Tentang Nama
Kupikir, setiap nama adalah doa, sehingga setiap orangtua yang memberi nama anaknya dengan suatu makna, punya harap dan doa terbaik. Bukankah manusia diperintahkan untuk berdoa dan berharap yang paling baik? Seharusnya tidak pernah ada celotehan "arti namanya ketinggian", atau "berat banget ya arti namamu", atau misalnya "kamu nggak 'kabotan' kah sama nama itu". Biasanya kalo tradisi orang Jawa masa lampau, yang dikaitkan dengan takhayyul tertentu, gak lama kemudian setelah kejadian itu, si bapak lalu menyelamati anaknya dalam rangka ganti nama, "biar anak ini nanti rejekinya jadi lancar dan dijauhkan dari hal-hal buruk". Yah, lagi-lagi kepercayaan. Sementara kita tahu, kepercayaan seorang muslim terhadap mahluk, nggak boleh lebih dari kepercayaannya pada Allah dan RasulNya.
Kupikir, tidak ada yang salah dari sebuah nama. Beberapa orang yang mengeja namaku, lantas tahu artinya mereka berkomentar hal serupa. Sedih rasanya ketika doa terbaik dari orangtuaku dinilai terlalu berlebihan oleh orang lain yang bahkan lahirnya tidak lebih lama dari ayah ibuku. Menyadari bahwa ayah dan ibu dahulu tidak pandai bahasa arab sehingga ada kaidah nahwu shorof yang tidak tepat di namaku memang adalah kekurangan yang kusetujui. Tapi, bukankah kita tidak pernah bisa memilih takdir? Dan itu semua tidak akan dihisab?
Selanjutnya, masih banyak pertanyaan mengapa harus aku yang menjadi pemegang nama ini. Padahal katanya, orang yang punya nama itu kebanyakan sesuai pribadinya sama yang punya nama (Eh iya deng kebanyakan brrti gak semua ya). Hari ini mungkin harapan keduanya (read: bapak dan ibu) mungkin belum mewujud pada saya, tapi saya berharap dan yakin kelak saya bisa betul-betul mengimplementasikan apa yang jadi doa keduanya. Itulah mengapa saya menulis "being Ulinnuha Khoirunnisa"
Di berkah hari Arafah ini, sesuai dengan hari lahir dan identitas terakhir nama, semoga Allah karuniakan keberkahan hari Arofah pada saya dan masa depan kaum muslimin seluruh dunia.
9 Dzulhijjah 1445 H
June, 15. 2024












