Kj by Ashley

seen from Brazil

seen from Malaysia
seen from Türkiye

seen from Canada
seen from China

seen from Germany
seen from China

seen from Malaysia
seen from Jamaica

seen from Sweden
seen from United States

seen from United States

seen from Poland
seen from United States

seen from Türkiye
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Venezuela
seen from Türkiye
Kj by Ashley
It’s a real friendship
#riverdale #josiemccoy #ashleymurray #jugheadjones #colesprouse #veronicalodge #camilamendes #fredandrews #lukeperry #bettycooper #lilireinhart #archieandrews #kjapa #cherylblossom #madelainepetsch
#riverdale #josiemccoy #josieandthepussycats #josie #mccoy #ashleymurray #ashley #murray #teenvogue
4. Gosip Ringan
Molly mengeluhkan harga parkir yang kemahalan dari balik kemudi ketika mobil bergerak meninggalkan gedung bioskop. Begitupula dengan popcorn yang terasa seperti kasur tidur dan tisu toilet yang habis serta makanan yang tampilannya tidak selezat dan sebesar yang ada di menu. Kalau dipikir-pikir Molly memang suka mengeluhkan segala hal, sehingga teman-temannya tidak terlalu serius menanggapi.
“Aku serius,” Molly memprotes karena tidak ditanggapi dengan serius.
“Siapa bilang tidak?” goda Cassie.
Bibir Molly mengerucut karena sebal.
“Lain kali, jangan nonton di sana lagi ya,” Dana mengingatkan dari jok belakang.
Cassie mengacak-acak rambut Molly, gemas, “Sudahlah. Tidak usah disesali.”
“Untung, filmnya bagus,” ujar Molly sewot. “Kita langsung pulang atau mampir ke tempat biasa?”
“Aku pasti ke tempat Jess dulu. Kalian?” Cassie balik bertanya.
“Aku ikut,” kata Dana.
“Oh, ya,” Molly teringat sesuatu, “Jess dan Ashley masih akrab tidak sih?”
“Ashley Morris?” Cassie bertanya memastikan. “Tidak terlalu sejak Insiden Sean.”
Molly menimpali ketika berbelok di persimpangan jalan, “Kalau aku jadi Sean, aku tidak akan tega memacari teman mantan pacar.”
Dana merespon, ”Hey.”
“Aku benar, kan?” respon Molly datar.
Senyum Cassie memudar. Tanpa mereka tahu, ia juga pernah patah hati karena Sean. Lelaki seperti Sean memang berbahaya. Perhatian dan kebaikan yang pernah ditawarkan pria itu pada dirinya semata-mata hanya untuk menarik simpatik Jess. “Mungkin, laki-laki seperti itu memang harus diwaspadai,” ujarnya penuh arti.
Molly menyerigai, “Kalau dipikir-pikir Sean seperti Samantha. Kalau mereka saling mengenal, mereka pasti berpacaran sekarang.”
“Kenapa dengan Samantha?” tanya Dana.
“Kenapa? Apa namanya kalau bukan jalang setelah dia terang-terangan merebut Romeo-nya Ohio State University dari Gladys, lalu, mencampakannya setelah menemukan Romeo yang baru dari UPenn?”
Dana memekik, “Kau dengar darimana?”
“Yaampun, itu sudah menyebar tahu,” Molly menatap Dana keheranan dari kaca spion.
“Menyebar seperti virus,” cibir Cassie. “Kau ketinggalan gosip selama sakit.”
Dana bersemangat. “Ada lagi?”
Cassie mengibaskan tangan, “Ya, begitulah. Bukan hal penting,” ujarnya.
“Banyak,” balas Molly.
Cassie menggeleng-gelengkan kepala, “Yaampun, teman mainmu siapa sih kalau sedang tidak bersama kami?”
Molly berpikir, “Entahlah. Pokoknya entah bagaimana tiba-tiba aku sudah tahu lebih dulu saja. Kayaknya, karena keseringan nongkrong dengan anak teater.”
“Dengan Beatrice Eastwood,” gumam Cassie datar.
“Benar,” Molly membenarkan.
“Beatrice anggota baseball juga, kan?” Dana bertanya.
“Dia cuma cadangan,” jelas Molly yang tahu banyak sekali tentang hal-hal yang tidak penting. Terkadang Cassie suka bingung memikirkan bagaimana Molly mengumpulkan semua informasi dari berbagai kalangan yang berbeda. Mungkin didukung karakternya yang supel dan keseringan bermuka tebal, “Beatrice latihan kalau diperlukan saja, tapi di teater dia aktif sekali. Di klub baseball cuma iseng.”
“Oh,” respon Cassie tidak tertarik. Setiap pembicaraan yang terkait dengan baseball, membuatnya lebih sensitf sebab Sean dulunya seorang kapten baseball di UPenn. Dari sanalah perjumpaan pertama mereka berawal, “Kedai-kedai sudah mulai ramai ya,” komentarnya ketika mobil memasuki wiliayah Zanesville.
“Makin banyak kedai-kedai dibangun,” Molly juga mengomentari pemandangan di sepanjang Adair Avenue yang ramai. “Kalau begini, Paneera’s bisa kelewat,” ia memajukan badannya lebih depan dari kemudi, menelurusi kedai satu per satu.
“Dua ratusan meter lagi,” Cassie memandu di depan.
Dana menunjuk ketika mereka sudah lebih dekat, “Itu dia.”
“Parkirnya penuh,” keluh Molly.
“Parkir di belakang saja. Parkir khusus karyawan,” saran Cassie.
Molly mengarahkan mobil ke belakang bangunan sesuai petunjuk Cassie, “Sudah sampai.”
� y�➷�t