angkot cereal
seen from France
seen from Vietnam
seen from Canada

seen from Malaysia
seen from Thailand
seen from T1
seen from United States
seen from United Kingdom
seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia
seen from United States
seen from China
seen from Germany
seen from Australia

seen from United States
seen from Yemen
seen from United States
seen from Philippines
angkot cereal
Pak Walkot Kita adalah...
disaat melihat liputan tentang Ridwan Kamil yg menjadi supir angkot di angkotday 200913
Bude : wiih kemaren Ridwan Kamil nyupir angkotnya bagus itu mah
Me : iya atuh, masa pake angkot butut nu geus boleksek
Deila : pak Walikota teh dulunya supir angkot?
Me & Bude : EAAAAA hahahaha
AngkotDay! Andai tiap hari.
Supir Angkot : Aneh nya neng ai lamun lagi gini mah penuh aja.
Anak SMA : *ketawa*
Supir Angkot : Nanti lapor aja kalo supirnya masih ada yang nerima ongkos. Kalo ada yg kasar juga lapor aja
Ibu-ibu : Ah, masa atuh ngga bayar Pak?
Anak SMA : Iya khusus hari ini aja, soalnya lagi ada peringatan angkot day
Ibu-ibu : *senyum-senyum*
Waaaa! Sekian lama naik angkot kelapa dago, baru kali ini ngerasain seramah, tertib, dan selalu penuh kaya gini. Uniknya, setiap turun itu penumpang bukannya bayar tapi ke arah supir sambil bilang, "makasih ya pak, nuhun ya pak". Yay! :p
Sampai-sampai supir tadi becanda, "kenapa ya neng pada bilang kasih, kasih." :))
In Angkot We Trust: Part 3 - End (Solusi Permasalahan Angkot Bandung)
Merujuk pada tulisan saya sebelumnya, banyak metode pemecahan masalah yang bisa dilakukan oleh pemerintah, dinas terkait, dan kita semua selaku warga Bandung. Dari hal-hal yang sederhana hingga yang kompleks, jalan untuk menyelesaikan permasalahan angkot bisa diambil dalam banyak varian.
1. Penyesuian Jumlah Angkot
Jumlah angkot yang beredar di kota Bandung mesti dikontrol secara ketat. Survei secara berkala bisa mengetahui seberapa efektif penggunaan angkot setiap harinya sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat bahkan kebutuhan tiap harinya.
Dana dari efisiensi ini dapat dialihkan untuk pembangunan sarana semacam shelter angkot atau pemeliharaan angkot itu sendiri. Angkot yang umurnya kolot dan pengendara yang tidak baik, bisa dipertimbangkan untuk diberhentikan sementara atau selamanya hingga beroperasi dengan baik dan benar.
2. Pemeliharaan Angkot Secara Berkala
Angkot perlu dipelihara secara berkala agar penggunanya merasa nyaman. Bagian eksterior angkot memang perlu, namun prioritas utamanya adalah bagian interior angkot yang menjadi kunci kenyamanan pengguna angkot. Pemeliharaan mesin juga faktor penting agar performa angkot optimal dan tidak berkendala.
Contohnya, jok angkot mesti dipelihara untuk tetap baik, tidak rusak atau berlubang. Selain itu, kebersihan dalam angkot juga mesti dijaga baik oleh pengendara atau kita sebagai pengguna. Tidak ada puntung rokok yang berserakan atau sampah yang menggunung dalam kabin angkot.
3. Standarisasi Pengendara Angkot
Pengendara angkot tentunya diharapkan memiliki attitude berkendara yang baik, tidak ugal-ugalan dan sembarangan. Pengendara diharuskan memiliki Surat Izin Mengemudi yang legal, berumur cukup matang, dan berkepribadian baik.
Proses penjaringan pengendara angkot harus dilakukan secara ketat agar pengendara tahu betapa pentingnya berkendara secara baik. Setelah berkendara selama beberapa waktu, kontrol kualitas pengendara harus tetap terjaga dengan adanya evaluasi berkendara dalam rentang waktu tertentu.
4. Pembangunan Fasilitas Angkot
Angkot yang membuat orang ingin menaikinya adalah angkot yang memiliki banyak fasilitas. Fasilitas itu dapat berupa fasilitas dalam angkot atau luar angkot. Angkot dapat diberi fasilitas semacam air conditioner, sound system, dan lain-lain agar memberi kenyamanan dalam angkot.
Di luar angkot, fasilitas semacam shelter angkot, terminal angkot yang layak, jadwal dan rute angkot yang terstruktur, akan mendongkrak jumlah pemakai angkot sehingga angkot bisa menjadi primadona transportasi umum di kota Bandung.
5. Pengelolaan Angkot Secara Holistik
Ini bisa dibilang kunci solusi dari semua permasalahan ini. Pemerintah harus bisa melakukan take over dalam pengelolaan angkot yang selama ini tidak jelas. Isu kesejahteraan dari pengendara angkot bisa diselesaikan pemerintah dengan memberi gaji yan tetap sehingga kualitas pengendara bisa terjaga.
Subsidi pemerintah juga bisa membantu pengembangan angkot sehingga lebih layak pakai. Segala kebijakan mengenai angkot akan lebih mudah tersinkronisasi dengan kebijakan pemerintah lain apabila pemerintah mengelola angkot secara langsung. Imbasnya pun akan lebih besar lagi untuk perencanaan transportasi secara jangka panjang.
---
Itu adalah beberapa solusi versi saya yang bisa diterapkan untuk membuka celah permasalahan angkot di kota Bandung. Bagian ini juga menjadi penutup dari serial esai In Angkot We Trust yang saya dedikasikan untuk Angkot Day pada tanggal 20 September 2013. Semoga bisa menginspirasi banyak pihak termasuk kita sendiri untuk membangun transportasi umum kota Bandung menjadi juara. In Angkot We Trust!
In Angkot We Trust: Part 2 (Permasalahan Angkot di Kota Bandung)
Setelah Part 1 dari artikel spesial “In Angkot We Trust” muncul, kali ini saya mencoba sedikit menggali hal lain mengenai dunia angkutan kota (angkot) terutama di kota Bandung. Di bagian ini, saya berusaha untuk lebih serius mendalami tentang permasalahan-permasalahan yang terjadi berkaitan dengan keberadaan angkot.
Angkot memiliki segudang permasalahan yang harus dipecahkan. Alih-alih membantu untuk mengurai kemacetan di kota Bandung, angkot seringkali dijadikan kambing hitam dari semua permasalahan lalu lintas dan berbagai keruwetannya. Mari kita bahas satu per satu permasalahannya dalam kacamata saya.
Jumlah angkot yang melebihi kebutuhan
Coba Anda telisik isi angkot menjelang siang hari atau malam hari. Sebagian besar angkot hanya akan penuh pada pagi hari saat orang-orang bergegas beraktivitas atau saat sore hari saat mereka pulang. Ini wajar, namun akan berimbas besar pada efektivitas pemakaian jalan. Angkot-angkot yang kosong ini hanya akan “memakan” jalan dan membuat lalu lintas bertambah padat. Imbasnya, mereka berusaha untuk mencari penumpang sehingga berhenti terlalu lama.
Mengapa demikian? Angkot memang bukan pilihan utama sejak beberapa tahun ke belakang kala kendaraan pribadi lebih dipilih, namun jumlah angkot tetap bahkan meningkat. Alhasil, tingkat vacancy pada angkot terlalu tinggi dan berujung pada inefektivitas pengangkutan penumpang. Angkot yang sudar berumur uzur pun banyak yang masih berseliweran sehingga menambah jumlah angkot tanpa penumpang.
Kenyamanan di dalam angkot yang minim
Sudah tidak aneh lagi bila kita melihat kondisi interior angkot yang tidak layak untuk dinaiki penumpang. Berbagai macam keluhan para pengguna angkot pun muncul dan umumnya memang terjadi di setiap angkot. Contohnya, kursi-kursi di dalam angkot yang lebih terlihat seperti bekas cemilan tikus got. Kecuali Anda sedang beruntung menaiki angkot dengan kondisi baru, kursi-kursi tersebut pasti membuat Anda sakit pinggang dan busanya sudah hilang entah ke mana.
Belum lagi, kekesalan dari sejumlah pengguna angkot adalah rokok. Memang, rokok bukan barang haram di dunia ini bagi beberapa pihak, namun keberadaannya seringkali membuat ketidaknyamanan terutama bagi kaum perempuan. Merokok dalam angkot merupakan tindakan yang banyak terjadi dan lebih konyolnya lagi sering dilakukan oleh supir angkot itu sendiri. Masalah lain seperti kondisi mesin angkot juga tingkat kebersihan dan keamanan yang rendah juga patut disayangkan.
Pengelolaan angkot yang tidak kompeten
Angkot di kota Bandung dimiliki oleh beberapa pihak swasta yang tidak berkepentingan dengan khalayak umum. Akibatnya, banyak pengelolaan angkot tidak mengedepankan kepentingan umum dan merugikan orang banyak. Pemerintah tidak ambil banyak bagian dalam pengelolaannya sehingga sering tidak sejalan dengan kepentingan pemerintah.
Pemerintah tidak melakukakan penjaminan kesejahteraan supir angkot dan standardisasi supir angkot sehingga terlalu banyak kesalahan yang terjadi dalam pengelolaan supir angkot. Pemberian fasilitas seperti pembuatan shelter angkot atau dana bantuan pemeliharaan angkot juga rasanya tidak ada padahal sebenarnya adalah peran pemerintah. Pemerintah nampaknya belum sadar akan sentralnya pengaruh angkot dalam transportasi umum dalam kota.
Kurangnya kesadaran berlalu lintas supir angkot yang baik
Tidak salah apabila sebuah band lokal Bandung bernama Mesin Tempur pernah membuat lagu berjudul “Supir Angkot Go**og” karena banyak buktinya. Menyupir seenaknya memang trademark supir angkot yang telah lama melekat. Maju dan berhentinya angkot acapkali sulit diprediksi sehingga menimbulkan kebingungan di banyak situasi.
Yang paling krusial adalah mengenai tempat pemberhentian sementara angkot yang terbilang asal-asalan. Tanda dilarang stop nampaknya telah menjadi tempat favorit untuk berhenti demi menaikan atau menurunkan penumpang dan dampaknya adalah munculnya kemacetan. Mengebut seenaknya juga dilakukan beberapa supir angkot yang kemudian membahayakan penumpang dan pengguna jalan lain.
Kesejahteraan supir angkot yang tidak menentu
Mungkin ini adalah sebenarnya faktor kunci mengapa angkot begitu tidak menarik di mata masyarakat. Gaji supir angkot yang sangat ditentukan oleh jumlah penumpang yang masuk sangat berkaitan dengan permasalahan angkot yang saya bahas di poin sebelumnya. Tak ada gaji tetap yang diperoleh oleh supir angkot membuat supir seringkali “kejar setoran” yang berimbas pada kepribadian supir terutama dalam berkendara.
Fenomena “ngetem” seringkali menjadi momok bagi pengguna angkot dan dirasa terlalu membuang banyak waktu. Namun, dari sudut pandang supir angkot, ini sangat beralasan karena memang mereka butuh banyak penumpang untuk menumpuk uang gaji mereka lebih banyak. Tak ada sistem pengupahan yang layak seperti gaji pokok atau insentif secara adil benar-benar menjadi titik kulminasi dari permasalahan angkot ini.
---
Mungkin masih banyak fenomena yang terjadi di dunia angkot ini yang belum terusut oleh tulisan saya ini. Jika Anda adalah pengguna angkot yang setia, tentu Anda akan lebih mampu mengutarakan keresahan mengenai dunia angkot ketimbang saya yang mulai jarang menggunakan angkot. Semoga segala permasalahan yang telah atau belum saya bahas bisa terselesaikan di kemudia hari. In Angkot We Trust!
In Angkot We Trust: Part 1 (Pengalaman Berangkot Ria)
Angkutan Kota. Moda transportasi ini memang sudah menjadi jamur di kota Bandung yang menjadi kota yang membesarkan saya. Setiap hari, saya sudah tentu melihat mobil-mobil berwarna-warni ini mondar-mandir di seluruh penjuru kota. Sebagian hidup saya telah dihiasi oleh banyak pengalaman dalam angkot. Penuh memori.
Ketika saya duduk di bangku SD kelas 5, saya mulai secara reguler menggunakan angkotan kota (angkot). Hidup keluarga saya masih sederhana sehingga pilihan naik angkot sangat cocok. Rute angkot? Setelah berjalan sekitar 200 m dari rumah saya, saya bisa menaiki angkot Cicadas – Cibiru (Panyileukan) dari jalan utama komplek. Angkot ini saya tumpaki sampai daerah Metro Margahayu kemudian berpindah ke angkot Riung Bandung – Dago hingga dekat sekolah saya. Saya ulangi proses itu setiap hari sampai saya lulus SD.
Keculasan saya dapat Anda temui dalam pengalaman berangkot ria saat SD. Saya pernah menaiki angkot Cicadas – Cibiru (Panyileukan) dari Cicadas sampai jalan utama dekat rumah. Saat itu, ongkosnya sekitar Rp3.000 dan itu terhitung besar bagi saya. Setelah duduk di angkot tersebut, uang saya kurang Rp1.000 untuk ongkos karena dibelikan poster Songoku Super Saiyan 3 yang amat memukau.
Berpikir keras bagaimana membayarnya, saya ingat uang yang saya punya adalah 1 lembar Rp1.000 dan sisanya pecahan Rp100 kemudian muncul setan culas di otak saya. Tempat turun pun tiba dan saya akhirnya harus turun. Setelah melipat selembar uang berisi recehan yang kurang itu, saya memberikan kepada supir kemudian berlari kencang tanpa basa-basi menuju rumah. Hampir saya berpikir supir tersebut akan menabrak saya seperti dalam game Grand Theft Auto, namun supir itu ternyata baik dan saya bodoh. Semoga dosa saya dan supir itu diampuni. Amin.
Setelah berbaju putih-biru, saya tetap melanjutkan menggunakan angkot sebagai moda transportasi. SMPN 5 Bandung adalah sekolah saya selanjutnya dan ada sedikit perbedaan rute dengan rute saat SD. Angkot Cicadas – Cibiru memang tak tergantikan karena memang tak ada angkot lagi. Setelah sampai sekitar daerah Gedebage, saya beralih ke angkot St. Hall – Gedebage hingga Jalan Jawa lalu berjalan sedikit untuk tiba di sekolah. Alternatif rute lain adalah dengan menggunakan Cicadas – Elang setelah turun di daerah Kiara Condong dari angkot Cicadas – Cibiru dan berganti lagi dengan Kelapa – Ledeng setelah sampai di dekat Karapitan.
Pengalaman berangkot ria saat SMP yang paling saya ingat bisa dibilang memalukan. Saya pernah menguntit kecengan saya ketika hendak pulang ke daerah Riung Bandung dalam angkot Riung Bandung - Dago. Walau saya kenal perempuan itu, tak ada pembicaraan sedikit pun dalam angkot dengannya karena saya memang bodoh. Setelah momen awkward tersebut, dia turun di dekat Riung Bandung dan saya pun ikut turun padahal saya biasa turun di dekat Metro Margahayu. Setelah itu, saya secara spontan menyatakan perasaan saya, namun dia pun hanya berkata “Tidak,” lalu langsung pergi. Saya mengumpulkan pecahan hati saya dan kemudian tertunduk pulang. Tragis.
Selepas masa SMP yang norak, saya tak lagi menggunakan angkot sebagai transportasi utama. Setelah mendapat Surat Izin Mengemudi B yang agak terlalu dini, saya mulai rajin menggunakan sepeda motor untuk bersekolah. Di fase ini, saya merasa angkot pun sudah terlalu mahal dan sangat tidak praktis. Saya masih alay saat awal masuk SMA dan berpikir mengeceng dalam angkot sudah tidak berhasil, maka bergaya dengan motor bebek mungkin akan berhasil. Alhasil, saya harus merelakan angkot pergi tanpa diisi oleh raga saya hingga sekarang walau sesekali masih saya naiki dalam kondisi tertentu, seperti motor yang disita orang tua karena mengemudi terlalu liar. Konyol memang.
Ada rasa yang tertinggal ketika saya meninggalkan angkot sebagai sarana transportasi saya. Angkot memberi banyak kenangan dalam sebagian hidup saya. Sampai sekarang, saya merasa angkot memberikan romantisme tersendiri ketika menaikinya. Momen itu tersembunyi dan terekam dalam angkot yang usang dan lusuh. Saya pun percaya Anda pasti pernah mengisi lobus memori di otak Anda dengan kenangan berangkot ria.
Angkot
Saya selalu suka bepergian dengan menggunakan kendaraan umum. Banyak cerita-cerita yang bisa saya saksikan. Saya bisa melihat manusia dari berbagai lapisan masyarakat, dan biasanya mereka membawakan cerita yang sangat menarik.
-
1.
Saya sedang menaki angkutan kota Panghegar-Dipati Ukur ketika seorang wanita menaiki angkot yang saya tumpangi. Seorang wanita berjilbab yang sedang menggendong anak. Rupanya dia seorang ibu. Awalnya saya tidak peduli, tetapi seorang wanita lain mengajak sang ibu berbicara.
"Anaknya kenapa, Bu? Kecelakaan?"
"Iya, Bu. Jatuh dari motor. Ini saya mau ke Borromeus, ganti selang (kateter) anak saya. Sekalian suntik (ibu tadi menyebutkan suatu obat entah apa)."
Saya yang sangat terkejut mendengar percakapan kedua orang tersebut mulai memasang telinga baik-baik. Menguping.
"Kok bisa, Bu?"
"Iya, kemarin naik motor bertiga sama ayahnya, sama kakaknya juga. Lalu kecelakaan, jatuh dari motor. Alhamdulillah, dia selamat. Ayah dan kakaknya mah ..."
Dia terdiam.
"Ayah dan kakaknya mah ngga selamat. Meninggal dunia. Anak ini selamat tapi cacat permanen. Bisa diterapi, tapi ngga bisa sembuh sampe sembuh banget. Cuma bisa berkurang aja."
Saya terdiam. Kasihan, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Saya merasa sangat tidak berguna saat itu.
Hari itu, angkot mengajari saya tentang ketabahan dan ketegaran hidup.
-
2.
Suatu hari, saya menaiki angkot jurusan Margahayu Raya- Ledeng. Saya duduk di kursi depan, di sebelah Bapak supir. Saya takut karena Bapak supir di sebelah saya berbadan besar, hitam, dan tangannya penuh dengan tato.
Preman abis.
Saya mulai menghakimi Bapak supir itu di dalam pikiran saya sendiri. Pasti orangnya kasar, merokok, preman lah pokoknya! Harus hati-hati!
Ternyata pikiran saya salah. Bapak supir itu tidak merokok, entah memang tidak merokok atau tidak mempunyai rokok. Yang paling mengejutkan adalah, tutur katanya sangat sopan dan halus. Sangat ramah, bahkan lebih halus dari teman saya yang (sepertinya) rajin beribadah dan mengaku anak guru mengaji serta memiliki pesantren kecil di kot asalnya.
Saya terdiam. Malu karena sudah berpikiran negatif pada orang yang belum saya kenal.
Hari ini angkot mengajari saya untuk berbaik sangka pada orang lain.
-
Kali ini saya menaiki angkot Riung Bandung - Dago. Hari itu hujan sangat deras. Sangat. Deras. Tiba-tiba angkot yang kita tumpangi berhenti. Ban bocor rupanya. Sang supir turun dari angkot di tengah hujan yang sangat deras untuk mengganti nya.
Sendirian.
Lima belas menit kemudian, sang supir kembali masuk dan menyalakan angkotnya kembali dalam keadaan basah kuyup. Perlu diingat, hari itu hujan sangat deras dan udara sangat dingin.
"Punten ya, bannya bocor," katanya sambil tersenyum.
Hari ini angkot mengajari saya tentang dedikasi pada pekerjaan yang kita jalani.
-
Angkot dinilai sempit, panas, ngetem, ugal-ugalan, dan tidak nyaman. Tetapi selalu ada sudut pandang yang lain yang dapat kita gunakan untuk menilai suatu hal.
Selamat membaca kehidupan!