Hari itu seperti biasa kami mulai lingkaran dengan tasmi’ bergilir, QS At Tahrim halaman 2 kemudian dilanjutkan susunan acara lainnya hingga sampai pada pembacaan berita yang telah dijadwal dan ditentukan dalam 5 kategori seperti biasanya, yaitu dunia Islam, politik, kesehatan, pendidikan, dan umum.
Perlu diketahui bahwa pembacaan berita ini bukan hanya ‘mambaca’, tapi ada tanggapan berupa analisis, solusi, hasil pemikiran dsb. yang tujuannya bukan hanya untuk up date informasi atau kejadian terbaru, tapi juga untuk melatih kepekaan terhadap apa-apa yang sedang terjadi dan mengasah daya analisis kita sebagai seorang muslimah (ea gaya banget gue, haha)
Pada intinya di hari itu pembahasan untuk berita sangat panjang dan lama, pusing, pening! tiba-tiba lapar...
Jadi Tamu di Rumah Sendiri
Diawali dengan berita yang kebanyakan berhubungan dengan kondisi Indonesia yang sedang dalam kondisi ‘dijajah perlahan-lahan’. Berbondong-bondongnya warga Tiongkok ke Indonesia dan sesukanya menggunakan bahasa mandarin, dI Indonesia!!! Banyak yang sudah belajar Bahasa Jawa, bahkan berdasarkan info dari salah satu teman bahwa di Medan banyak toko-toko yang pemiliknya adalah warga Tiongkok dan tidak akan dilayani jika tidak menggunakan Bahasa Mandarin, itu di Indonesia, iya Indonesia, miris! Berdasarkan keterangan murabbiku juga, bahwa saat beliau perjalanan ke Lampung dan Medan beberapa waktu lalu, pesawat yang ditumpanginya sebagian besar diisi keluarga-keluarga Tiongkok.
Belum lagi mereka yang menjadi pekerja di Indonesia malah mendapatkan penghasilan lebih banyak dibanding warga aseli Indonesia, dan berita-berita lain yang menunjukkan adanya usaha menjajah Indonesia secara perlahan-lahan dari bidang pertanian, makanan, ekonomi, dsb.
Yap, kita sedang berada pada kondisi dimana minoritas mampu mengusai mayoritas. Hal ini sudah ada buktinya, bukan? Konflik Suriah. Na’udzubillah
Sejak dulu, murabbiku berpesan pada kami untuk selalu menyempatkan diri, menyisipkan do’a-do’a terbaik untuk Indonesia, untuk para pemimpinnya, ulama dan kiyainya, warganya, dan tanahnya. Agar Indonesia menjadi bangsa yang Thoyyibatun wa Robbun Ghafur. Karena bukan hal baru lagi ketika beliau membicarakan kondisi Indonesia yang sedang dikusai bangsa lain. Tambang, minyak, sumber daya alam lainnya.
Awalnya, kami tidak begitu peduli dan menanggapai serius tentang pesan beliau untuk selalu menyisipkan do’a. Ya, karena mungkin belum merasakan dan melihat secara dekat penguasaan tersebut (jauh bro, di Papua atau Kalimantan).
Setelah begitu lama diskusi kami berjalan, akhirnya kamipun bingung solusi apa yang bisa berdampak langsung dan cepat dengan semua kondisi yang ada selain dengan do’a. Banyak usulan yang disampaikan.
Diskusi kami melebar tentang media, profesi, hingga Tembalang yang warung-warungnya sudah disponsori rokok dan bir, belum lagi kontrakan dan kostnya, mahasiswanya.
Ini tulisan curhatan, belum banyak analisis dan data-data yang mendukung. Semoga bisa dilanjut lain waktu. Kalo kamu mikir apa tentang Indonesia? Ada usulan solusi?