Anugerah yang Menyelamatkan
Adalah kisah tentang sepotong kehidupan pribadiku yang ingin kubagikan. Tak ada tujuan apapun selain berbagi cerita dengan kalian.
Dalam sehari kehidupan berlangsung 24 jam. Sepertinya terasa cepat berlalu apalagi ketika kamu disibukkan dengan berbagai hal, mencoba memenuhi tuntutan hidup atau tuntutan pribadimu sendiri. Banyak yang beranggapan bahwa 24 jam tidak cukup untuk menuntaskan segala pekerjaan yang menumpuk, bersenang-senang dan lain-lain. Namun hal ini yang benar-benar kurasakan pada waktu itu seperti tak ada jeda yang cukup untuk menikmati segala sesuatu.
Sore itu tak seperti biasanya, aku pulang dari kampus bersama dua orang teman satu jurusan (biasanya malam hari dan bersama kawan yang lain atau sendirian, hehe). Entah apa yang ada di pikiranku sore itu, tapi aku hanya berpikir tentang latihan menyanyi di gereja dan hatiku merasa senang tanpa beban meski badan sampai tak berasa. Aku melaju dengan cukup cepat hingga melalui teman-teman yang di depanku dan berpamitan dengan mereka “Aku duluan ya”.
Tak lama kemudian setelah ucapanku itu, aku seperti tertidur dan bermimpi tentang banyak hal. Tapi yang kuingat benar hanya satu penggalan mimpi yaitu aku mengendarai sepeda motorku dan akan menabrak sebuah mobil namun aku terhindar dari itu.
Kenyataannya? Aku terkapar di dalam mobil dan tak ingat apa yang telah terjadi hingga seorang teman bilang “Sabar, lene....” . Barulah ku tersadar bahwa kepala sudah penuh darah dan badan terasa lemas.
Di ruang UGD dipenuhi suara para perawat dan tangan yang begitu terampil mengobati luka yang ku alami.
Dukungan dari orang-orang terdekat di kota asing begitu kental dan ku sangat mengucap syukur untuk itu. Rasa terima kasihku tak akan pernah cukup membalas perhatian tersebut. Sebuah balon iron man merah juga mencoba membuatku tersenyum di atas kasur UGD.
Sekali lagi dalam hidup ini, aku membuat keluargaku khawatir dan aku minta maaf untuk itu. Kecerobohanku saat berkendara berujung demikian.
Bagaimanapun ketika malam ini, aku mencoba mengingat kembali kejadian itu (sampai saat ini pun aku tak ingat ketika aku terdorong kendaraan pengangkut itu), aku sangat teramat mengucap syukur dapat kembali melihat senyuman keluarga tercinta, teman-teman seperjuangan & para guru terhebat.
Kehidupan terasa berbeda bagiku setelah kejadian itu. Terasa lebih keras? Ya. Terasa lebih ringan? Ya juga. Andaikan hari itu....aku tak sanggup membayangkan. Banyak hal belum kurasakan, kusampaikan, kutanyakan ... Jadi rasa ucapan syukur terbesarku, kuberikan pada Sang Pencipta, Sang Pemberi Anugerah, Anugerah yang Menyelamatkan.