Bukan 'Tuk Menunggu
"Kamu mau serius sama aku?" Anye mengubah posisi duduknya.
"Mau jadi suamiku nanti? Kamu mau aku nungguin kamu selesai kuliah dulu?" Anye terbahak singkat, terputus pertanyaan Lingga.
"Memang kenapa? Kamu nggak mau?"
Anye langsung menggeleng.
"Rugilah nungguin kamu. Kenapa nggak sekarang aja jadi suamiku?"
Lingga tertawa mendengar Anye. Ia yakin, Anye melucu seperti biasanya.
"Kamu siap memangnya?" tanya Lingga.
"Kamu siap sekarang nggak?" Khas Anye, ia pintar sekali memposisikan seseorang lewat kalimat. "Kalau kamu siap jadi suamiku, imamku nanti, ya aku siap. Kan tinggal ngekorin kamu."
Lingga menatap Anye. Kolam di luar kafe ini memantulkan cahaya bulan, menjadi latar yang indah sekali bagi Anye.
"Pertanyaanku yang pertama gimana, Nye? Kamu mau ya?"
Anye menggeleng. "No. Apa jaminannya buat aku yang mesti nungguin kamu selama kuliah?"
"I've promised."
Anye melenguh. "Artis cantik papan atas aja, bisa gagal menikah padahal sudah lamaran. Apalagi aku yang bukan artis."
"Ngga, sorry aku nggak bisa kalau untuk menunggu. Kamu bisa cari yang lain untuk menunggumu. Karena aku nggak bisa nungguin kamu, banyak hal yang bisa terjadi setelah ini."
"Tapi Nye, selama ini kita...."
"Makasih ya, buat makan malamnya."
Anye berjalan pelan menjauhi Lingga. Hak sepatunya melekat di lantai kayu kafe satu persatu. Lantai kayu itu menjadi saksi jatuhnya butiran air mata Anye.
Mengapa memintaku menunggu, Ngga.








