Perempuan dengan Selaksa Tabah di Dadanya
Menulis tentangnya, saya berulang kali menarik napas berat. Ribuan jarum halus terasa menyapu jantung saya mengingat semua liku hidupnya. Adalah ia, seorang perempuan dengan ketabahan luar biasa yang tak pernah berkesudahan. Seorang perempuan yang menjadi jalan Tuhan mengantarkan saya menemui kehidupan. Ialah Bunda, dengan segala lakon yang semesta ciptakan. Ijinkan saya menceritakan bagaimana hidup menempanya sedemikian rupa menjadi perempuan yang memiliki selaksa tabah dalam dadanya, yang hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia merawat luka dalam himpunan tabah yang tidak berkesudahan. Semoga ini meringankan beban hati saya. Sebelumnya ia adalah perempuan kedua pun terakhir dalam jajaran saudaranya, di mana jauh sebelum ia lahir, bapanya telah memenuhi panggilahn takdir. Sekian waktu hidup mengikuti ibunya, menikahlah ia dengan seorang lelaki pendiam yang entah bagaimana begitu diam yang begitu sangat hingga selalu menurut dengan segala aturan yang dibuat saudara. Di mana pada akhirnya mereka berpisah karena terlalu diamnya lelaki yang menikahinya tersebut. Pernikahan mereka menghadirkan gadis kecil yang lahir bersama hujan Januari di tahun ’98 silam. Sampai menjelang tujuh bulan umur gadis kecilnya, perpisahan mereka terjadi. Beberapa tahun berlalu, si perempuan tersebut dinikahi oleh lelaki yang pernah beristri dengan dua orang anak. Sayang, Tuhan masih ingin menempanya melalui lelaki yang dinikahinya. Tunggu sebentar! Kurang ajarkah bila kutuliskan di sini? Baiklah, biar kutarik garis besarnya saja. Jadi, lelaki baru yang menikahinya tersebut adalah lelaki dengan watak yang serupa permukaan kayu yang diserut dengan serutan tumpul. Coba kalian rasakan seperti apa! Sejak pertama kali lelaki tersebut menggarit luka pada hati si perempuan, entah sudah berapa ton garam yang ia taburkan setiap waktunya. Si gadis kecil miliknya tak luput dari segala macam umpatan dari mulut lelaki yang (harus) diakuinya sebagai ayah. Si gadis pernah menyimpan dendam. Hingga dua belas tahun berjalan, lagi-lagi si lelaki belum puas menikam hati perempuan ibu si gadis. Raib sudah segala percaya yang pernah perempuan tersebut tanam. Ibarat kertas diremas, tak lagi kembali halus meski gosokan setrika menekannya berulang kali. Si gadis puas, lelaki pemberi luka di hati ibunya telah enyah dari hidupnya. Di sisi lain, hatinya pedih bukan main. Perempuan –ibunya- menangis dalam diam. Satu tahun berlalu. Segala penyesalan dilontarkan lelaki tersebut. Meminta dengan sangat segala maaf agar diampuni. Lagi-lagi, sebagai perempuan ia banyak mengalami dilema. Iya, begitulah takdirnya sebagai wanita. Dilema. Di sebuah sisi, ia ingin pergi meninggalkan. Tapi hidup dan lelaki kecilnya menolak keadaan, menyatakan dnegan tegas bahwa ia harus bertahan. Sedang sebuah sisi lain mengatakan, ia telah lelah dengan segala sakit. Ia ingin bahagia, duduk membersamai ibunya. Hingga sebuah pilihan telak ia putuskan, menjauh dari keluarga yang tidak lagi menerima keadaan lelakinya dan hidup bersamanya. Berusaha melupakan luka, meski tak sepenuhnya memaafkan. Entah bagaimana Tuhan mengajarinya merawat luka, ia begitu tabah. Diam tanpa banyak mengumpat. Sungguh, bisakah dia diberi sedikit tawa? Aku begitu merindukannya. © intanrahayu | Sumbersari, 28042015







