Tak bisa kupaksa engkau terkungkung dalam hatiku
Tak bisa kujerat engkau atas cintaku
Dan tak bisa kupaling engkau setelah duluan ia semayam rindu atas sukamu
—Veatearsz, Andreazs Yuza.
seen from Canada
seen from Yemen
seen from United States
seen from China
seen from China

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands

seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Australia

seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Germany

seen from Germany

seen from United States

seen from United States
Tak bisa kupaksa engkau terkungkung dalam hatiku
Tak bisa kujerat engkau atas cintaku
Dan tak bisa kupaling engkau setelah duluan ia semayam rindu atas sukamu
—Veatearsz, Andreazs Yuza.
Tentang Perihal
Hari ini sudah kututup pintu bilik, berderam ia mempertanyakan mimpi yang kusemat di dinding dan jemari lusuh akan tinta mengering diujungnya.
Ia mendesah, seharusnya post note berjejer dengan luka yang menidurkan duka itu harus ditenggelamkan satunya pada hakikat masa yang jauh dan belum tentu milik semesta kita. Aku lelah, ucapku beriringan air mata tumpah pada lantai kayu yang berderik menertawakan kita.
Tapi lagi kau berucap perihal tentang yang jatuh lagi hari ini. Tentang akan yang menikmati pengulangan waktu siang malam bila dibiarkan terkembang di dalam kamar persegi yang berhunikan kita. Kau bilang lelah melihat peluh-peluh hanya mendingin sebelum ia dipanaskan cinta. Bosan, pada ruang kosong yang menetapkan sepi di kepalaku. Atau juga perihal sakit yang berulang disemat dalam jantung-jantung kita. Tersekat ia membunuh perihal pemikiran yang datang pada dinginnya malam dan pekatnya gelap.
Hari ini, perihal pintu bilik, lagi-lagi memunggungi isyarat kelaparan yang merintih pulang pada badannya. Ia lelah, aku paham, soal persoalan yang hanya berani berbicara dari pintu bilik.
[Kota Mati_Sebelum Tengah Malam_28 Feb 19_Veatearsz, Andreazs Yuza]
menyambut hujan sebelum ia jatuh ke tanah dan mengendap di bumi. Rengkuh ia seperti dingin yang diam dan mendung yang rusuh.
Veatearsz, Andreazs Yuza
Yang Tengah Kupertanyakan
Adakah ladang tempat aku menyemai cinta
Tanahnya tak pernah tandus
Tak akan tergerus hujan di kemarau panjang
Dan padanya aku memulangkan dahaga
[Kota Mati_6 Februari 19_Veatearsz,Andreazs Yuza]
Kesatria adalah pikiran yang bertarung di otakmu, sedangkan hati adalah sang putri yang butuh perlindungan. Maka tubuh ialah kastil tempat mereka bernaung.
—Veatearsz, Andreazs Yuza
Secangkir kopi yang tlah dingin. Secangkir kopi yang tinggal kurang dari setengah. Ibarat kamu yang datang di awal perjumpaan. Secangkir penuh kehangatan. Walau mendingin kemudian, tak kuat melawan perubahan. Dan aku yang harus meneguk habis, rasa yang terlanjur menguap.
Veatearsz, Andreazs Yuza.
Kita yang merencanakan. Tuhan yang mengizinkan. Takdir yang menjalankan
Veatearsz, Andreazs Yuza
Aku bukannya tak peduli. Hanya saja mulutku tak pandai berbasa basi.
Veatearsz