Ribuan hari lalu sore itu, kita duduk menikmati hilir mudik manusia dan kendaraan yang terus bergerak. Sepatu usang yang masih nyaman dipakai, semilir angin ibukota, suara bising jalanan, cara kedua mata itu menatapku, semua masih terekam jelas.
Ribuan hari telah kita jalani bersama. Banyak hari terisi dengan tawa, dengan percakapan mendalam maupun ringan. Meski ada hari yang terisi dengan pertengkaran kecil yang cepat reda, dengan air mata yang sebagian besar adalah dampak hormon. Lalu kita berdamai karena pelukan hangat menjelang tidur, karena masih saling percaya.
Masih ada puluhan ribu hari yang menanti untuk kita pelajari bersama.














