Ambil Kendali
Pagi tadi aku duduk di kursi dengan ada tempat sampah di sebelah kanan tempatku duduk. Aku sedang fokus membuka ponsel dan sekelilingku aman saja. Sampai tiba-tiba ada seorang Ibu yang membuang sampah minuman dan airnya muncrat ke arahku.
Baju, tas, kerudung, kaca mata dan wajahku pun terkena minuman itu. Aku hanya diam karena kaget dan refleks membersihkan butiran-butiran air minuman yang menempel di sana sini. Sembari aku sedang fokus membersihkan dan masih kaget. Sambil lalu, si ibu mengatakan maaf atas ketidaksengajaannya dan pergi begitu saja.
Aku masih terus membersihkan sampai semua yang basah tadi cukup tidak terlihat, aku juga mengelap-elap wajahku yang sedikit basah. Alhamdulillah bukan yang basah seperti disiram, jadi semua masih bisa aku kondisikan.
Karena ibu tadi pergi begitu saja saat bersamaan dengan mengatakan maafnya, aku tak sempat mengatakan iya. Tapi dalam hatiku, aku sedang mengendalikan diri agar tidak marah-marah atas apa yang baru saja terjadi.
Hal itu bisa saja menjadi alasanku untuk marah dan kesal, lalu perasaan itu kubawa sepanjang hari nanti. Tapi setelah bernegosiasi dengan perasaan itu, aku memilih untuk menyikapinya dengan biasa saja. Aku memilih tetap tenang dan tidak mengizinkan rasa kesal itu mengendalikan diriku.
Selesai membersihkan wajah dan yang terkena air minuman tadi, aku melanjutkan aktivitasku mencari referensi yang sedari tadi tertunda karena kejadian kecil ini.
Setelahnya, aku sadar bahwa beberapa hari lalu aku baru saja menamatkan buku tentang mengambil kendali atas setiap emosi. Penulisnya mengatakan bahwa buku itu tidak akan mengubah apapun jika setelah membaca buku itu kita tidak berusaha mengubah respon dan perilaku kita terhadap emosi.
Meski tak selalu mudah untuk bisa mengambil kendali atas emosi dan perasaan, apalagi di saat kondisinya sedang tertekan. Tapi aku percaya bahwa saat aku memilih untuk tenang merespon kejadian tadi, aku juga sedang menyimpan energiku dan tidak menjadikannya sia-sia.
Bayangkan saja jika aku marah-marah. Setelahnya pasti aku akan lelah, debar jantung lebih cepat dan bisa saja aku menyesali kemarahan itu.
Alhamdulillah. Aku menyadari bahwa ini juga pertolongan Allaah untuk bisa mengendalikan respon kita terhadap sesuatu. Terlepas dari teori stoicism tentang mengendalikan apa yang ada dalam kendali kita. Untuk menjadi terkendali, kita lebih banyak butuh pertolongan Tuhan dalam menjalankannya.
#kenaliemosi #ambilkendali














