Sudah Besar
Andreazs Yuza, 10 Januari 19
Nia memasukan tangan ke saku jaket, mencegah udara dingin. Ia duduk di bangku rotan yang ada di teras rumah, mengawasi rinai membasahi jalanan. Mendesah saat rinai berubah hujan deras. Ia menyenderkan tubuh, sedikit melorot ke bawah, sebelah kakinya yang terbalut converse biru muda, mengetuk-ngetuk lantai merah marun.
"Loh, Nia? Belum berangkat?" suara Ibu mengagetkan remaja perempuan itu. Tubuhnya terlonjak.
"Belum, terlahang hujan." Nia kembali menatap langit.
Ibu memilih duduk di bangku seberangnya. Meletakkan secangkir teh panas dan sepiring cemilan di atas meja yang juga terbuat dari rotan.
"Kan ada payung," ucap Ibu sehabis menyesap tehnya.
"Yah, masa pake payung. Males nyampe sana, payung basah, mau disimpan di mana." Nia protes. Hari ini tidak mau repot menenteng payung basah seharian. Dia mengambil sepotong kue dan menyumpal mulut, biar tidak protes lebih jauh.
Ibu melirik mendengar jawaban anaknya. Jarang-jarang mendengar anak gadisnya protes karena hujan. Dia memperhatikan penampilan Nia, lalu tersenyum geli.
"Tumben, biasa kalau hujan begini kamu sudah ambil sepeda dan main depan rumah Pak RT." Pancing Ibu pura-pura ikutan melihat hujan sambil meminum lagi tehnya.
Nia melotot mendengar pernyataan Ibu. "Ish, Ibu!" rengeknya,"orang mau pergi, lagian Nia udah besar."
Nia mengingat dirinya memang suka bermain sepeda di depan rumah Pak RT. Tidak peduli dengan teriakkan marah Ibu atau sepatu yang akan rusak. Pasalnya, tiap kali hujan deras, selokan air di sana tidak mampu mengalir lebih cepat karena daerahnya lebih rendah, juga pertemuan tiga selokan kecil, sebelum menuju bandar yang lebih besar. Genangan favorit untuk main sepeda.
Ibu tertawa melihat wajah cemberut Nia. "Jadi, siapa nama laki-laki yang bikin anak ibu galau gara-gara hujan?"
"Orang cuma temen," jawab Nia cepat, gelagapan dengan wajah memerah. Tidak menyangka akan ketahuan dengan mudah.
"Ooo... temen ya," goda Ibu,"tapi suka."
Wajah Nia merah padam. Ia menutup wajah dengan kedua tangan, menutupi rasa malu atas pernyataan Ibu.
Telepon pintar Nia berbunyi, beberapa pesan baru diterima. Cepat ia mengeluarkannya, membuka kunci layar dan membaca kabar terbaru dari temannya.
Nia yang tadinya antusias berubah lesu. Ia membalas pesannya dengan wajah kecewa. Setelah itu, telepon pintar segera di kembalikan ke saku celana, meski beberapa kali denting, pertanda balasan dari lawannya tidak digubris lagi.
Nia membuka sepatunya. Lalu berdiri dan menenteng sepatu ke dalam rumah.
"Loh? Nggak jadi pergi?" tanya Ibu keheranan.
"Batal. Hujan deras."
"Oh, terus ini Ibu ditinggal sendirian?"
"Enggak kok, Nia juga mau bikin teh," balas Nia menatap ibunya.
"Bener?"
"Iya."
"Yakin nih?"
"Iya, yakin. Emang mau ke mana lagi?" tanya Nia bingung.
"Kirain kamu mau ke garasi, ambil sepeda buat main."
"Ish, Ibu! Nia udah gede, nggak mau main begitu lagi!" teriaknya dengan wajah merah dan bibir cemberut.
Ibu Nia terkekeh. Nia yang kesal, langsung melangkah meninggalkan ibunya yang belum berhenti tertawa.
"Ambil di teko teh saja, tadi Ibu buat di sana. Sekalian bawa ke sini."
Tamat.
[Kota Mati_Sebelum Ashar_10 Jan 19_Veatearsz, Andreazs Yuza]

















