menjadi anak kecil dan kekanakan adalah salah satu jalan untuk menyembunyikan segala kerumitan masalah saat beranjak dewasa
27 Juli 2107


#dc#batman#dc comics#bruce wayne#dc fanart#dick grayson#tim drake#batfam#batfamily

seen from Canada
seen from Canada
seen from China
seen from United States
seen from India
seen from China

seen from United States

seen from Lithuania
seen from China
seen from United States
seen from Germany

seen from Hong Kong SAR China
seen from United States

seen from Australia
seen from Russia
seen from China

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Türkiye
seen from Spain
menjadi anak kecil dan kekanakan adalah salah satu jalan untuk menyembunyikan segala kerumitan masalah saat beranjak dewasa
27 Juli 2107
lagu tersebut berjudul “Lelatunipun” yang berarti api-api kecil karya cipta dari rara sekar. Judul lagu tersebut menjadi insipirasi nama dari akun tumblr saya. Tidak lain dan tidak bukan dari nama tersebut terdapat banyak harapan saya, salah satunya diusia saya yang baru saja menginjak 20 tahun ini saya dapat menjadi pelita saat gelap, dan seperti api-api kecil yang selalu rela terbakar sendiri ditengah gelap.
27 Juli 2017
Aku benci menjadi dewasa, karena akan semakin banyak topeng yang akan ku gunakan untuk menutupi kecewaku, takutku, dan segala tangisku. aku juga benci menjadi dewasa karena mau tidak mau akan semakin banyak beban yang harus ku tanggung . . . ::duapuluhtujuhJuli2017
Dhruva
Tentang Lelaki Peramal dan Api-api Kecil di Dada Saya
Belakangan ini ada banyak hal yang mengganggu kepala saya. Selain persoalan ingin lekas mengakhiri hidup sebab terlalu kecewa, di sisi lain Tuhan mengajak saya berkenalan dengan seorang lelaki. Sebut saja sebuah kebetulan yang disengaja semesta. Dipungkiri atau tidak, ada sesuatu di antara kami. Sesuatu yang ingin saya ingkari, tetapi juga tidak hendak saya tolak. Lelaki ini menyebut dirinya peramal. Kehadirannya selalu memantikkan api-api kecil dalam hati saya. Setelah sebelumnya padam begitu saja dalam waktu yang cukup lama. Mengobrol dengannya menjadi candu tersendiri bagi saya. Godaaan untuk melakukannya jauh lebih mudah kuturuti dibanding mengabaikannya. Kepadanya, saya berani membuka semua topeng sialan yang selama ini menutupi wajah asli saya. Kepadanya, saya menjadi sebenar-benarnya saya. Silakan kutuk saya yang terlalu murahan kepadanya. Saya akui, ia serupa virus yang dengan cepat menginfeksi saya. Sepertinya Tuhan sengaja mengirim ia untuk menemani keterpurukan saya. Saya tahu, itu terdengar egois, tapi bolehlah saya menghibur diri saya sendiri. Ia sedikit banyak bicara. Pendengar yang baik. Dan tukang ceramah paling tidak solutif. Meski harus saya akui -lagi-, ia bisa membuat saya menyesal karena sempat berpikiran untuk menyelesaikan hidup. Bagaimana tidak? Ia sanggup membuka mata saya, bahwa banyak kemungkinan buruk untuk diri saya sendiri yang akan terjadi kalau saya mati. Ya, saya yang pandir ini ingin sekali mati kala itu. Sejauh ini, diam-diam saya berharap meski tidak terlalu berani menyuarakan harapan saya, setidaknya saya menyelipkannya dalam doa saya, dan membawanya ke dalam mimpi. Saya berharap lelaki ini akan menemani saya. Menjadi teman paling baik untuk saya. Saya sadar, saya tak akan lagi congkak untuk berkata, "saya bisa melakukan semuanya sendirian," padahal selalu ada saat di mana saya begitu membutuhkan kehadiran orang lain. Ya, saya membutuhkannya untuk menjaga saya tetap waras dan berjalan sesuai dengan koridor saya. Namun, di sisi lain juga, saya masih ragu. Mungkinkah ia mau menemani saya? Mungkinkah ia siap dengan seluruh kondisi saya? Karena saya sudah tahu, apa saja yang akan saya hadapi di depan. Jalan berliku yang tidak mulus. Banyak rintangan yang akan membuat saya terengah-engah naik turun melewatinya. Dan saya berharap ia yang menggenggam tangan saya. Hehe. Saya kembali menjadi perempuan yang tidak tahu diri dengan berbagai harapan saya. Ia mengembalikan sisi lain saya yang begitu percaya pada harapan dan Tuhan. Lalu, bagaimana saya bisa menolak kehadirannya? © intanrahayu | Tirtoasri, 29122016