Dunia memiliki caranya sendiri untuk bernyanyi, meski tanpa melodi yang terukur atau ketukan drum yang teratur.
Bagiku, mendengarkan dunia bukan sekadar aktivitas pendengaran, melainkan sebuah bentuk penyerahan diri pada momen yang sedang berlangsung. Sepertinya benar apa yang dikatakan orang-orang: bahwa musik hanyalah cara kita mewarnai waktu, sedangkan suara alam adalah esensi dari keberadaan kita yang sesungguhnya.
Ada satu pelajaran menarik yang pernah aku baca di buku Gift from the Sea karya Anne Morrow Lindbergh. Ia menulis kalau jiwa kita itu sering kali "terpecah" karena tuntutan dunia luar. Hampir tiap detik kita 'diserbu' sama hal-hal yang dirancang manusia; musik yang membuat kita galau, podcast yang menuntut kita berpikir, sampai iklan yang lewat terus-menerus. Sadar atau tidak, semua itu memang sengaja didesain untuk menarik perhatian dan mengaduk-ngaduk perasaan kita secara paksa.
Oleh karena itu, mendengarkan dunia secara apa adanya terasa seperti detoksifikasi mental. Saat menyimak suara angin, deburan ombak, atau sekadar sunyinya kabut, tidak ada lagi pihak luar yang berusaha mendikte perasaan kita.
Pada momen tersebut, kita berhenti menjadi penonton yang pasif menerima konten, dan mulai menjadi saksi atas kehidupan yang sedang berjalan. Rasanya jauh lebih tenang karena kita tidak lagi terjebak dalam suara yang dipoles, melainkan benar-benar mendengarkan hidup apa adanya.
"Patience, patience, patience, is what the sea teaches. Patience and faith. One should lie empty, open, choiceless as a beach, waiting for a gift from the sea."
Anne Morrow Lindbergh, Gift from the Sea
















