Upgrading diri = Upgrading jodoh
Kita tau, seorang anak kecil ketika ia dijanjikan sesuatu oleh ibunya ia akan menghabiskan semua energinya untuk mencari tahu apa yang akan diberi dan bagaimana caranya agar cepat diberikan.
Ketika seorang ibu menyembunyikan hadiah itu di suatu tempat, anak itu akan sibuk mencari ke semua sudut kemungkinan. Atau apabila masih ada di toko, ia akan sibuk memilih-milih dari rak satu ke rak yang lain. Sesekali ia akan menemukan benda yang ia anggap adalah hadiahnya. Ia akan membawanya ke ibunya lalu bertanya
"Apakah ini hadiahnya? Aku mohon ini saja hadiahnya, aku menyukainya".
Ia akan tetap bersikeras dengan apa yang ia temukan karena ia menyukainya, namun bagaimanapun juga ia tak jarang harus menerima kenyataan bahwa tak semua yang ia sukai adalah hadiah yang ibu itu sembunyikan,
"bukan ini nak, bukan ini hadiahnya".
Saat itulah sering kali seorang anak akan kecewa berlebih dan sakit hati karena ia tak lagi fokus pada hadiahnya. Ia menginginkan apa yang ia temukan menjadi hadiahnya karena ia menyukainya. Ia betul-betul ingin memilikinya.
Ketika Allah sudah berfirman;
"Jodoh ada ditangan-Ku",
mengapa kita masih sibuk menghabiskan energi untuk mencarinya ke penjuru tempat dan sesekali membawa seseorang yang kita anggap adalah hadiah-Nya ke dalam do'a kita;
"Ya Allah, aku mohon dia saja hadiahnya, aku menyukainya."
Lalu ketika Allah berkata "Bukan," kita mau apa?
Bukankah ia sudah ada ditangan-Nya? Disembunyikan di suatu tempat yang aman. Mengapa kita sibuk untuk menebak?
Yang perlu kita lakukan hanyalah tawakal, berpasrah dan ikhtiar.
Ikhtiar ini,
bisa dilakukan dengan cara "layaknya" mengambil hati seorang ibu agar lekas dan memberi yang terbaik untuk kita.
Caranya,
bangunlah kualitas diri, naikanlah nilai raportmu, bantulah ibu sesering mungkin, bersikaplah dengan baik. Saat itulah ibu akan "menyesuaikan" hadiah yang sedang ia sembunyikan.
Bukan tidak mungkin ibu akan "meng-upgrade" hadiahnya agar sesuai dan pantas untuk anaknya. Ketika kita mendapatkan ranking 4, mungkin rencananya kita diberikan sepatu, di ranking 2 diberikan meja belajar, tapi karena kita ranking 1, bukan tidak mungkin ibu akan memberikan sepeda.
Berlaku pula ketika kita ingin jodoh kita "di-upgrade" oleh Allah sembari kita sibuk pula dengan "meng-upgrade" diri kita.
Jadi, mengapa sibuk mencari dan membawa satu persatu ia yang belum tentu hadiah untuk kita. Bukankah kita bisa melakukan keajaiban, yaitu merubah apa yang ada di genggaman Allah tanpa kita melihat ataupun menyentuhnya. Yaitu dengan merubah diri kita sendiri dulu.
--- Kala Lail















