how is it that the runaway who’s wanted by the mafia and the psychotic knife boy from all for the game have a healthier relationship than the pretentious twink and butterfly enthusiast from these violent delights
seen from Canada
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Singapore
seen from Russia
seen from United States
seen from China
seen from Russia
seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States

seen from Malaysia
seen from China

seen from Georgia
seen from China
seen from Australia

seen from United States
seen from India
seen from Australia
how is it that the runaway who’s wanted by the mafia and the psychotic knife boy from all for the game have a healthier relationship than the pretentious twink and butterfly enthusiast from these violent delights
Four Out of Five
Thea referes to Neil as "Little fox" and treats him as her smol brother spread the word
If I hadn’t just read the 8 steps to brainwashing, I would have started trusting Andrew, right about now...
Лето закончилось, но зато как) Вот немного атмосферы со вчерашнего концерта) #video#music#concert#musicconcert#altg#spb#piter#saintpetersburg#a2#видео#музыка#концерт#музыкальныйконцерт#спб#питер#санктпетербург
A Letter to Gisa
A Letter to Gisa
7th May, 2017
Orangtua tidak selamanya menjadi satu-satunya tempat bernaung yang aman dan nyaman, bahkan layak bagi anak. Termasuk, orangtuaku. Ketika kau merasa lelah, selalu disalahkan, tertekan, dalam ketakutan, merasa tidak nyaman, maka itu adalah tanda bahwa hubungan antara anak dengan orangtua tersebut tidaklah sehat. Hubungan yang penuh dengan kekerasan, ketimpangan dan ketidaksetaraan. Kadang, dalam hubungan apapun, apalagi antara anak dan orangtua yang sama sekali tidak akan bisa setara, kekerasan mental dan fisik terus-menerus selalu terjadi, baik disengaja maupun tidak disengaja. Abusive relationships is everywhere.
Seperti saat ini, ketika ayahku senantiasa mempraktikkan kekerasan demi kekerasan, kekasaran demi kekasaran padaku, setiap harinya. Ada kalanya aku bisa bersabar karena bisa mengabaikannya, tapi ada kalanya aku tak sanggup dan muak dengan semua yang dilimpahkannya padaku, bahkan walau hanya sekadar mendengar suaranya di telpon dengan nada membentak, kata yang kasar, dan intonasi yang tinggi. Dengan alasan “gue ini bapak lo”, “lo butuh gue” dll, aku sekarang tersadar bahwa begitulah exercising power dipraktikkan secara horizontal dalam kehidupan sehari-hari. Kekuasaan yang tersebar, tidak selalu bersifat hierarki vertical seperti atasan dengan bawahan. Dengan kawan sebaya pun, kekuasaan selalu bercampur baur dan tersebar tidak merata.
Gisa, terkadang aku tidak habis pikir, kenapa di dunia ini ada manusia-manusia menyebalkan dan keji semacam itu. Kadang tak habis-habisnya keherananku dan protesku pada Tuhan, tapi aku sadar bahwa ini adalah bagian dari ujian, cobaan hidup. Pilihan kadang tidak ada di tangan kita sendiri, melainkan di tangan Tuhan, bahkan ada di kehendak orang lain yang lebih berkuasa atas kita. Semoga, itu jangan sampai terjadi padamu. Aku takkan membiarkan diriku, ayahmu, atau siapapun orang terdekat yang satu atap denganmu melakukan hal itu. Aku akan mengajarimu defense mechanism yang paling mudah dan bisa kau gunakan untuk melindungi dirimu. Itulah yang terpenting. Cukup aku saja yang menderita dan tersiksa karena depresi ini. Kau tidak perlu mengalaminya sama sekali Gisa.
Aku sedang tidak ingin berkomentar apapun. Niatku menulis pupus sudah karena telpon dari ayahku. Kalau tidak ingat Tuhan, mungkin aku sudah meraih pisau tajam yang biasa kugunakan sebagai pisau dapur untuk mengiris nadiku, atau melawan ayahku dan melakukan konfrontasi terhadapnya. Keduanya itu mustahil, maka yang bisa kulakukan hanyalah merenggut dan mengelus dadaku, serta terus bersabar dan berdoa semoga kesulitan ini segera berakhir, aamiin. Tetapi, sungguh, ada terlalu banyak cerita yang ingin kutuliskan kepadamu tanpa tahu harus kumulai darimana.
Minggu-minggu ini, ada dua perempuan yang tiba-tiba memelukku spontan dan menangis sejadi-jadinya secara refleks. Yang pertama, penjaga kostan pertamaku. Hubungan kami mulai membaik sekarang. Ketika dia pertama kali ngechat, aku menanggapi dengan ramah lalu besok-besoknya kami bertemu. Begitu melihatku, Ia langsung memeluk erat dan menangis deras, entah selama setengah atau satu menit. Aku sampai bingung. Perempuan kedua, sahabatku, yang akan menikah bulan Juli nanti. Seolah hendak menitipkan sejenak hatinya yang kelelahan dan super depresi penuh tekanan dari calon suami dan keluarga mertuanya. Aku bisa merasakan betapa tersiksanya dia, Gisa. Jangan pernah kamu menikah dengan lelaki di mana kau merasakan keraguan pada dirinya. Jangan pernah.
Aku pun mulai bisa berdamai dengan kenyataan bahwa aku akan resign dari kampus dan melanjutkan cita-citaku yang lainnya, entah apa itu. Keputusanku untuk tidak meneruskan kuliah sudah sangat bulat rupanya, terlepas dari sakit mataku dan dosenku yang super killer itu. Tetapi setelah menyambangi salah satu teman dekatku yang sedang galau dan risau, Ia menceritakan banyak hal padaku hari ini, termasuk bagaimana orang-orang di sekitarku begitu menghawatirkanku dan hendak mengusahakan berbagai solusi supaya aku tidak keluar dengan sia-sia. Tapi entahlah Gisa, aku merasa jalanku ke manapun sudah tertutup saat ini. Aku mencoba terus melanjutkan hidup dan bersyukur dengan apa yang bisa aku lakukan, sekalipun jalannya sudah sangat rusak dan bukan jalan umum yang akan dipilih oleh orang normal.
Aku juga bersyukur dan merasa lega diajak pengajian oleh teman kostanku, ke sebuah pesantren yang mengadakan pengajian dua kali seminggu. Rasanya adem dan seperti selalu diingatkan. Tapi tetap, mempraktikkan ilmu yang didapat selalu jauh lebih sulit dan menantang dibandingkan dengan ketika kita mempelajarinya. Semoga saja aku bisa tetap legowo, sabar, dan masokis dalam menerima segala siksaan dan kepahitan ini. Dan yang lebih nelangsanya lagi, saat ini aku (masih) merindukan dia, Gisa. Merindukan dia yang sebenarnya tak ingin aku hubungi lagi. Tapi aku masih ingin bertemu dengannya, karena pertemuan terakhir begitu mengesankan. Aku selalu teringat akan senyuman manisnya yang begitu hangat menyapa pelupuk mataku, atau bagaimana Ia selalu memperlakukanku seperti sedang memegang sebuah guci kuno yang sangat mudah pecah, atau bagaimana Ia menyisakan harapan dalam setiap tatapan dan genggaman tangannya. Aku takkan pernah (bisa) lupa, Gisa. Tidak akan. Apapun yang terjadi ke depan, semoga segala yang terbaik selalu menyertainya, aamiin.
Ibumu,
Dewi Fadhilah Soemanagara
A Letter To Gisa
28th of March, 2017
Selamat malam, Gisa. Aku mengetik surat ini tidak dalam file yang disimpan rapi seperti biasanya, melainkan aku ketikkan langsung di laman tumblr. Pun aku seperti tersiksa dengan flu berat dan radang tenggorokan yang menyerang sejak akhir pekan lalu. Hari ini nyepi, namun tidak ada ritual kontemplasi sedikit pun yang kulakukan.
Aku ingin mengupdate kabar bahwa ayahku tidak setuju aku resign dari kampus. Penyebabnya karena penyakit mataku yang terlebih dahulu harus disembuhkan, jangan (langsung) menyerah, dan bahwa ada berbagai kemungkinan lain yang terbuka ketika aku cuti kuliah. Meski Ia juga tidak akan melarangku untuk resign, namun Ia menganjurkan padaku untuk memikirkan segala konsekuensinya. Meskipun aku sudah siap dengan berbagai risiko dan problematika yang akan menghadang, entah kenapa Tuhan seolah mempersulit jalanku untuk mengundurkan diri dari jurusan.
Semangat dan berbagai saran aku dapatkan dari sahabat-sahabatku, tak terkecuali mba admin jurusanku yang memang baik hati dan cukup dekat denganku. Aku sering menghabiskan waktu bersamanya ketika di kampus, bahkan sampai pulang bareng dan ditraktir bakso lombok uleg yang menyegarkan itu. Sangat sedikit orang baik yang akan kau jumpai dalam hidup Gisa, tapi bukan berarti mereka akan punah. Mereka selalu ada, kau hanya perlu melihat dengan lebih jeli dan membaca dengan hatimu.
Berbagai lowongan kerja pun sudah aku penuhi melalui aplikasi maupun surel, beberapa memanggilku, sebagian di antaranya berlokasi di Jakarta. Dengan kondisiku sekarang yang dipersiapkan untuk menjalani operasi mata (entah kapan tepatnya), aku tidak mungkin kembali ke Jakarta maupun bekerja full time di Jogja. Kondisiku semakin terbatas, terlebih akibat statusku yang menggantung saat ini. Lanjut ngga bisa, mundur pun belum boleh. Serba salah.
Tetapi ada saja kemudahan yang Tuhan datangkan, antara lain lowongan beasiswa mandiri bimba aiueo yang mengajakku untuk training secara online. Bagusnya training ini tidak mengikat, meski jumlah uang yang mereka tawarkan juga sedikit (hanya untuk ongkos internet saja). Tapi tak mengapa, toh yang aku incar adalah ilmu dan pengalamannya. Ada juga media pintar politik yang menawarkan wawancara esok hari di Jakarta, tapi belum aku tolak sepenuhnya. Ingatlah Gisa, rezeki takkan ke mana. Yang penting, kamu sudah berusaha :)
Dan yah, jangan pernah iri dengan kehidupan orang lain, karena kita takkan pernah tahu perjuangan apa yang mereka hadapi dalam hidupnya. Dan jangan mendakwa orang lain sembarangan, karena kebenaran hanya Tuhan yang tahu.
Selamat menjalani hidup, Gisaku.
Salam hangat
Ibumu,
DFS