Dia Trauma dengan Keimanannya
Beberapa tahun lalu dia ditolak karena keimanan. dia menangis tanpa henti sampai satu setengah tahun kemudian. Selama itu, dia tidak mengenal siapa dirinya, mengasihani diri-tidak dipilih karena keimanan yang dia anut, mencoba menyembuhkan diri dengan waktu, berusaha berdamai dengan semua yang terjadi padanya.
2 tahun kemudian, diapun akhirnya berdamai dengan diri dan keimanan yang dia anut, tapi luka itu ternyata masih ada. bersembunyi di ruang hening disudut hati terdalam. Awalnya ia berpikir luka itu sepenuhnya sudah sembuh. Sudah terlebur bersama dengan waktu. Namun ternyata dia salah. SALAH BESAR!
Luka itu hanya butuh waktu sampai timbul ke permukaan. dan waktunya itu...HARI INI!
Ia mencoba mendekat dengan yang seiman, mencoba untuk bertukar pikiran dengan mereka yang menurut orangtuanya sejalan, sepemahaman. Namun yang ia dapatkan ternyata tidak sesuai harapan.
Bahwa mereka yang menurut dia seiman, memiliki cara pandang yang jauh berbeda...sangat berbeda. Terkejutlah ia terhadap fakta tersebut. Tanpa ia sadari, luka beberapa tahun lalu dimana ia ditolak dan dihujat karena keimanan yang ia anut muncul kembali. Layaknya sebuah bom waktu yang menunggu moment untuk menampakkan kekuatannya.
Hari ini...ia terluka kembali dengan keimanan yang ia perjuangkan. Hari ini luka atas nama keimanan itu hadir untuk kedua kalinya. Hari ini dia merasa kalah karena kembali ke titik awal.


















