Kearifan Lokal Dan Naturalistik Alak Paul
ALAK PAUL: MENGHIDUPKAN PERIBAHASA SEBUAH KARYA SINEMA
Mungkin sebagian orang masih asing mendengar peribahasa sunda “Alak Paul”. Kalau saya pernah mendengar peribahasa ini, namun saya lupa lagi artinya. Setelah saya berselancar di mbah Google, peribahasa “Alak Paul” ini memiliki arti sebuah tempat yang terbayang sangat jauh dan sulit untuk ditempuh oleh manusia. Kali ini, saya akan membahas dan mengkritik suatu karya film pendek yang menggunakan peribahasa “Alak Paul”.
Peribahasa Alak Paul ini dijadikan sebuah karya fiksi cerpen yang berjudul “Alak Paul” karya Ari Kpin, sang maestro asal Garut yang sangat inspiratif. Cerpen “Alak Paul” terdapat dalam buku kumpulan cerpen yang berjudul “Parbung Lalakon” atau “Paribasa nyambung” yang tentunya karya Ari Kpin. Buku ini merupakan kumpulan cerpen yang menjadikan peribahasa sebagai ide utama dari ceritanya. Kreatif banget kan? Sayangnya, buku ini belum diterbitkan, sehingga cerpen “Alak Paul” dan juga cerpen-cerpen lain karya Ari Kpin pada buku ini belum tersebar luas.
Sebelum membahas lebih lanjut, saya akan memberikan seutas deskripsi singkat Ari Kpin supaya kalian lebih mengenal dengan seniman asal Garut ini. Nama aslinya adalah Yari Jomantara atau yang lebih dikenal dengan Ari Kpin adalah seorang musisi, penulis buku, komposer, dan penggiat seni. Beliau merupakan lulusan dari IKIP Bandung (sekarang UPI) jurusan sendratasik. Beliau menggeluti dunia musik, teater, dan sastra. Di bidang musik, beliau telah menghasilkan banyak karya diantaranya seperti ilustrasi musik teater, ilustrasi musik tari, dan aransemen paduan suara. Salah satu hasil ciptaannya adalah Mars dan Hymne Politeknik Negeri Bandung. Ari Kpin pernah menjadi salah seorang sastrawan yang diundang ke dalam program Sastrawan Bicara Siswa Bertanya (Program Kemendikbud RI) dan pernah pula menjadi instruktur pelatihan-pelatihan sastra di berbagai kota salah satunya pada diklat Membaca Menulis dan Apresiasi Sastra (MMAS) yang diikuti guru-guru pada tingkat nasional. Dalam perpaduan di bidang musik dan sastra, beliau sudah menghasilkan karya beberapa musikalisasi puisi yang sudah terkenal di Indonesia. Karya-karya seninya dapat dilihat di channel youtubenya “Ari Kpin”. Sampai beliau juga sudah menulis buku yang berjudul Musikalisasi Puisi (Tuntunan dan Pembelajaran) dan buku kumpulan puisi karyanya yang berjudul Iaku. Dalam bidang pendidikan pun, Ari Kpin sering menjadi dosen tamu di Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI, PGDS FIP UPI, IKIP Siliwangi Bandung, dan di STIKOM Bandung. Sekarang ia sudah mempunyai sanggar seni yang bernama Sanggar Ari Kpin di Bandung yang memuat dan membina siswa atau mahasiswa, serta masyarakat yang ingin bergiat di dunia seni dan sastra.
Balik lagi membahas “Alak Paul”. Film pendek “Alak Paul” disutradarai oleh Ari Kpin. Produser film “Alak Paul” yaitu Wa Ratno dan para stafnya berasal dari produksi Jamuga Cinema. Aktor-aktornya diambil langsung dari warga Sukamurni Kabupaten Garut. Nama-nama warga Sukamurni yang berperan dalam film “Alak Paul” diantaranya adalah Oky Lasminingrat (Ceu Empat), Diana Ratna Inten (Ceu Nining), Lenny Noviani (Ambu), Abah Zaenal (Abah), Qiyan Ayuni Mustari (Asih), Shela Salpa (Euis), Dado Bima (Bojeg Borejeg), Wa Ratno (Juragan Jarot), Apung S. Lukman (Kartaji), dan Rian (Darman).
Film pendek “Alak Paul” menceritakan tentang seorang gadis desa yang bernama Euis dijodohkan oleh orangtuanya kepada seorang juragan yang kaya di desanya yang bernama Juragan Jarot. Sinopsisnya diawali dari Juragan Jarot yang naksir kepada Euis, gadis di desa Sukamurni yang belum menikah. Orangtua Euis setuju menjodohkan Euis dengan Juragan Jarot karena disamping kebutuhan material Euis otomatis terpenuhi, orangtua Euis ingin segera punya menantu seperti teman-teman Euis yang seumuran dengannya sudah pada menikah. Ketika sedang menunggu Juragan Jarot dan warganya yang membawa hantaran sedang di perjalanan untuk melamar ke rumah Euis, Euis hanya bisa diam saja di kamarnya dan terus menangis. Seorang begal yang terkenal ganas di desa Sukamurni, yaitu Bojeg Borejeg, tiba-tiba menghadang Juragan Jarot di perjalanan menuju rumah Euis. Bojeg diberi tahu oleh anak buahnya bahwa Juragan Jarot sedang membawa hantaran yang banyak. Disamping itu, Euis menyuruh adiknya, Asih, untuk memanggil Kartadji yang terkenal sebagai pemuda baik dan ramah di Desa Sukamurni untuk menghampiri Euis. Sesampainya Kang Kartadji dan bertemu dengan Euis, Euis merasa sedih dan kebingungan apa yang harus dilakukan olehnya karena sebentar lagi akan dilamar oleh Juragan Jarot. Akhirnya, Kartadji membawa kabur Euis dari rumahnya dan pergi sejauh-jauhnya. Orang tua Euis, Juragan Jarot, dan Bojeg Borejeg mengejar Euis dan Kartadji. Di tepi sungai, orang tua Euis dan adiknya hanya bisa menangis melihat kepergian Euis yang dibawa oleh Kartadji kabur walau sampai alak paul. Film ini diakhiri dengan adegan Bojeg yang masih bisa menghadang Juragan Jarot di tepi sungai, sampai akhirnya Juragan Jarot tercebur dan terseret arus sungai.
Dalam film ini terdapat nilai-nilai sosial dan moral dari hubungan orang tua dan anak, maupun antarsesama di lingkungan masyarakat, sehingga dapat diambil dua representasi sosial sebagai tiruan kehidupan dari film pendek “Alak Paul”' ini. Pertama adalah penjodohan anak oleh orang tua. Di beberapa daerah di Indonesia mungkin terdapat keluarga yang masih melakukan penjodohan terhadap anaknya. Biasanya, orang tua yang menjodohkan anaknya dilatarbelakangi karena faktor ekonomi yang kurang. Pada film “Alak Paul”, fenomena penjodohan anak terjadi pada tokoh Euis. Orang tua Euis terpaksa menjodohkan Euis dengan juragan Jarot yang terkenal sangat kaya di desanya. Alasannya karena orang tua Euis yang ingin segera mempunyai menantu dan merasa malu karena teman-teman seumuran Euis di desanya sudah pada menikah. Walaupun tujuan orang tua Euis ingin membahagiakan Euis jikalau menikah dengan juragan Jarot tidak akan hidup miskin lagi seperti kedua orang tuanya, namun tetap saja penjodohan dengan maksud memperbaiki nasib bukan lagi solusi yang baik apalagi di zaman modern seperti sekarang.
Representasi sosial yang kedua, ada budaya hantaran jika ingin melamar/menikah yang masih dilakukan juga di zaman modern. Budaya hantaran ini masih dipakai oleh masyarakat Indonesia sekaligus menjadi kearifan lokal dan simbol ketika mau ada lamaran atau pernikahan. Dalam film “Alak Paul”, budaya hantaran ini terlihat pada adegan ketika Juragan Jarot bersiap-siap pergi melamar Euis. Tetangga dan warga masyarakat yang tinggal di sekitar rumah Juragan Jarot membawa barang-barang berupa perhiasan, hidangan, dan lain-lain sebagai seserahan lamaran Juragan Jarot kepada Euis. Hantaran yang dibawa oleh Juragan Jarot diantaranya domba Garut, cemprus, beras, gepuk, ikan pindang, dan keripik dogar. Domba Garut dan beberapa hidangan hantaran ini menjadi kearifan lokal masyarakat Garut dalam melakukan hantaran lamaran/pernikahan.
Kalau dilihat dari sisi alur cerita, film “Alak Paul” punya alur yang cukup menarik, terlebih dibagian ending filmnya. Film ini dibawakan secara flashback, diawali dengan adegan dua orang ibu-ibu yang sedang mencuci di sungai lalu menceritakan sebuah kisah yang terjadi di Sukamurni. Meski alurnya terkesan klise, kisah seorang gadis yang dijodohkan dengan seorang juragan kaya, namun di akhir cerita memiliki makna tersendiri. Film ini diakhiri dengan adegan yang menyentuh hati, ketika orang tua Euis dan adiknya melihat Euis yang kabur bersama Kartadji pergi semakin menjauh. Mereka memanggil-manggil nama Euis dari batu besar di tepi sungai, menangis, dan berusaha merelakan Euis yang pergi. Makna peribahasa Alak Paul di film ini, ditampilkan dalam adegan Euis yang kabur bersama Kartadji dan pergi menjauh meninggalkan desanya sampai ke tempat yang tidak bisa dijangkau untuk menghindari lamaran dari Juragan Jarot.
Film “Alak Paul” ini direkam dengan menggunakan ponsel. Meski begitu, penggunaan ponsel dalam produksi film ini menjadi bentuk edukasi kepada masyarakat, bahwa berkarya tidak harus menggunakan peralatan yang mewah, berkarya dapat menggunakan sesuatu yang berada di sekitar kita, salah satunya menggunakan ponsel.
Proses syuting pun tidak menggunakan script skenario. Aktor pemain film “Alak Paul” hanya diberi pengarahan di awal sebelum proses syuting dimulai. Dilihat dari tampilan videonya, resolusi video kurang bagus dan jelas. Pengambilan gambar atau shoot angle nya juga kurang seimbang dan jelas; terkadang kamera zoom in secara tiba-tiba karena mungkin efek dari cameraman yang menggunakan ponsel dan tidak menggunakan alat bantu seperti tripod. Contohnya saja pada menit ke 14.26 yang seharusnya shoot angle berfokus pada tokoh Bojeg Borejeg yang sedang duduk di sebuah saung namun terhalang oleh tiang bambu. Pengambilan gambar latar juga kurang baik, karena terlalu kontras sehingga menimbulkan efek gelap pada gambar yang diambil. Transisi gambar yang dipakai pun terlalu berlebihan seperti pada menit 4.33, transisi ketika mulai cerita flashback. Transisi yang dipakai pada film ini juga cenderung kaku. Audio dari setiap suara yang dihasilkan dalam film ini juga tidak seimbang dan stabil. Terkadang terdengar suara aktor yang soundnya terlalu besar, bahkan terdapat suara aktor yang kurang terdengar soundnya ketika berdialog. Contohnya saja pada scene awal ketika dua orang ibu-ibu yang sedang mencuci pakaian di sungai dan berdialog, suara dialog yang dihasilkan oleh mereka kurang terdengar dan kurang diedit lagi agar dinaikan lagi suaranya karena dominan dengan suara arus sungai pada scene tersebut. Secara keseluruhan dari segi sinematografinya, film ini kurang baik. Color Grading dan angel shoot kurang begitu diperhatikan. Pada bagian scene credits saja, penggunaan ukuran font yang tidak beraturan dan memakai jenis font yang berbeda. Setelah tahap editing, yang berubah hanya penambahan subtitle dan meng cut bagian yang tidak gunakan saja.
Dari segi akting, aktor-aktor cukup memainkan perannya dengan baik. Meskipun ini tanpa membaca naskah terlebih dahulu, aktor-aktornya berhasil membuat alur film ini selesai. Logat sunda, bahasa sunda lemes, dan pakaian kebaya dan pangsi yang dipakai oleh pemainnya menjadi unsur naturalistik dalam film “Alak Paul”. Saya bangga kepada warga Sukamurni yang ikut menjadi peran dalam film ini, apalagi syuting tanpa membaca naskahnya terlebih dahulu. Meski terkesan agak kaku dilihatnya, dan ekspresi yang dilakukan kurang maksimal, hal itu menjadi kekurangan dalam segi akting dan karakterisasi. Film “Alak Paul” ini dapat menghibur penonton dan membuat penonton mengerti dengan jalan ceritanya.
Saya harap, film ini bisa diperbaiki ulang dan harus dikembangkan. Salah satunya unsur editing yang sangat penting sehingga penonton juga puas untuk menilai dan mengapresiasinya. Film “Alak Paul” ini harus dikembangkan, karena mengambil ide dari peribahasa, sehingga film selain sebagai hiburan juga, dapat dijadikan sebagai media edukasi bagi masyarakat untuk menambah pengetahuan peribahasa lewat media film. Jaya selalu film Indonesia!











