Berbeda tapi tidak lebih kurang.
Kali ini izinkan saya membahas tentang kisahnya yang luar biasa, bukan dari sudut pandang ahli tapi hanya dari kacamata seorang editor nyambi mahasiswi yang masih terseok-seok nyari topik for her lovely thesis nya.
Bahas apasih? Ituloh, bahas anak-anak dengan segala keunikannya yang hanya dapat terlihat dan terasa saat kalian bersamanya.
Pernah melihat seorang anak kecil yang melengos ketika diajak bicara, menghindari kontak mata, sampai berbicara pun kadang enggan atau tak selancar kita? Nah, saat itulah kalian mungkin bertemu dengannya. Mereka, anak-anak berkebutuhan khusus, yang memerlukan perhatian lebih dari kita semua.
Secara definisi ngutip dari sebuah blog, anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan (baik itu fisik, mental/intelektual, sosial maupun emosional) dalam proses pertumbuhan/perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Jenis-jenis ABK pun ada banyak, all those Tuna’s, cerebral palsy, gifted, Asperger, ADHD, Rett’ disorder, hingga satu hal yang ingin saya bahas kali ini Autism.
Autism, sounds familiar right?
Apa sih autism? Rata-rata saat seseorang ditanyakan pasti dijawabnya semacam penyakit kejiwaan pada anak karena perilakunya yang masya Allah ajaibnya, padahal autism bukan sebuah penyakit kejiwaan, autism merupakan suatu gangguan saraf yang terjadi pada otak sehingga menyebabkan otak tersebut tidak berfungsi selayaknya otak normal, dan hal-hal tersebut dapat termanisfestasi pada perilakunya yang akan dijelaskan nanti di berikutnya ya.
Kurang afdol rasanya jelasin sebuah definisi tanpa melihat dari sudut pandang bahasa, ya maklum anak bahasa hahaha, jadi autism itu berasal dari kata autos yang berarti diri sendiri dan –isme yang berarti paham. Nah, kalo kata Mr. Ifan dulu waktu matkul morphology and syntax jaman S1, beliau pernah quoted omongan om Einstein: “if you cannot explain it simply meaning you don’t understand it well enough.” dengan kata lain, autism adalah sebuah keadaan yang menyebabkan anak-anak hanya memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri. Meaning, kalo kalian ketemuan sama anak autis dan dicuekin, rilek aja, that’s what they usually do, no hard feelings ya!
Kalau ada yang tanya, terus apa penyebab autis? Wah kalo baca dari references yang dikumpul rata-rata belum ada yang tau pasti kenapa. Para peneliti masih mencari tahu tentang hal ini, ada yang bilang gegara faktor genetik (katanya ada beberapa gen yang kudu bertanggung jawab karena ngebawanya) but still, they’re not really sure about that, faktor lingkungan (macem paparan polusi, racun dari lingkungan, infeksi virus, serta komplikasi saat kehamilan dan kelahiran) juga ngefek katanya, tapi masih dipelajari lagi lebih dalam.
Dari tadi bahas mengenai karakteristik anak autis secara singkat, nah kali ini akan dibahas lebih dalam satu persatu, apa aja sih ciri-cirinya.
1. Poor speech or lack of speech
Ini adalah faktor utama yang menyebabkan mereka lebih suka berada dalam dunianya sendiri. Gejala yang sering terjadi, saat kecil udah keliatan mereka cenderung terlambat bicara, pun kalo bicara mereka menggunakan bahasa yang tidak biasa digunakan, yang mengerti hanya mereka dan Allah yang paham percayalah, semacem supir bajaj kalau mau belok tanpa lampu sen, mereka cenderung membeo atau mengulangi kata-kata, kalimat-kalimat atau nyanyian yang disuka, mereka juga gak bisa berkomunikasi secara verbal dua arah dengan cara yang baik.
Oh iya lupa dimention, jadi autis itu ada tingkatannya: ringan – sedang – berat. Autis ringan adalah mereka-mereka yang masih bisa diajak interaksi social which makes them more sociable to people. Biasanya kategori ini masih bisa sekolah di sekolah umum. Lain hal dengan kategori sedang – berat, mereka lebih kesulitan dalam berinteraksi. Dan lebih extra lagi penangannya.
Ada satu contoh anak autis kategori sedang, anak ganteng ini biasanya gak peduli pisan saat ada orang yang ajak bicara, tergantung mood aja jawabinnya. Kalo diajak bicara sepatah kata, misal langsung menunjuk objek yang dimaksud, contoh “Dek, tolong matikan TVnya,” atau “Dek, tolong ambil korannya” dia biasanya langsung paham. Tapi kalau diajak bicara menggunakan kalimat kompleks macam, “Dek, dengerin deh, sedih banget masa blablabla dan blablabla,” ya bakalannya dadah babay, dia kabur atau melengos. Gak bakal ditanggepin itu curhatan colongan.
2. Inability to relate to children or adults
Kalau ini, semacam asal masnya senang sajalah. Anak-anak autis kurang memahami cara untuk memposisikan dirinya dihadapan orang lain. Jadi sampai kapanpun mereka akan bertingkah selayaknya mereka mau.
3. Difficulty dealing with changes in routine
THIS IS IT! Salah satu kekhasan anak autis: HABIT. Masya Allah istiqomah bin tertib pisan sama jadwalnya, gak bakal lupa atau pun boleh terdistract saat ngelakuinnya. Kayak udah ada list to do di memori pikirannya untuk hal-hal yang bakal dilakukan di hari itu. Baju yang dipakai, sepatu/sandal kesukaan, alat makan yang digunakan, jadwal saluran acara TV, dengerin azan tiap waktunya, anything you name it as habit, semua sama terus tiap harinya. Kalau ada hal yang diubah, wah repot, bisa marah-marah plus ngambek gak karuan. Dibujuknya pun setengah mati caranya.
Saat kalian bertemu dan mencoba menyapa anak autis, trus dia melengos, yah itu sih sudah biasa. Bukan berarti dia sombong atau kalian gak penting buat mereka, jangan baper gitu ah, tapi emang mereka gak mau melihat langsung ke orang, apalagi orang yang baru kenal. Butuh waktu, semuanya memang butuh waktu kan.
5. Oversensitivity or undersensitivity to noises/touch
Gak sukaaaaa kalau berisik, kalau dipegang, kalau diapain juga. Kenapa bisa begini, karena mereka punya dunianya sendiri, kalo ada yang mau masuk kedalamnya, usahanya butuh kerja keras ya mas/mbak nya.
6. Lack of awareness of danger
Sebodo teing, mau nyebrang jalan ada mobil juga, mau diri dipinggir gedung bertingkat, mau lari-larian di tangga. Ini nih yang membuat kita kudu extra hati-hati kalau mengajak anak autis keluar rumah apalagi ke tempat baru.
7. Having something they love the most
Anak autis punya obsesi pada hal tertentu. Yang suka kereta, pasti hang out nya ke stasiun tiap hari, yang suka gambar, pasti bisa tuh bikin pagelaran lukisan sendiri dari hasil karyanya, yang suka musik, siap-siap dia bakal dengerin semua genre musik tiap hari dan dia akan nyanyi sepuasnya kapan aja dan dimana aja, gak peduli tetangga udah mau tidur pas tengah malem. Nah, hal inilah yang membuat anak autis kategori ringan berjaya banget saat mereka bisa menemukan bidang kesukaannya. Karena mereka itu kalau udah fokus, kalah deh Sherlock, dan totalitas mereka dalam belajar itu total abis. Believe it or not, anak autis saat main gadget pasti otodidak. Sekali melihat orang menggunakan nanti akan mereka coba-coba sendiri sampai akhirnya kita semua kalah jago dalam menggunakannya.
Nah, biasanya ciri-ciri itu bisa menyebabkan ketidaknyamanan pada orang disekitarnya sehingga kadang dibutuhkan terapi autis dengan tujuan untuk membantu mengurangi dan membantu menyembuhkan anak yang sudah terdekteksi autis. Jenis terapinya ada macam-macam:
1. Terapi komunikasi
Terapi ini tujuannya untuk membantu melancarkan otot-otot mulut anak sehingga mereka bisa berbicara dengan lebih jelas.
2. Terapi okupasi
Terapi ini tujuannya untuk bisa membuat anak lebih mengendalikan gerakan mereka dan bisa melatih motorik halus anak.
3. Terapi obat
Dengan penggunaan beberapa jenis obat yang tepat dan sesuai dengan aturan minum bisa membantu menenangkan anak yang susah untuk dikendalikan.
4. Terapi makanan
Nah ini yang paling susah dilakukan, anak autis itu cenderung fanatik sama makanan yang sebenernya gak baik untuk mereka jika diberikan. Mereka totally adore makanan dari tepung, coklat, dan semua jenis chiki-wafer. Sekalinya suka sama suatu makanan akan terus makan itu sampai ludes, boro-boro inget untuk bagi-bagi, dan gak akan bergeming untuk menyolek makanan lain yang memang bukan seleranya.
Oke deh, penjelasan tentang autisnya segitu dulu aja ya, sebenernya masih banyaaaaaak lagi. Nanti lah di kemudian hari kalau mood menghampiri untuk nulis.
Karakter anak autis juga akan lebih terlihat saat kita berinteraksi lebih intens dengan mereka. Ibaratnya saat bersama anak-anak autis, kalian akan menemukan kisah tiap hari yang unik-unik dan ajaib. Dari yang bikin mengelus dada sampai yang membuat kita meneteskan air mata.
Percayalah, saat kalian diberikan perhatian kecil dari anak autis, yang mungkin hal yang biasa bagi banyak orang, hal itu akan membuat perasaan mengharu biru. Contoh, dikasih sekotak susu ultra saat kita ngeluh ke anak autis kalau perut kita sakit, bikin ngakak bin pengen nangis tiba-tiba di tengah sakit yang melilit. Karena apa, karena biasanya mereka acuh, kurang peduli sama orang lain. Jadi kalau sempat mengalami hal-hal klise tapi penuh makna ya merasa beruntunglah, gak semua orang bisa mengalaminya.
Yuk, sayangi dan lebih hargai mereka.
Karena mereka bukan berbeda, mereka hanya terlahir lebih istimewa. : )
A Parents Guide to Autism Spectrum Disorder. 2011. The National Institute of Mental Health: U.S. Department of Health and Human Services.
Mayo Foundation for Medical Education and Research (2013)
Autism Spectrum Disorders: Facts about ASDs. 2012. Centers for Disease Control and Prevention.
Autism Spectrum Disorders: Signs & Symptoms. 2010. Centers for Disease Control and Prevention.
Learning about Autism. 2012. National Genome Research Institute.
Dan dikutip berbagai sumber.