‘when you feel so tired but you can’t sleep…’
This lyric is being my national anthem since I’ve had enough sleep for 8 hours out of 10 hours on the plane before, only woke up for eating and praying, ha pardon me. Yes, today is the last day I was being a pilgrim, just got home after having been doing a journey for about 9 days in a row. I should try to close my eyes not to open laptop or write in a tumblr. However, I just cannot help myself to do any activity you name it as sleep to gain my energy. In all honestly, I can’t.
ya, saya merasa saya harus menuliskan perjalanan ini
bukan untuk mereka, tapi untuk saya sendiri
karena ingatan diri ini fana, kelak waktu akan menjadikannya tiada
kelak usia menghilangkan jejak sejarahnya, ibroh yang bisa diambil daripadanya
karenanya izinkan saya menuliskan ini di sini, sampai page ini tak dapat dibuka kembali
menuliskann kisah perjalanan 9 hari yang menguras, emosi, perasaan, dan jiwa raga
yang walaupun demikian, semua hal itulah yang membuat perjalanan ini bermakna
Tiba pagi hari di Bandara Soekarno-Hatta, kami sudah disambut ratusan jamaah yang akan berangkat bersama. 430 peserta adalah total jamaah dalam satu keberangkatan, bukan jumlah yang sedikit bukan? Mereka berasal dari mostly pulau Jawa dan Sumatera. Dihantar sanak saudara, mereka beramai-ramai datang ke bandara. Dengar-dengar, ada seorang ibu yang diantar 2 rombongan menggunakan bus besar dari daerah Jawa Tengah sana, Masya Allah, begitu erat ikatan mereka, sampai rela bersusah payah menghantar salah seorang saudara pergi umroh, semoga keberkahan Allah selalu ada untuk mereka semua. Lalu, kami dibagi menjadi 10 kelompok, setelah diadakan briefing dan pembagian paspor+tiket, kami pun siap take off menuju Jeddah siang itu juga.
Perjalanan menggunakan pesawat Lion Air Airbus A330 selama 10 jam cukup membuat pinggang minta dipijat. Setelah duduk di sebelah pasangan suami istri yang kayaknya baru saja menikah, yang membuat saya diledeki menjadi ‘kacang’ oleh adik, bzzt, ya nasip itu sih, haha, but it doesn’t matter, since I had more and more time to do tilawah instead of talking with others at plane hehe #ngeles, sampai juga akhirnya saya dan jamaah lainnya di Bandara King Abdul Azis ketika hari menjelang sore, pukul 5 waktu Saudi kalau tidak salah. Btw Saudi dan Indo memiliki 4 jam rentang perbedaan waktu, Indo lebih cepat 4 jam. Dan kesan pertama yang ada di benak adalah masya Alloh itu bandara, zuuuper gede, dan bangunannya itu, kalau bahasa betawi yang bisa digunakan untuk mendeskripsikannya adalah ‘ngablak’, secara itu bandara luaaaaas bener, dan melihat bentuk bangunan yang hanya menyerupai terompet (atau corong-corong?) yang saya yakin bakal membuat bagian dalam banjir kalau hujan, eh apa itu bisa ditutup ya ujung corongnya? Waullohuahlam, belom sempet nanya, tapi yang pasti bandara yang tersibuk di dunia pada waktu ibadah haji itu cukup membuat saya takjub dengan kebesarannya dan ke’simple’annya bangunannya. Bisa dibayangkan (dari sepengelihatan saya) hanya ada satu ruangan besar untuk imigrasi, dan bangunan-bangunan persegi untuk pertokoan, tempat ruang tunggu yang berbentuk kotak-kotak beeesssaaaar dan tak terhitung jumlahnya, banyak kamar mandi dan ruang shalat, well, all in all, kalau kata Ira sih “such a plain airport”. Tata ruang diatur hanya berdasar fungsi, bukan artistik. Beda banget deh dengan kemoderenannya Changi ataupun minimalisnya Incheon Seoul. Mungkin itulah khasnya Saudi ya, simple, seperti kamu.
Perjalanan Jeddah-Mekkah menghabiskan waktu 5 jam kurang lebih menggunakan bus, atau apa 4 jam ya, lupa juga. Melewati padang gurun berbukit-bukit yang tidak berkesudahan. Hanya ada warna hitam bebatuan ditemani coklatnya pasir yang eksotis di awal kenangan tapi membuat home sick hijau nya daun Indonesia di akhir. Tapi ada satu yang khas dari jalan tol lurusnya Saudi, di sana banyak papan jalan yang berlafazkan tahmid dan tahlil, sukaaak pisan! Please banget itu tolong diterapkan di Indonesia sebagai pengingat untuk para driver, saya salah satunya, saat mengemudi, karena kalau sudah lelah, panas, macet dan pengen cepat pulang, bawaannya pasti ngomel-ngomel mulu di jalan, apalagi kalau lagi pms dan ada mobil yang nyalip tak bertanggung jawab keluar deh tuh omelan ke seluruh orang Indonesia. Nah, karenanya papan jalan di Saudi ini cocok banget sebagai pengingat menahan amarah, karena pada dasarnya mata kami akan otomatis membaca setiap tulisan yang terbaca olehnya, sehingga itu akan membuat kita jadi makin sering deh istighfar di jalan.
Selepas mengambil miqat umroh tadi waktu di pesawat di daerah Yalamlam doa niatnya begini,
aku memenuhi panggilan-Mu untuk menunaikan ibadah umrah.
waktu masih di pesawat, karenanya ketika sampai di Mekah, kami hanya ke hotel untuk meletakan bawaan dan langsung menuju Masjidil Haram untuk umroh. Jarak dari hotel ke masjid yang cuma lebih kurang 300 meter praktis membuat lebih efektif dan efisien untuk pergi ke masjid diwaktu kapan saja.
Masjidil Haram, satu kata pendeskripsian = RUMIT.
Ini masjid kaga ngerti deh bentuk bangunannya mau dibuat macam apa, ya memang sangat megah, tapi kesan megah dan elegan sedikit terganggu karena masih banyaknya proyek renovasi masjid yang belum selesai. Ditambah lagi dengan banyaknya pintu, hal itu cukup membuat jamaah bingung di awal waktu kedatangan, patokan yang mudah ya liat aja zamzam tower yang tingginya gak santai itu.
Yang bikin merinding adalah saat melihat ka’bah pertama kali. Degdegan, jauh lebih degdegan saat pertama kali ketemu dospem atau kamu.
Allah, truly, You are the Almighty.
Masya Alloh, gak ada kata yang bisa menjelaskan perasaan saat pertama kali melihatnya.
Allah sungguh Maha Besar. Indeed.
Ribuan orang yang datang, menyemut ke satu titik, semua menyeru hanya untukNya, kalimat talbiyah tak hentinya didengungkan baik secara Jahr atau Sir dari hamba-hambaNya.
Merinding, apalagi saat telah bergabung dengan gelombang tawaf. Sampai mata ini tak bisa menahan genangan air yang siap merembes kapan pun juga.
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
(Aku menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
Tak henti nya kalimat talbiyah ini diserukan, sambil membaca doa ketika tawaf disetiap putaran.
Masya Allah, maka nikmat Alloh manalagi kah yang kau dustakan, Tan?
Selepas tawaf, yang Alhamdulillah kebagian juga shalat di hijir ismail setelah sukses jadi pepesan di dalamnya, masuklah waktu subuh, eh iya sebelum itu kami shalat sunah dulu di belakang maqam Ibrahim dan berdoa deh sama Alloh apa aja yang kami pinta, nah diwaktu-waktu inilah semua doa hope harapan wish keinginan dream cita-cita kami sampaikan hanya kepada Sang Pencipta. Lepas itu, kami shalat Subuh berjamaah langsung di depan ka’bah, gak kebayang gimana rasanya pas dengar adzan Subuh pertama yang pertama kali, merinding campur aduk! Lalu kami shalat subuh bersama, tua muda, yang sepuh, dedek kecil, semua ada, sujud bermunajat kepada Alloh. Satu hal yang agak mengganggu ialah banyaknya Jemaah yang duduk di kursi lipat, iya sih dimaklumi karena jika mereka memang sakit kakinya mereka tak bisa shalat dengan berdiri, bahkan untuk bangun dari duduk aja susah, tapi masa ya ada juga mbak-mbak Turki yang masih belia pakai kursi lipat juga, itu apa maksutnyaaa mbak ayu, maleskah atau sudah tradisi? Duh, jadi kzl dan suujon sendiri astagfirulloh. Ya memang, pada akhirnya di Baitulloh ini juga kami jadi bisa melihat berbagai cara menakjubkan masing masing dari Hamba Allah saat mereka shalat, dari yang membuat nyureng mata sampai yang membuat istighfar sendiri. Yang membuat istighfar? Ya bayangkan aja, ada mbak-mbak Arab yang shalat sunah tapi sesekali dua kali ia membuka telepon genggamnnya di tengah shalat, lalu ia lanjutkan lagi shalatnya, ada juga ummi ummi yang ngedengerin orang ngobrol disebelahnya saat shalat, niat banget dengerin sampai dia menolehkan wajah, saat yang ngobrol sudah selesai dia baru melanjutkan shalat, Ck, omooo, gak ngerti lagi. Ya sudah lah manusia, pikir saya waktu itu, karena tak ada yang sempurna, bahkan kami pun, kadang saat shalat, pikiran kami masih terbang entah kemana, nyunggi dalam bahasa Jawanya, ya walaupun begitu jangan sampai separah contoh-contoh yang tadi itu juga ya. Astaghfirullah.
Sehabis shalat, kami pun melanjutkan dengan sa’i di antara bukit Safa dan Marwa. This is one of my favorite places beside ka’bah! Karena luas dan ber-AC (anaknya murah banget ketemu yang adem langsung seneng, hahaha). Setelah 7 kali bolak-balik di antara dua bukit, kami pun ber-tahalul di bukit marwa. Habis itu minum air zam-zam yang zupeeer nikmatnya. Alhamdulillah.
Beberapa hari di Mekah saya habiskan di hotel-haram saja, Alhamdulillah dapat melaksanakan beberapa kali umroh, ya sekali dua kali kadang nemenin mama belanja ke beberapa toko yang ada di sekitar hotel, ada amanah oleh-oleh yang mesti kami beli. Dan ada juga agenda dari travel yang mengajak berziarah, yang sepanjang waktunya biasanya saya habiskan untuk tidur di bus setelah pulang malam hari dan bangun pagi buta untuk ke Haram, haha engga juga deng, turun juga di beberapa jabal yang zuper terik dan banyak debu berterbangan itu.
Tapi yang pasti, so far nikmat pisan lah selama di Mekah. Kami jauh dari semua hal duniawi, say good bye dulu sama thesis terkasih dan tersayang, walaupun gak dusta juga kalau kondisi iklim Saudi cukup membuat pusing kepala. Dengan suhu 44° di siang hari dan 31-35° di malam hari, bisa dibayangkankan bagaimana kondisinya? Kalau Betawi bilang bisa mateng kalau kelamaan di jalanan. Tapi semua itu hanya dapat terbayar dengan janji Allah pada hambaNya. Dan faktanya, ditengah deru cobaan panasnya matahari, banyak dari hambaNya yang ada di sini, mereka tetap berlomba menjadi yang terdepan dan terkhidmat untuk menghadap kepadaNya. Menyerukan nama Allah, di baitullah, rumah Allah. Masya Alloh, jadi malu sendiri kadang kalau lagi ngeluh panas yang gak seberapa ini jadi langsung meluruskan niat. Jadi ingat sama kalimat, “jika iman masih setengah-setengah ingatlah akhir kehidupan hanya ada dua, surga atau neraka, tidak ada di tengah keduanya”.
Sekarang pukul 11.55 WIB saat saya menuliskan ini, mata masih terbuka dengan lebarnya. Jet lag ini sih, karena kalau di Saudi saya biasanya masih menunggu Isya di Haram atau Nabawi.
Oiya, satu hal yang menjadi ganjalan hati. Sedih rasanya melihat budaya belanja orang Indonesia yang sunggu tak tertandingi. Banyak Jemaah yang kelelahan ke bin dawood atau mutar-mutar dari toko ke toko sehingga ibadah wajibnya terlalaikan. Tak sempatlah mereka untuk ibadah, jangankan tilawah dan sembayang sunah lainnya, untuk sekadar mengikuti ibadah shalat 5 waktu di masjid aja susaaah. Memang membeli oleh-oleh untuk saudara di rumah itu baik, tapi kalau hal tersebut sampai mengambil jadwal waktu yang semestinya kita lakukan untuk memunajat kepadaNya sungguh sangat disayangkan dan membuat miris. Ini perjalanan untuk ibadah atau untuk travelling? Baiknya hal itu mesti kita jadikan catatan untuk muhasabah. Semoga Alloh senantiasa menjaga hati dan niat kita.
All in all, itu dulu ulasan memori akan perjalanan selama di Mekah, masih ada kisah di kota Medina atau Madinah, kota yang cantik nan menawan hati. Nanti tapi, akan ditulis jika ada hasrat yang mengiringi hehe.