku tidak akan berhenti dgn rasa yang kumiliki, namun aku hanya berhenti menunjukkannya. sampai batas waktu yang kau tentukan sendiri.
Berhentilah berhentilah untuk menunggu matahari di sepanjang malam. berhentilah menunggu bintang berkunjung di depan jendela ketika siang telah datang. berhentilah berlari menggapai bulan yang kau lihat selalu menjauh saat justru kau berlari kencang hendak menangkapnya tepat. berhentilah membuat dirimu lelah.| matahari akan terus bersinar hangat pada siang hari tanpa ditunggu olehmu. bintang akan tetap indah menghias malam tanpa peduli ditunggu olehmu atau tidak. dan bulan akan tetap disana tanpa engkau kejar. kodrat seorang wanita seharusnya ialah dikejar, diperjuangkan. bukan sebaliknya. berhentilah menjadi seseorang yg bukan aku kenal hai diri. Seseorang yang sayang sama kamu tidak akan pernah tega melihat kamu berjuang sendiri apalagi lelah sampai mengejernya. kamu lebih berharga dari apapun. sekuat apapun kamu menginginkannya terus ada, kamu tidak akan bisa. karena ia nyatanya tidak mencarimu sama sekali di hari hari manapun.
Sudah Bukan Prioritas “Hey! Lihat aku disini” Masih sibuk dengan pekerjaannya “Hey, bisakah kau lihat aku sebentar?” Masih sibuk dengan obrolan bersama dunianya “Hey, aku hanya butuh waktumu sebentar untuk lihat kesini” Masih ada urusan yang harus diselesaikan cepat “Hey, tolong! Kakiku terluka!” Hanya memberi saran untuk segera diobati “Hey, tolong aku sudah tidak bisa bangun!” Hanya menanyakan karena penasaran, bukan peduli “............” ....................................................................... “..........” Kamu kenapa? apakah harus menunggu tak ada suara dan wujud di dunia dulu baru bisa “peduli”? Bisa bisanya kamu masih melukai dirimu sendiri wahai diri.. kau terlalu percaya diri untuk dia yang terlalu cepat beranjak.. mungkin hanya aku saja yang terlalu berharap. mungkin hanya aku saja yang terlalu percaya diri. mungkin hanya aku saja yang menyimpannya dengan baik. mungkin hanya aku saja.. dia tidak (lagi)...
Masih Disini
Malam terus berganti. Bintang yang kupandangi masih sama. Langit yang ku tatap masih tetap. Bahkan, formasinya masih sama persis. Ada tiga bintang berdertan. Indah bukan? Seindah itu tentang menunggu. Disini, dengan rasa yang sama.
Apa itu? Aku dengar fajar akan segera tiba. Dapatkah aku melihat bintangku kembali dimalam selanjutnya? Ah, aku terlalu khawatir saja. Padahal kamu selalu mendapatinya disana tiap malam. Iya bukan?
Jarak antara aku dan bintangku memang tak sedekat aku dengan jalan ini. Jalan yang sekarang tengah aku tapaki. Berdiri diatasnya. Tapi aku selalu yakin suatu saat nanti ia akan ada disampingku menemani malamku sehingga aku dapat tertidur pulas dan tidak perlu terjaga sepanjang malam hanya untuk memastikan bintangku masih disana.
Lalu fajar pun datang..
#sjkrnd
[Gusar]
Entah apa yang ada di pikiran orang lain. Aku berusaha tidak memikirkannya. Namun diri selalu menarik ke arah yang berlawanan.
Tentang sebuah pilihan. Begitu sulit menjadi dewasa. Dituntut serba bisa dengan segala keterbatasan yang ada.
Siapa sih yang tak ingin melihat orang yang kita sayangi merasakan kebahagiaan tersebab kita? Aku rasa semua orang yang waras pasti menargetkan hal tersebut.
Tapi apakah mereka paham bagaimana kondisi ku saat ini? Apa aku terlalu lemah untuk sebuah keputusan?
Aku butuh pendengar! Aku butuh penasihat! Oh Allah, please help me..
Stop menyalahkan diri sendiri. Stop mengkritik orang lain. Stop menyalahkan keadaan. Stop!
Segera ambil AlQuran mu! Mengadulah padaNya! Kau akan dapati ketenangan dab jalan keluar. Percayalah. Allah akan menjernihkan hati dan pikiran kamu.
#pelukdaridirimu
[Kalut]
Seseorang itu mengeluh dari A sampai Z. Dari yang terlihat oleh mata sampai yang ada dalam hati. Semuanya dikorek korek oleh dirinya sendiri. Sampai tak terasa ia telah meninggalkan luka pada tubuhnya begitu banyak. Separah itu ketika mengeluh terus menerus dituruti. Pikirnya dilakukan tidak untuk setengah-setengah. Ibarat nasi sudah menjadi bubur maka bubur itu diberi bumbu ini itu. Sampai ia merasakan lelah, kepala pusing, rahang sakit, akibat tangisan yang terlalu dalam...
Ia bergeming sambil menarik nafas. Jam dinding ikut mengisi keheningan dalam benaknya. Sesekali ia masih terdengar teringsuk ingsuk menahan ingus yang mau keluar.
.....
Perlahan ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia merasakan bahwa wajahnya memang tidak rata. Ya, ada relief wajah yg indah disana. Ada sepasang mata, hidung, mulut. Semuanya ada. Iya lengkap! Lalu turunlah tangan dari rabaan wajahnya. Ia memperhatikan lekat-lekat kedua tangannya. Aman! Kakinya, masih utuh 2 2 nya normal!
Kali ini ia menangis bukan karena masalah yang ia korek barusan. Ia kini menangisi bahwa masih banyak nikmat yang harus ia syukuri!
Lagi. Ia rasakan dengan jemarinya mata yg masih tetap di posisi nya dan normal. Ia menangis. Mempertanyakan sudah berapa banyak dosa yang dengan matanya ia lakukan?! Turun lagi ke mulut. Sudah seberapa banyak dosa yang dilakukan oleh mulutnya?! Semua anggota badan yang ia lihat ia tangisi. Mungkin inilah tangisan yang harusnya memang ia tangisi. Perihal tanggung jawab kelak.
Terakhir, setelah semua ia pandangi. Ia memegang dadanya. Jauh sekali didalam sana. Entah dimana tepatnya. Ada hati yang beberapa saat yg lalu ia gunakan untuk mengeluh dan mengeluh. Lelah hatinya. Ia peluk diri sendiri dan berkata "maafkan aku diriku, telah menyakitimu dan hati. Mari kita beranjak ketempat paling tepat untuk mengadukan dan menenangkan semuanya"...
Idm, 21-12-21
LEPASKAN Ketahuilah, tidak ada yang bisa dipaksakan dalam dunia ini. Apalagi tentang rasa. Sekuat apapun kamu menggenggamnya maka ia akan terlepas. Layaknya kamu menggenggam pasir. Sekuat apapun kamu menariknya, ia akan berjalan sesuai dengan dirinya kembali saat kau tak dibelakangnya. Layaknya sebuah drama. Ia akan baik jika denganmu, diluar itu dia menjadi dirinya sendiri. Dan pada akhirnya kau hanya memilih dua pilihan. Bertahan atau mengikhlaskan. Merelakan atau memaksakan. Hanya itu. Lalu apa yang sulit dari keduanya? Memorinya. Andai ada tombol delete dalam kehidupan mungkin sudah digunakan.
Fokus saja pada dirimu. Perbaiki ibadahmu. Hanya Allah satu-satunya sumber ketenangan. Langkahmu masih jauh. Hidupmu masih panjang. Carilah selalu hal-hal yang membuatmu lupa terhadapnya. Balas dendamlah atas luka dengan mengukir momen-momen hebat. Basuhlah lukanya dengan ikhlas dan istighfar. Dunia tidak akan menunggumu sembuh. Kamu harus mampu membawa dirimu berjalan dengan terus menutup lukamu. Semoga ia lekas kering dan menghilang. Walaupun akan menganga lagi pada waktunya, semoga kau bisa ikhlas dan lekas merelakan.
JANGAN LUPA BERSYUKUR :)
Enaknya jadi kamu. Bangun pagi jam 8. Dzuhur tidur siang. Dengan dalih nyeri haid kamu tidur sampai ashar. Enaknya jadi kamu. Ibu bapakmu masih ada. Bahkan mereka tidak mengekang dan menuntutmu untuk ini itu. Mengerjakan pekerjaan rumah pun sebisa kamu saja. Paling kalau tidak mengerjakan kamu hanya dapat sindiran. Sindiranpun masih halus. Tidak ada bentakan. Apalagi main tangan. Sindiran paling tidak akan lama juga. Beberapa menit lalu semuanya kembali seperti semula.
Dengan semua enaknya kamu saat ini apa masih mau untuk mengeluh? Apa tidak malu kurang bersyukur? Apa tidak sedih belum banyak bahagiakan mereka? Tenang, tenang. Ada kejutan satu lagi. Mereka hanya minta kamu sehat dan bahagia?! Seenak itu hidupmu bukan?
Lalu kamu melihat disekelilingmu. Dia yang terus menerus ditimpa ujian. Mereka yang terus menerus mendapat tekanan. Dan kamu berbicara dalam hati bahwa merekalah pahlawan dan pejuang sejati. Kamu melupakan satu hal. Bahwa ujian tak hanya berupa bentuk kesulitan, namun kebahagiaan dan waktu luang justru lebih berbahaya darinya.
Saat kesulitan menghampiri, tak jarang manusia lirih mengadu tak bosan kepada Rabb-Nya. Meminta penuh harap untuk segera keluar dari segala bentuk masalah. Dan ya, itu terdengar mudah walaupun praktik nya sungguh luar biasa. Sedang jika manusia dalam kondisi bahagia tak sedikit mereka terlena. Tak sedikit mereka melupakan Sang Pemberi Nikmat. Mereka berjalan dengan ujian Allah berupa kebahagiaan tanpa air mata dan lirih dalam do'a. Ambillah ujianmu!
Tidak ada yang bisa kamu banding-bandingkan. Setiap manusia sudah diberikan ujian sesuai dengan kemampuannya. Sesuai dengan yang disanggupinya. Mereka kuat dengan jalan dan prosesnya masing-masing. Selalu libatkan Allah di setiap momennya. Semoga ada ampunan dan pahala atasnya. Karena dalam hidup bukan siapa yang paling bahagia dan siapa paling menderita. Tapi, seberapa siap bekal kita untuk menuju kehidupan abadi kelak. Jadikanlah ibadah dalam setiap momennya. Karena memang hanya itu tugas manusia dicipta. Selamat menjadi versi terbaik diri sendiri! Allah menunggu doa terbaikmu!
SEMANGAT SENIN :)
Senin pagi, lagi. Alhamdulillah Allah masih izinkan membuka mata di hari ini. Tapi dilain sisi kamu sempat tertriger untuk overthinking, lagi. Kamu bangun pukul 8 dan masih di atas kasur. Sedang temanmu yang lain telah berada di gedung profesinya masing-masing. Mereka telah bekerja. Kamu gelisah. Kamu sempat tak ingin menerima kenyataan.
Tapi, tahan dulu. Sebelum kamu mengumpat. Sebelum kamu mengeluhkannya. Sebelum kamu ngomel-ngomel dalam hatimu sendiri, coba ambil sudut pandang lain untuk bersyukur. Bukankah lebih banyak sisi lain untuk disyukuri ketimbang satu sisi untuk dikeluhkan? Allah suka dengan orang-orang yang bersyukur. Lagi pula kamu sudah berkali-kali meyakinkan diri bahwa takdir Allah tidak ada yang tertukar. Sudah ada jatahmu sendiri. Tinggal kamu bergerak untuk menjemputnya. Atau mungkin mencarinya dahulu.
Sekarang, fokus saja berproses. Lakukan kebaikan sekecil apapun. Agar detik yang kau lewati tak sia-sia hanya untuk meratapi. Energi mempersiapkan kedepannya pun akan lebih besar jika diiringi dengan langkah kebaikan walaupun kecil.
Teruslah bersemangat menjalani hari. Ada wajah yang menanti senyumu. Ada tangan yang menanti genggamanmu. Ada kaki yang mennati langkahmu. Jadilah manusia yang bermanfaat dimanapun berada. Allah Maha Baik.